Mereka berakhir di sebuah kafe kecil di sudut kota, jauh dari pusat bisnis, jauh dari wartawan, jauh dari siapa pun yang mungkin mengenali mereka. Arga memilih meja di sudut, menghadap dinding, dan memesan dua cangkir kopi tanpa bertanya pada Larasati.
Larasati duduk di depannya, tangan di pangkuan, masih basah karena hujan yang mulai turun saat mereka berjalan ke kafe. Ia tidak tahu kenapa ia mengikuti pria ini. Ia tidak tahu apa yang diinginkan Arga darinya. Tapi ia tidak punya tempat lain untuk pergi, dan ia butuh jawaban.
Arga menatapnya dengan tatapan yang tajam, seperti sedang menilai sesuatu. 'Kau tahu siapa aku.'
'Ya,' jawab Larasati pelan. 'Anda mantan suami kakak saya.'
'Mantan suami yang baru saja dihancurkan oleh kakakmu dan sahabatnya sendiri.' Arga menyesap kopinya, matanya tidak lepas dari Larasati. 'Dan kau? Apa hubunganmu dengan Nadia?'
Larasati menunduk. 'Kami adik dan kakak tiri. Ayah kami sama, ibu kami berbeda. Tapi kami tidak dekat. Kami bahkan tidak bicara kecuali terpaksa.'
'Kenapa?'
Larasati mengangkat kepalanya, sedikit terkejut dengan pertanyaan langsung itu. 'Karena Nadia selalu meremehkan saya. Karena dia pikir dia lebih baik dari saya sejak kami kecil. Karena dia tidak pernah menganggap saya sebagai keluarga.'
Arga mengangguk pelan, seperti jawaban itu sesuai dengan yang ia harapkan. 'Dan sekarang kau kehilangan pekerjaan karena dia.'
'Ya.'
'Dan ibumu sakit. Butuh biaya operasi yang besar.'
Larasati membeku. 'Bagaimana Anda tahu?'
'Aku punya orang yang mencari tahu tentangmu.' Arga tidak tersenyum. 'Aku selalu mencari tahu tentang orang-orang di sekitarku.'
Larasati merasakan sesuatu yang tidak nyaman di dadanya. 'Anda mengawasi saya?'
'Aku mengawasi semua orang yang terkait dengan Nadia.' Arga menaruh cangkir kopinya dengan pelan. 'Tapi kau menarik. Kau berbeda dari kakakmu. Kau tidak seperti dia.'
Larasati tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya menatap pria di depannya, CEO yang baru saja kehilangan segalanya, dan merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres di sini.
Arga mencondongkan tubuh ke depan, suaranya lebih pelan sekarang, lebih intens. 'Aku punya tawaran untukmu, Larasati. Tawaran yang akan menyelesaikan semua masalahmu.'
'Tawaran apa?'
'Menikahlah denganku.'
Larasati merasa dunia berhenti. Ia menatap Arga, mencari tanda bahwa pria ini bercanda, tapi tidak ada. Wajah Arga serius, matanya gelap dan tidak berkedip.
'Anda... Anda tidak serius,' kata Larasati akhirnya, suaranya hampir berbisik.
'Aku sangat serius.' Arga menatapnya lurus. 'Pernikahan kontrak. Satu tahun. Kau menikahiku, menjadi istriku di depan publik, dan sebagai imbalan, aku akan membiayai seluruh biaya pengobatan ibumu. Semua. Operasi, perawatan, obat-obatan, apa pun yang dibutuhkan.'
Larasati tidak bisa bernapas. Ia menatap Arga seperti pria itu baru saja mengatakan sesuatu yang mustahil. 'Kenapa? Kenapa Anda ingin menikahi saya?'
