Larasati tidak menyangka hari itu akan menjadi hari terburuk dalam hidupnya. Pagi dimulai seperti biasa: ia bangun jam lima, membuat kopi untuk ibunya, lalu berangkat ke kantor penerbitan kecil tempatnya bekerja sebagai editor junior. Ia menyukai pekerjaannya, meskipun gajinya tidak besar. Ia menyukai kata-kata, cerita, dan dunia yang bisa ia bangun dari halaman-halaman buku.
Tapi hari itu, ketika ia tiba di kantor, suasana sudah tidak biasa. Teman-teman sekantornya berbisik-bisik, meliriknya dengan tatapan yang aneh. Larasati tidak peduli. Ia sudah terbiasa menjadi bahan pembicaraan. Ia adik tiri Nadia Mahesa, istri CEO Mahesa Group, dan orang-orang selalu punya sesuatu untuk dikatakan tentang itu.
'Laras, Pak Wijaya ingin bicara denganmu. Sekarang.' Suara Mbak Rina, rekan kerjanya, pelan dan penuh simpati.
Larasati merasakan perutnya mengecil. 'Ada apa?'
Mbak Rina tidak menjawab, hanya menatapnya dengan mata yang sedih.
Larasati masuk ke ruangan Pak Wijaya, bos penerbitan, dan menemukan pria paruh baya itu duduk di belakang meja dengan wajah yang sulit dibaca.
'Duduk,' kata Pak Wijaya, tidak melihat ke arahnya.
Larasati duduk. Tangannya di pangkuan, jari-jarinya saling menggenggam erat.
'Kamu tahu kenapa saya panggil?' tanya Pak Wijaya, akhirnya menatapnya.
'Tidak, Pak.'
Pak Wijaya menghela napas panjang. 'Larasati, kamu editor yang baik. Kamu pekerja keras. Tapi... ini bukan tentang kemampuanmu. Ini tentang citra perusahaan.'
Larasati merasakan dadanya mulai sakit. 'Saya tidak mengerti, Pak.'
'Berita tentang kakakmu, Nadia, sudah menyebar ke mana-mana. Perselingkuhannya dengan Dimas Prasetyo. Perceraiannya dengan Arga Mahesa.' Pak Wijaya berhenti sejenak, seperti mencari kata yang tepat. 'Beberapa klien besar kami sudah menelepon. Mereka tidak nyaman bekerja dengan perusahaan yang memiliki karyawan yang terkait dengan skandal seperti itu.'
Larasati merasakan darahnya turun dari wajahnya. 'Pak, saya tidak ada hubungannya dengan apa yang dilakukan kakak saya. Saya dan Nadia... kami tidak dekat. Kami bahkan tidak bicara—'
'Saya tahu, Larasati. Saya tahu. Tapi publik tidak peduli. Yang mereka lihat hanya nama belakangmu.' Pak Wijaya menatapnya dengan tatapan yang hampir menyesal. 'Saya terpaksa melepaskanmu. Ini bukan keputusan yang saya inginkan, tapi saya harus melindungi perusahaan.'
Larasati tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya duduk di sana, mendengarkan kata-kata itu masuk ke kepalanya tapi tidak bisa memprosesnya. Ia dipecat. Karena sesuatu yang bukan salahnya. Karena nama yang tidak pernah ia minta.
'Pak, saya mohon—' suaranya tercekat. 'Ibu saya sakit. Saya butuh pekerjaan ini untuk biaya pengobatannya. Saya mohon, Pak, beri saya kesempatan—'
'Saya sudah memutuskan, Larasati.' Pak Wijaya berdiri, menandakan bahwa pembicaraan sudah selesai. 'Kamu akan mendapatkan pesangon tiga bulan gaji. Itu lebih dari yang diwajibkan hukum.'
Larasati berdiri dengan kaki yang gemetar. Ia ingin berteriak, ingin protes, ingin memaki. Tapi apa gunanya? Dunia tidak peduli dengan keadilan. Dunia hanya peduli dengan nama dan citra.
Ia keluar dari ruangan Pak Wijaya dengan langkah yang tidak stabil. Teman-teman sekantornya tidak ada yang berani menatapnya. Hanya Mbak Rina yang mendekatinya, memeluknya sejenak, dan berbisik, 'Aku minta maaf, Laras.'
Larasati tidak menjawab. Ia hanya mengangguk, mengambil tasnya, dan keluar dari kantor itu tanpa menoleh ke belakang.
Di luar, langit mendung, seolah langit juga ikut berduka. Larasati berjalan tanpa tujuan, membiarkan kakinya membawanya ke mana saja. Ia tidak bisa pulang sekarang. Ia tidak bisa memberitahu ibunya bahwa ia baru saja kehilangan pekerjaan, padahal besok mereka harus membayar biaya pengobatan ibu yang semakin mahal.
Ia berhenti di sebuah taman kecil, duduk di bangku di bawah pohon, dan untuk pertama kalinya sejak pagi, ia menangis. Bukan tangis yang keras. Bukan tangis yang dramatis. Hanya air mata yang mengalir pelan di pipinya, diam-diam, seperti hujan yang turun tanpa suara.
Ia tidak tahu berapa lama ia duduk di sana. Mungkin satu jam. Mungkin dua. Ia hanya tahu bahwa ketika ia akhirnya mengangkat kepala, ada seorang pria berdiri di depannya, memayunginya dengan payung hitam besar, dan menatapnya dengan mata yang dalam dan gelap.
Arga Mahesa.
Larasati membeku. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya menatap pria itu, mantan kakak iparnya, CEO yang baru saja menceraikan kakaknya, dan merasa dunia semakin tidak masuk akal.
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya berdiri di sana, memayunginya, dan menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca. Lalu, akhirnya, ia berbicara, suaranya rendah dan tenang.
'Kau Larasati. Adik tiri Nadia.'
Larasati menelan ludah. 'Ya.'
'Aku dengar kau baru saja kehilangan pekerjaan.'
Larasati tidak bertanya bagaimana Arga tahu. Ia hanya mengangguk pelan.
Arga menatapnya selama beberapa detik lagi, seolah menimbang sesuatu di kepalanya. Lalu ia mengulurkan tangan, menawarkan saputangan putih bersih.
Larasati menerimanya dengan ragu, menghapus air matanya.
'Aku punya tawaran untukmu,' kata Arga, suaranya tidak berubah. 'Tapi tidak di sini. Ikut aku.'
Larasati menatapnya, bingung, takut, dan penasaran sekaligus. 'Tawaran apa?'
Arga tidak menjawab. Ia hanya berbalik dan mulai berjalan, payung masih di tangannya, memayungi dirinya sendiri tapi tidak Larasati.
Larasati duduk di sana selama beberapa detik, tidak tahu harus berbuat apa. Lalu, entah karena putus asa, entah karena penasaran, entah karena tidak punya pilihan lain, ia berdiri dan mengikuti Arga Mahesa.