Nadia diadili untuk semua kejahatannya: perselingkuhan, pemalsuan kehamilan, percobaan pembunuhan, penculikan, dan ancaman pembunuhan. Ia tidak bisa berbohong lagi. Ia tidak bisa menghindar lagi. Ia tidak bisa kembali dari ini.
Arga dan Larasati bersaksi di pengadilan, dengan kebenaran yang tidak bisa disangkal, dengan bukti yang tidak bisa dibantah. Mereka tidak berbohong. Mereka tidak memanipulasi. Mereka hanya menceritakan kebenaran yang sebenarnya.
Nadia tidak berkata apa-apa di pengadilan. Ia tidak membela dirinya. Ia tidak meminta maaf. Ia hanya duduk di sana dengan wajah yang kosong, dengan tatapan yang hancur, dengan kebenaran yang tidak bisa disangkal lagi.
Hakim membacakan hukuman untuk Nadia: penjara selama lima belas tahun untuk semua kejahatannya. Lima belas tahun yang akan Nadia habiskan di penjara, jauh dari Arga, jauh dari Larasati, jauh dari kehidupan yang dulu ia coba hancurkan.
Arga dan Larasati tidak merayakan hukuman itu. Mereka tidak merasa bahagia. Mereka hanya merasa lega bahwa Nadia tidak akan bisa menghancurkan mereka lagi, bahwa Nadia tidak akan bisa mengancam keluarganya lagi, bahwa Nadia tidak akan bisa menyakiti mereka lagi.
Malam itu, Arga dan Larasati pulang ke mansion dengan Aisha di pelukan Larasati, dengan kelegaan yang tidak bisa disangkal, dengan kebenaran yang sudah terbukti.
'Aku tidak merasa bahagia dengan hukuman Nadia,' kata Arga pelan di dalam mobil. 'Aku tidak merasa bahagia bahwa Nadia akan menghabiskan lima belas tahun di penjara. Tapi aku merasa lega bahwa Nadia tidak akan bisa menghancurkan kita lagi.'
'Saya juga tidak merasa bahagia, Arga. Saya juga tidak merasa bahagia bahwa Nadia akan menghabiskan lima belas tahun di penjara. Tapi saya juga merasa lega bahwa Nadia tidak akan bisa menghancurkan kita lagi.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Kita tidak akan memikirkan Nadia lagi, Arga. Kita tidak akan memikirkan apa yang sudah terjadi lagi. Kita hanya akan memikirkan masa depan kita, keluarga kita, kehidupan kita.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya istrinya. Larasati juga mitra hidupnya, juga pendukungnya, juga orang yang akan selalu membantunya move on dari masa lalu.
'Aku tidak bisa move on dari masa lalu tanpamu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku tidak bisa melupakan apa yang sudah terjadi tanpamu. Aku tidak bisa menjadi pria yang lebih baik tanpamu.'
'Anda tidak perlu move on dari masa lalu sendirian, Arga. Anda tidak perlu melupakan apa yang sudah terjadi sendirian. Kita akan menghadapi semuanya bersama-sama.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Kita akan menghadapi semuanya bersama-sama, Arga. Seperti keluarga yang seharusnya.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya cantik, tidak hanya baik, tapi juga kuat, juga teguh, juga orang yang akan selalu ada untuknya.
'Aku mencintaimu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Saya juga mencintaimu, Arga,' kata Larasati, tersenyum tipis. 'Dan kita tidak akan memikirkan Nadia lagi. Kita tidak akan memikirkan apa yang sudah terjadi lagi. Kita hanya akan memikirkan masa depan kita, keluarga kita, kehidupan kita.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka sebagai keluarga, menikmati kelegaan yang tidak bisa disangkal, menikmati cinta yang sudah tumbuh di antara mereka.
Dan untuk pertama kalinya, Larasati merasa bahwa mereka tidak hanya bertahan. Mereka sudah move on. Mereka sudah melupakan masa lalu. Mereka sudah siap untuk masa depan yang bahagia.
Mereka sudah menjadi keluarga yang utuh. Dan itu sudah cukup.