Malam sebelum Larasati melahirkan, mereka tidak bisa tidur. Mereka berbaring di tempat tidur bersama, dengan Arga memeluk Larasati dari belakang, dengan tangan Arga di perut Larasati yang besar, dengan keheningan yang penuh dengan ketakutan dan harapan.
'Aku takut,' kata Arga pelan, suaranya hampir tidak terdengar di kegelapan.
'Saya juga takut, Arga,' kata Larasati pelan, memegang tangan Arga dengan erat. 'Saya takut bahwa saya tidak akan menjadi ibu yang baik. Saya takut bahwa saya tidak akan bisa melindungi anak kita seperti yang seharusnya.'
'Kau akan menjadi ibu yang luar biasa, Larasati. Kau akan menjadi ibu yang penuh dengan cinta, dengan kelembutan, dengan kebaikan. Aku tahu itu.' Arga memeluknya lebih erat. 'Dan aku akan menjadi ayah yang baik untuk anak kita. Aku akan melindungi kalian berdua dengan nyawaku.'
Larasati tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya merasakan kehadiran Arga di belakangnya, hangat, kuat, nyata. Ia merasakan tangan Arga di perutnya, lembut, penuh dengan cinta. Ia merasakan bahwa ia tidak sendirian lagi, bahwa ia memiliki Arga, bahwa mereka akan menghadapi semuanya bersama-sama.
'Anda tidak akan seperti ayah Anda, Arga,' kata Larasati pelan. 'Anda tidak akan meninggalkan kami. Anda tidak akan mengkhianati kami. Anda akan menjadi ayah yang baik.'
'Aku tidak tahu itu, Larasati. Aku tidak tahu apakah aku bisa menjadi ayah yang baik. Tapi aku akan mencoba. Aku akan mencoba dengan sepenuh hati.' Arga menatapnya dengan tatapan yang dalam di kegelapan. 'Dan aku tidak akan pernah meninggalkan kalian berdua. Aku berjanji.'
'Saya percaya padamu, Arga. Saya percaya padamu.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut di kegelapan. 'Dan kita akan menjadi keluarga yang bahagia. Saya janji.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya berbaring di tempat tidur bersama, dalam keheningan yang penuh dengan ketakutan dan harapan, dan membiarkan kehadiran satu sama lain menjadi cukup.
Arga tertidur lebih dulu, dengan tangan masih di perut Larasati, dengan napas yang dalam dan teratur. Larasati tidak tidur untuk waktu yang lama, hanya menatap langit-langit kamar yang gelap, memikirkan apa yang akan terjadi besok, memikirkan bagaimana kehidupan mereka akan berubah selamanya.
Ia akan menjadi ibu. Arga akan menjadi ayah. Dan mereka akan menjadi keluarga.
Larasati tidak tahu apakah ia siap untuk menjadi ibu. Ia tidak tahu apakah ia bisa menjadi ibu yang baik. Tapi ia tahu bahwa ia tidak sendirian lagi. Ia memiliki Arga. Dan Arga memiliki dia.
Dan itu sudah cukup.
Pagi harinya, Larasati bangun dengan rasa sakit di perutnya yang tidak biasa. Ia membangunkan Arga dengan tangan yang gemetar, dan Arga langsung bangun dengan tatapan yang penuh dengan ketakutan.
'Sudah waktunya,' kata Larasati pelan.
Arga tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangkat Larasati dengan hati-hati, membawanya ke mobil, dan membawanya ke rumah sakit dengan kecepatan yang tidak pernah Larasati lihat sebelumnya.
Dan beberapa jam kemudian, mereka menjadi orang tua.