Arga dan Larasati tidak hanya berbicara tentang proyek hijau mereka. Mereka membuktikannya dengan tindakan. Mereka mengundang investor-investor untuk melihat lokasi proyek, untuk bertemu dengan ahli lingkungan yang mereka rekrut, untuk melihat bahwa proyek mereka nyata.
Mereka juga mengumumkan bahwa Mahesa Group akan menyumbangkan 10% dari keuntungan kawasan industri hijau itu untuk program lingkungan dan pendidikan masyarakat. Mereka membuktikan bahwa mereka tidak hanya tentang keuntungan, tapi juga tentang memberikan kembali kepada komunitas dan lingkungan.
Investor-investor melihat tindakan itu dengan mata yang membesar. Mereka melihat bahwa Arga dan Larasati tidak hanya berbicara tentang keberlanjutan, tapi juga melakukannya. Mereka melihat bahwa Mahesa Group tidak hanya tentang bisnis, tapi juga tentang masa depan.
Dan mereka memilih Mahesa Group daripada Bara.
Mahesa Group mendapatkan proyek besar itu, dan saham perusahaan naik lagi. Investor-investor kembali percaya pada Arga, kembali percaya pada Mahesa Group, kembali melihat bahwa Arga masih yang terbaik.
Bara dan Nadia kalah lagi. Dan Arga dan Larasati menang lagi.
Malam itu, Arga dan Larasati merayakan kemenangan mereka dengan makan malam romantis di rumah, dengan Aisha tertidur di kamar bayi di lantai atas. Mereka tidak berbicara tentang Bara. Mereka tidak berbicara tentang Nadia. Mereka hanya berbicara tentang kemenangan mereka, tentang keberhasilan mereka, tentang masa depan mereka.
'Aku tidak bisa melakukannya tanpamu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku tidak bisa menyelamatkan perusahaan tanpamu. Aku tidak bisa menjadi CEO yang baik tanpamu.'
'Anda bisa melakukannya tanpa saya, Arga. Anda bisa melakukan apa pun tanpa saya. Tapi Anda tidak harus melakukannya tanpa saya. Kita akan menghadapi semuanya bersama-sama.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Kita akan menghadapi semuanya bersama-sama, Arga. Seperti keluarga yang seharusnya.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya istrinya. Larasati juga mitra hidupnya, juga pendukungnya, juga orang yang akan membantunya menghadapi apa pun.
'Aku mencintaimu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Saya juga mencintaimu, Arga,' kata Larasati, tersenyum tipis. 'Dan kita akan menghadapi semuanya bersama-sama. Seperti keluarga yang seharusnya.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka sebagai keluarga, menikmati kemenangan mereka, menikmati cinta yang sudah tumbuh di antara mereka.
Tapi kemenangan mereka tidak berlangsung lama tanpa tantangan baru. Nadia tidak menyerah. Ia tidak berhenti mencoba menghancurkan Arga dan Larasati. Ia menggunakan cara yang lebih jahat, cara yang lebih berbahaya, cara yang bisa menghancurkan segalanya.
Nadia mengungkap di media bahwa Aisha bukan anak Arga.