Nadia tidak menyerah setelah dibebaskan dengan jaminan. Ia tidak berhenti mencoba menghancurkan Arga dan Larasati. Ia menggunakan cara yang lebih licik, cara yang lebih berbahaya, cara yang bisa menghancurkan segalanya.
Nadia bekerja sama dengan Bara Pratama, saingan bisnis Arga yang sudah lama ingin menghancurkan Mahesa Group. Bara adalah pria yang tidak bermoral, yang akan melakukan apa pun untuk menghancurkan Arga, dan Nadia memberinya senjata yang ia butuhkan: informasi rahasia tentang Mahesa Group yang ia curi dari Arga ketika mereka masih menikah.
Bara menggunakan informasi itu untuk mencuri proyek besar dari Mahesa Group: proyek pembangunan pusat perbelanjaan di pusat kota yang sudah Arga rencanakan selama bertahun-tahun. Bara menawarkan harga yang lebih rendah kepada investor, dan investor memilih Bara daripada Arga.
Mahesa Group kehilangan proyek besar itu, dan saham perusahaan turun dengan drastis. Investor-investor mulai khawatir, mulai mempertanyakan kemampuan Arga, mulai berpikir untuk menarik investasi mereka.
Arga menghadapi krisis terbesar dalam karir bisnisnya. Ia harus menyelamatkan perusahaan, harus membuktikan bahwa ia masih mampu, harus membuktikan bahwa Mahesa Group masih kuat.
Tapi Arga tidak sendirian. Larasati berdiri di sampingnya, dengan Aisha di pelukannya, dan berkata dengan suara yang teguh, 'Kita akan menghadapi ini bersama-sama, Arga. Kita akan menyelamatkan perusahaan bersama-sama.'
Arga menatapnya dengan tatapan yang hancur. 'Aku tidak tahu bagaimana cara menyelamatkan perusahaan, Larasati. Aku tidak tahu bagaimana cara membuktikan bahwa aku masih mampu. Bara mencuri proyek itu dengan cara yang licik, dengan informasi yang Nadia curi dari aku.'
'Kita akan menemukan cara, Arga. Kita akan menemukan cara untuk membuktikan bahwa Anda masih mampu, bahwa Mahesa Group masih kuat.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang teguh. 'Dan kita akan membuktikan bahwa Nadia dan Bara tidak bisa menghancurkan kita.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya istrinya. Larasati juga mitra bisnisnya, juga pendukungnya, juga orang yang akan membantunya menyelamatkan perusahaan.
'Kita akan membutuhkan ide baru, Arga. Kita akan membutuhkan proyek yang lebih baik dari proyek Bara, proyek yang akan membuat investor melihat bahwa Mahesa Group masih yang terbaik.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang teguh. 'Dan saya punya ide.'
Arga menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dibaca. 'Apa idemu, Larasati?'
'Kita akan membangun pusat komunitas yang terintegrasi dengan pusat perbelanjaan. Kita akan membuat sesuatu yang tidak pernah dibuat sebelumnya: pusat perbelanjaan yang juga menjadi pusat kegiatan sosial, pusat pendidikan, pusat komunitas.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang teguh. 'Kita akan menunjukkan bahwa Mahesa Group tidak hanya tentang bisnis. Mahesa Group juga tentang memberikan kembali kepada komunitas.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya cantik, tidak hanya baik, tapi juga pintar, juga visioner, juga orang yang bisa membantunya menyelamatkan perusahaan.
'Itu ide yang bagus, Larasati. Itu ide yang luar biasa.' Arga menatapnya dengan tatapan yang dalam. 'Dan kita akan mewujudkannya bersama-sama.'
Mereka mulai bekerja pada proyek baru itu dengan sepenuh hati. Arga menggunakan pengalaman bisnisnya, Larasati menggunakan pengalaman sosialnya, dan mereka menciptakan sesuatu yang tidak pernah dibuat sebelumnya: pusat perbelanjaan yang terintegrasi dengan pusat komunitas.
Investor-investor melihat proyek baru itu dengan mata yang membesar. Mereka melihat bahwa Mahesa Group tidak hanya tentang bisnis, tidak hanya tentang keuntungan, tapi juga tentang memberikan kembali kepada komunitas. Mereka melihat bahwa Arga tidak hanya CEO yang kuat, tapi juga CEO yang visioner, CEO yang peduli.
Dan mereka memilih Mahesa Group daripada Bara.
Mahesa Group mendapatkan proyek besar itu, dan saham perusahaan naik lagi. Investor-investor kembali percaya pada Arga, kembali percaya pada Mahesa Group, kembali melihat bahwa Arga masih yang terbaik.
Nadia dan Bara kalah lagi. Dan Arga dan Larasati menang lagi.
Malam itu, Arga dan Larasati merayakan kemenangan mereka dengan makan malam romantis di rumah, dengan Aisha tertidur di kamar bayi di lantai atas. Mereka tidak berbicara tentang Nadia. Mereka tidak berbicara tentang Bara. Mereka hanya berbicara tentang kemenangan mereka, tentang keberhasilan mereka, tentang masa depan mereka.
'Aku tidak bisa melakukannya tanpamu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku tidak bisa menyelamatkan perusahaan tanpamu. Aku tidak bisa menjadi CEO yang baik tanpamu.'
'Anda bisa melakukannya tanpa saya, Arga. Anda bisa melakukan apa pun tanpa saya. Tapi Anda tidak harus melakukannya tanpa saya. Kita akan menghadapi semuanya bersama-sama.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Kita akan menghadapi semuanya bersama-sama, Arga. Seperti keluarga yang seharusnya.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya istrinya. Larasati juga mitra hidupnya, juga pendukungnya, juga orang yang akan membantunya menghadapi apa pun.
'Aku mencintaimu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Saya juga mencintaimu, Arga,' kata Larasati, tersenyum tipis. 'Dan kita akan menghadapi semuanya bersama-sama. Seperti keluarga yang seharusnya.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka sebagai keluarga, menikmati kemenangan mereka, menikmati cinta yang sudah tumbuh di antara mereka.
Dan untuk pertama kalinya, Larasati merasa bahwa mereka tidak hanya bertahan. Mereka menang. Mereka menang melawan Nadia, melawan Bara, melawan semua orang yang mencoba menghancurkan mereka.
Mereka menang karena mereka bersama-sama. Dan itu sudah cukup.