Setelah penyelamatan Aisha, Arga dan Larasati tidak langsung merasa aman. Mereka tidak langsung merasa bahwa semuanya sudah berakhir. Mereka tidak langsung merasa bahwa Nadia dan Bara tidak akan mencoba lagi.
Mereka memperkuat keamanan di mansion, dengan pengawal yang berjaga setiap saat, dengan sistem keamanan yang lebih canggih, dengan perawat yang selalu ada di samping Aisha. Arga tidak membiarkan Aisha keluar dari pandangannya. Ia tidak membiarkan Larasati keluar dari pandangannya. Ia tidak membiarkan apa pun mengancam keluarganya lagi.
Larasati tidak keberatan dengan keamanan yang berlebihan itu. Ia tidak keberatan dengan Arga yang protektif. Ia hanya ingin Aisha selamat, ingin keluarganya selamat, ingin tidak ada yang mencoba menghancurkan mereka lagi.
Suatu malam, ketika Aisha tertidur di kamar bayi di lantai atas, Arga dan Larasati duduk di ruang tamu dengan teh hangat di tangan mereka, dengan keheningan yang penuh dengan kelegaan.
'Aku tidak bisa berhenti memikirkan apa yang hampir terjadi pada Aisha,' kata Arga pelan, suaranya hancur. 'Aku tidak bisa berhenti memikirkan apa yang hampir terjadi pada kalian berdua.'
'Kita tidak perlu memikirkannya lagi, Arga. Aisha selamat. Kami selamat. Kita tidak perlu memikirkan apa yang hampir terjadi lagi.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Kita hanya perlu memikirkan bahwa kita selamat, bahwa kita bersama-sama, bahwa kita tidak akan membiarkan Nadia dan Bara menghancurkan kita lagi.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya istrinya. Larasati juga mitra hidupnya, juga pendukungnya, juga orang yang akan selalu membantunya menghadapi apa pun.
'Aku tidak bisa melakukannya tanpamu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku tidak bisa menyelamatkan Aisha tanpamu. Aku tidak bisa menyelamatkan perusahaan tanpamu. Aku tidak bisa menjadi ayah yang baik tanpamu.'
'Anda bisa melakukannya tanpa saya, Arga. Anda bisa melakukan apa pun tanpa saya. Tapi Anda tidak harus melakukannya tanpa saya. Kita akan menghadapi semuanya bersama-sama.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Kita akan menghadapi semuanya bersama-sama, Arga. Seperti keluarga yang seharusnya.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya cantik, tidak hanya baik, tapi juga kuat, juga teguh, juga orang yang akan selalu ada untuknya.
'Aku mencintaimu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Saya juga mencintaimu, Arga,' kata Larasati, tersenyum tipis. 'Dan kita tidak akan membiarkan Nadia dan Bara menghancurkan kita lagi. Kita tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan kita lagi.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka sebagai keluarga, menikmati kelegaan yang tidak bisa disangkal, menikmati cinta yang sudah tumbuh di antara mereka.
Dan untuk pertama kalinya sejak penculikan itu, Larasati merasa bahwa mereka akan baik-baik saja. Bahwa mereka akan menjadi keluarga yang bahagia. Bahwa mereka akan tidak akan membiarkan Nadia dan Bara menghancurkan mereka lagi.
Mereka akan bertahan. Bersama-sama.