Larasati tidak bisa membiarkan Arga menyerahkan perusahaan untuk Nadia dan Bara. Ia tidak bisa membiarkan mereka menang dengan cara yang licik. Ia tidak bisa membiarkan mereka menghancurkan segalanya yang sudah Arga bangun dengan susah payah.
Larasati bekerja dengan polisi, dengan detektif swasta, dengan semua orang yang bisa membantunya menemukan Aisha tanpa menyerahkan perusahaan. Ia tidak tidur selama beberapa hari, mencari petunjuk, mencari cara untuk menemukan lokasi penyanderaan Aisha.
Ia menemukan petunjuk kecil di pesan Nadia: sebuah detail yang tidak sengaja Nadia tinggalkan, sebuah detail yang menunjukkan lokasi penyanderaan Aisha. Pesan itu dikirim dari nomor yang tidak dikenal, tapi Larasati melacaknya dengan bantuan detektif swasta, dan ia menemukan bahwa pesan itu dikirim dari sebuah kawasan industri terbengkalai di pinggiran kota.
Larasati tidak memberitahu Arga dulu. Ia tidak ingin Arga melakukan sesuatu yang berbahaya. Ia tidak ingin Arga menyerahkan perusahaan sebelum mereka memiliki bukti yang cukup.
Ia pergi ke kawasan industri terbengkalai itu dengan polisi, dengan detektif swasta, dengan semua orang yang bisa membantunya menyelamatkan Aisha. Ia tidak takut. Ia tidak ragu. Ia hanya ingin menyelamatkan putri kecilnya.
Mereka menemukan Aisha di sebuah gudang tua di kawasan industri itu, dijaga oleh dua pria yang disewa Nadia dan Bara. Aisha tidak terluka, tapi ia ketakutan, menangis, memanggil-manggil 'Mama' dengan suara yang kecil.
Larasati tidak berpikir dua kali. Ia berlari ke arah Aisha, dengan polisi mengepung gudang itu, dengan detektif swasta menangkap dua pria itu, dan ia mengambil Aisha dengan tangan yang gemetar.
'Mama ada di sini, Aisha. Mama ada di sini.' Larasati memeluk Aisha dengan erat, dengan air mata yang mengalir di wajahnya, dengan kelegaan yang tidak bisa disangkal.
Aisha tidak berkata apa-apa. Ia hanya memeluk Larasati dengan erat, dengan ketakutan yang masih ada, dengan kelegaan yang tidak bisa dijelaskan.
Polisi menangkap dua pria itu, dan mereka mengakui bahwa Nadia dan Bara yang menyewa mereka untuk menculik Aisha. Polisi menangkap Bara di kantornya, dengan bukti yang tidak bisa disangkal.
Nadia juga ditangkap lagi, dari dalam penjara, dengan tuduhan tambahan penculikan dan ancaman pembunuhan. Kali ini, ia tidak akan dibebaskan dengan jaminan. Kali ini, ia tidak akan bisa kembali dari ini.
Arga datang ke kawasan industri itu dengan kecepatan yang tidak pernah Larasati lihat sebelumnya. Ia berlari ke arah Larasati dan Aisha, dengan wajah yang pucat, dengan tatapan yang penuh dengan ketakutan yang tidak bisa disembunyikan.
'Larasati, Aisha, kalian tidak apa-apa?' tanya Arga, suaranya serak.
'Kami tidak apa-apa, Arga. Kami tidak apa-apa.' Larasati tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya bisa menatap Arga dengan tatapan yang hancur, dengan kelegaan yang tidak bisa disangkal.
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya memeluk Larasati dan Aisha dengan erat, dengan ketakutan yang masih ada, dengan kelegaan yang tidak bisa dijelaskan.
'Aku tidak ingin kehilangan kalian berdua,' kata Arga pelan, suaranya hancur. 'Aku tidak ingin kehilangan kalian berdua seperti aku kehilangan ibuku.'
'Anda tidak akan kehilangan kami, Arga. Anda tidak akan kehilangan kami. Kami tidak akan pergi ke mana pun.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Kita akan menjadi keluarga yang utuh, Arga. Kita akan menjadi keluarga yang bahagia. Dan kita tidak akan membiarkan Nadia dan Bara menghancurkan kita lagi.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya memeluk Larasati dan Aisha dengan erat, dan untuk pertama kalinya, Larasati melihat bahwa Arga tidak hanya takut. Arga juga ingin percaya. Arga juga ingin menjadi bagian dari keluarga yang utuh. Arga juga ingin menjadi ayah yang baik.
'Kita akan mencoba, Arga,' kata Larasati pelan. 'Kita akan mencoba menjadi keluarga yang bahagia. Kita akan mencoba menjadi orang tua yang baik. Bersama-sama.'
Arga mengangguk pelan, tidak melepaskan pelukannya. 'Bersama-sama, Larasati. Kita akan mencoba bersama-sama.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya berdiri di sana, di kawasan industri terbengkalai itu, dengan ketakutan yang masih ada, dengan kelegaan yang tidak bisa disangkal, dengan cinta yang tidak bisa diganggu gugat.
Mereka akan bertahan. Mereka akan menjadi keluarga yang bahagia. Mereka akan tidak akan membiarkan Nadia dan Bara menghancurkan mereka lagi.
Mereka akan bertahan. Bersama-sama.