Larasati melahirkan seorang putri yang sehat di pagi hari, dengan Arga berdiri di sampingnya, memegang tangannya dengan erat, dengan air mata yang mengalir di wajahnya.
Ketika dokter meletakkan bayi kecil itu di dada Larasati, Larasati menangis. Bukan tangis yang keras, bukan tangis yang dramatis, tapi tangis yang penuh dengan kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ia menatap bayi kecil itu, dengan mata yang besar dan gelap, dengan kulit yang halus, dengan jari-jari yang kecil, dan ia merasa bahwa ia tidak pernah mencintai sesuatu seperti ini sebelumnya.
'Dia cantik,' kata Larasati, suaranya serak, dengan air mata yang mengalir di wajahnya.
Arga tidak berkata apa-apa. Ia hanya berdiri di samping Larasati, menatap bayi kecil itu dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya juga. Ia tidak pernah menangis di depan siapa pun sebelumnya, tapi ia tidak peduli sekarang. Ia hanya menatap putri kecilnya, putri yang baru saja lahir ke dunia, dan merasa bahwa ia tidak pernah mencintai sesuatu seperti ini sebelumnya.
'Dia cantik,' kata Arga akhirnya, suaranya serak. 'Dia sangat cantik, Larasati. Seperti kamu.'
Larasati menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan cinta. 'Dia seperti Anda, Arga. Dia memiliki mata Anda, hidung Anda, segalanya dari Anda.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap putri kecilnya, dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ia tidak sendirian lagi. Ia memiliki keluarga. Ia memiliki Larasati. Ia memiliki putri kecilnya.
'Apa yang akan kita namai dia?' tanya Arga pelan.
Larasati tidak berpikir untuk waktu yang lama. 'Aisha. Aisha, yang berarti kehidupan. Karena dia adalah kehidupan baru untuk kita, Arga. Kehidupan baru untuk keluarga kita.'
'Aisha,' kata Arga, mencoba nama itu di bibirnya. 'Aisha Mahesa. Itu nama yang cantik untuk putri kita.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya menatap Aisha, putri kecil mereka, dan untuk pertama kalinya, mereka merasa bahwa mereka benar-benar keluarga. Mereka benar-benar utuh. Mereka benar-benar bahagia.
Arga tidak meninggalkan rumah sakit selama tiga hari setelah kelahiran Aisha. Ia tidak meninggalkan samping Larasati dan Aisha. Ia tidak meninggalkan mereka untuk apa pun. Ia hanya duduk di samping tempat tidur Larasati, memegang Aisha dengan hati-hati, menatap putri kecilnya dengan tatapan yang penuh dengan cinta yang tidak bisa dijelaskan.
'Aku tidak tahu bagaimana cara menjadi ayah yang baik untukmu, Aisha,' bisik Arga pada putri kecilnya suatu malam ketika Larasati tertidur. 'Aku tidak tahu bagaimana cara melindungimu, bagaimana cara mencintaimu dengan benar, bagaimana cara menjadi ayah yang tidak akan menghancurkanmu seperti ayahku menghancurkanku.'
Aisha tidak menjawab. Ia hanya menatap Arga dengan mata yang besar dan gelap, dengan jari-jari kecil yang menggenggam jari Arga dengan erat, dan Arga merasa bahwa putri kecilnya sudah mencintainya dengan cara yang tidak bisa dijelaskan.
'Tapi aku akan mencoba, Aisha. Aku akan mencoba dengan sepenuh hati. Aku akan mencoba menjadi ayah yang baik untukmu, untuk ibumu, untuk keluarga kita.' Arga menatapnya dengan tatapan yang dalam. 'Dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku berjanji.'
Larasati tidak mendengar kata-kata itu karena ia tertidur. Tapi ia tidak perlu mendengarnya. Ia sudah tahu bahwa Arga akan menjadi ayah yang baik. Ia sudah tahu bahwa Arga akan melindungi Aisha dengan sepenuh hati. Ia sudah tahu bahwa mereka akan menjadi keluarga yang bahagia.
Dan ketika mereka akhirnya pulang ke mansion dengan Aisha, mereka tidak lagi hanya dua orang yang mencoba. Mereka adalah keluarga. Mereka adalah orang tua. Mereka adalah ayah dan ibu dari putri kecil yang cantik yang bernama Aisha.
Dan itu mengubah segalanya.