Menjadi orang tua mengubah Arga dan Larasati dengan cara yang tidak pernah mereka bayangkan. Arga berubah dari CEO yang dingin menjadi ayah yang lembut, yang penuh dengan cinta, yang tidak bisa berhenti menatap putri kecilnya dengan tatapan yang penuh dengan kekaguman.
Arga tidak kembali bekerja penuh waktu selama beberapa minggu setelah kelahiran Aisha. Ia bekerja dari rumah, dari kamar kerja di mansion, dan menghabiskan setiap waktu luangnya dengan Aisha dan Larasati. Ia tidak peduli dengan pekerjaan, tidak peduli dengan bisnis, tidak peduli dengan apa pun selain keluarganya.
'Aku tidak ingin melewatkan satu detik pun dari kehidupan Aisha,' kata Arga suatu pagi ketika Larasati bertanya mengapa ia tidak kembali bekerja penuh waktu. 'Aku tidak ingin melewatkan satu detik pun dari kehidupan kalian berdua.'
Larasati tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Arga yang sedang menggendong Aisha dengan hati-hati, yang sedang menyanyikan lagu tidur dengan suara yang tidak merdu tapi penuh dengan cinta, dan ia merasa bahwa ia tidak pernah mencintai Arga seperti ini sebelumnya.
'Anda adalah ayah yang baik, Arga,' kata Larasati pelan. 'Anda adalah ayah yang luar biasa.'
Arga menatapnya dengan tatapan yang hancur. 'Aku tidak tahu itu, Larasati. Aku tidak tahu apakah aku bisa menjadi ayah yang baik. Tapi aku mencoba. Aku mencoba dengan sepenuh hati.'
'Anda tidak perlu mencoba dengan sepenuh hati, Arga. Anda hanya perlu mencintai Aisha dengan sepenuh hati. Dan Anda sudah melakukannya.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Aisha mencintai Anda, Arga. Seperti saya mencintai Anda.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak mengharapkan apa-apa darinya selain cintanya. Larasati tidak mengharapkan kesempurnaan, tidak mengharapkan kemampuan menjadi ayah yang sempurna, tidak mengharapkan apa-apa selain kehadirannya.
'Aku mencintaimu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Saya juga mencintaimu, Arga,' kata Larasati, tersenyum tipis. 'Dan kita akan menjadi orang tua yang baik untuk Aisha. Bersama-sama.'
Mereka mulai menyesuaikan diri dengan kehidupan sebagai orang tua. Mereka bergantian mengurus Aisha di malam hari, bergantian memberi makan, bergantian mengganti popok, bergantian menyanyikan lagu tidur. Arga tidak pernah mengeluh, tidak pernah lelah, tidak pernah menyerah. Ia hanya mencintai Aisha dengan sepenuh hati, dan Larasati melihatnya dengan tatapan yang penuh dengan kekaguman.
Suatu malam, ketika Aisha menangis tidak berhenti dan Larasati sudah lelah setelah seharian mengurusnya, Arga mengambil Aisha dari pelukan Larasati dengan lembut dan berkata, 'Istirahat, Larasati. Aku akan mengurus Aisha malam ini. Kau butuh istirahat.'
Larasati tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap Arga yang sedang menggendong Aisha dengan hati-hati, yang sedang berjalan-jalan di kamar dengan putri kecilnya, yang sedang menyanyikan lagu tidur dengan suara yang tidak merdu tapi penuh dengan cinta, dan ia merasa bahwa ia tidak pernah mencintai Arga seperti ini sebelumnya.
'Aku mencintaimu, Arga,' kata Larasati pelan.
Arga menatapnya dengan tatapan yang hangat. 'Aku juga mencintaimu, Larasati. Dan aku mencintai Aisha. Dan aku mencintai keluarga kita.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka sebagai keluarga, menikmati kehadiran satu sama lain, menikmati cinta yang sudah tumbuh di antara mereka dan putri kecil mereka.
Dan untuk pertama kalinya, Larasati merasa bahwa ia benar-benar bahagia. Bahwa ia benar-benar memiliki kehidupan yang ia inginkan. Bahwa ia benar-benar tidak sendirian lagi.
Mereka adalah keluarga. Dan itu sudah cukup.