'Karena kau adik tiri Nadia. Karena itu akan menghancurkan Nadia lebih dari apa pun. Karena itu akan membuatnya tahu bahwa aku tidak hanya melanjutkan hidup, tapi aku melanjutkan hidup dengan orang yang paling tidak ia inginkan.' Suara Arga dingin, penuh dengan dendam yang sudah mengeras. 'Dan karena aku butuh istri untuk menjaga citra perusahaanku. Investor tidak suka CEO yang bercerai dengan skandal. Mereka ingin stabilitas. Mereka ingin melihat bahwa aku sudah move on.'
Larasati menggeleng, tangannya gemetar di pangkuan. 'Ini gila. Ini tidak masuk akal. Anda tidak mencintai saya. Saya tidak mencintai Anda. Pernikahan bukan permainan.'
'Aku tidak memintamu mencintaiku. Aku hanya memintamu berperan sebagai istriku selama satu tahun. Setelah itu, kau bebas. Dan ibumu akan sehat.' Arga menatapnya dengan tatapan yang tidak memberikan ruang untuk penolakan. 'Kau tidak punya banyak pilihan, Larasati. Kau kehilangan pekerjaan. Ibumu sakit. Kau butuh uang. Dan aku menawarkan solusi untuk semuanya.'
Larasati berdiri, kursinya terdorong ke belakang dengan suara kasar. 'Saya tidak bisa. Saya tidak bisa menikahi seseorang hanya untuk uang. Itu... itu salah.'
Arga tidak berdiri. Ia hanya menatap Larasati dari bawah, tenang, seperti sudah tahu jawaban yang akan keluar. 'Duduk.'
'Tidak. Saya harus pergi.'
'Duduk.' Suara Arga tidak keras, tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat Larasati berhenti. 'Kau belum mendengar semuanya.'
Larasati ragu, tapi akhirnya ia duduk kembali, tubuhnya tegang.
Arga melanjutkan, 'Aku tidak memintamu berbagi tempat tidur denganku. Aku tidak memintamu mencintaiku. Aku tidak memintamu menjadi istri sungguhan. Aku hanya memintamu berperan sebagai istri di depan publik. Di dalam rumah, kita adalah dua orang asing yang berbagi atap yang sama. Kau punya kamarmu sendiri, kehidupanmu sendiri, kebebasanmu sendiri. Kau hanya perlu muncul di acara-acara tertentu, tersenyum di depan kamera, dan berpura-pura bahwa kita bahagia.'
'Dan sebagai imbalannya?'
'Sebagai imbalannya, ibumu mendapatkan perawatan terbaik di rumah sakit terbaik, dengan dokter terbaik, tanpa kau perlu khawatir tentang biaya.' Arga menatapnya lurus. 'Dan setelah satu tahun, kau mendapatkan uang kompensasi yang cukup untuk memulai hidup baru di mana pun kau mau.'
Larasati menatapnya, hatinya berperang dengan dirinya sendiri. Ini salah. Ini tidak bermoral. Tapi ibunya sakit, dan ia tidak punya pilihan lain. Ia tidak punya siapa-siapa lagi.
'Aku... aku perlu waktu untuk berpikir,' kata Larasati akhirnya, suaranya hancur.
Arga mengangguk. 'Kau punya waktu sampai besok pagi. Setelah itu, tawaran ini hangus.' Ia berdiri, meninggalkan beberapa lembar uang di meja untuk membayar kopi. 'Bu Sari akan menghubungimu besok pagi jam delapan untuk mendengar jawabanmu. Pikirkan baik-baik, Larasati. Ini kesempatan terakhirmu.'
Ia berbalik dan berjalan keluar dari kafe, meninggalkan Larasati sendirian di sudut itu, dengan kopi yang sudah dingin dan keputusan yang terlalu berat untuk dipikul.
Larasati duduk di sana selama satu jam lagi, menatap keluar jendela ke arah hujan yang semakin deras, dan bertanya-tanya apakah ia baru saja menjual jiwanya untuk menyelamatkan nyawa ibunya.