Setelah serangan Nadia, Arga dan Larasati menjadi lebih dekat dari sebelumnya. Mereka tidak hanya pasangan yang mencoba; mereka adalah pasangan yang sudah memutuskan untuk bertahan, untuk menjadi keluarga, untuk membesarkan anak mereka bersama-sama.
Larasati harus istirahat total selama beberapa minggu setelah serangan itu, dan Arga tidak meninggalkannya. Arga bekerja dari rumah, dari kamar kerja di mansion, dan menghabiskan setiap waktu luangnya di samping Larasati.
Mereka mulai mempersiapkan kelahiran anak mereka dengan penuh cinta. Arga membeli buku-buku tentang menjadi orang tua, tentang perkembangan janin, tentang persiapan kelahiran. Ia membaca buku-buku itu di malam hari, di samping Larasati yang tertidur, dan membuat catatan kecil tentang apa yang harus mereka siapkan.
'Kita perlu kamar bayi,' kata Arga suatu pagi ketika mereka sarapan bersama di kamar tidur Larasati. 'Kita perlu mengubah salah satu kamar di lantai dua menjadi kamar bayi.'
'Kita punya banyak kamar, Arga. Kita bisa memilih yang terbaik untuk anak kita.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Tapi kita tidak perlu buru-buru. Kita masih punya waktu beberapa bulan.'
'Aku ingin semuanya sempurna untuk anak kita, Larasati. Aku ingin anak kita memiliki semua yang tidak pernah aku miliki: keluarga yang utuh, orang tua yang mencintainya, kehidupan yang bahagia.' Arga menatapnya dengan tatapan yang dalam. 'Aku ingin anak kita tumbuh dengan cinta, bukan dengan rasa sakit seperti aku.'
Larasati tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Arga tidak hanya ingin menjadi ayah yang baik. Arga ingin memberikan anak mereka kehidupan yang tidak pernah ia miliki: kehidupan yang penuh dengan cinta, dengan kebersamaan, dengan kebahagiaan.
'Anak kita akan memiliki semua itu, Arga,' kata Larasati pelan. 'Anak kita akan memiliki keluarga yang utuh, orang tua yang mencintainya, kehidupan yang bahagia. Saya janji.'
Arga menatapnya dengan tatapan yang dalam, dengan keinginan untuk percaya yang masih berjuang. 'Aku ingin percaya padamu, Larasati. Aku ingin percaya bahwa kita bisa menjadi orang tua yang baik, bahwa kita bisa menjadi keluarga yang bahagia.'
'Kita bisa, Arga. Kita bisa menjadi orang tua yang baik. Kita bisa menjadi keluarga yang bahagia. Bersama-sama.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang teguh. 'Dan kita akan membuktikannya pada anak kita setiap hari.'
Mereka mulai mengubah salah satu kamar di lantai dua menjadi kamar bayi. Arga memilih warna cat yang lembut — kuning muda, warna yang netral, warna yang hangat. Ia memilih furniture kayu yang aman untuk bayi, dengan sudut yang tidak tajam, dengan bahan yang tidak berbahaya. Ia memilih mainan-mainan yang lembut, yang aman, yang akan membuat anak mereka bahagia.
Larasati menonton Arga bekerja dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. Ia tidak pernah melihat Arga seperti ini: begitu penuh dengan perhatian, begitu penuh dengan cinta, begitu ingin memberikan yang terbaik untuk anak mereka.
'Anda akan menjadi ayah yang baik, Arga,' kata Larasati suatu sore ketika mereka berdiri di kamar bayi yang hampir selesai. 'Anda akan menjadi ayah yang luar biasa.'
Arga menatapnya dengan tatapan yang hancur. 'Aku tidak tahu itu, Larasati. Aku tidak tahu apakah aku bisa menjadi ayah yang baik. Tapi aku akan mencoba. Aku akan mencoba dengan sepenuh hati.'
'Anda tidak perlu mencoba dengan sepenuh hati, Arga. Anda hanya perlu mencintai anak kita dengan sepenuh hati. Dan Anda sudah melakukannya.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Anak kita akan mencintai Anda, Arga. Seperti saya mencintai Anda.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak mengharapkan apa-apa darinya selain cintanya. Larasati tidak mengharapkan kesempurnaan, tidak mengharapkan kemampuan menjadi ayah yang sempurna, tidak mengharapkan apa-apa selain kehadirannya.
'Aku mencintaimu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Saya juga mencintaimu, Arga,' kata Larasati, tersenyum tipis. 'Dan kita akan menjadi orang tua yang baik. Bersama-sama.'
Mereka berdiri di kamar bayi yang hampir selesai, dalam cahaya sore yang hangat, dan untuk pertama kalinya, mereka merasa bahwa mereka siap untuk menjadi orang tua. Mereka siap untuk menjadi keluarga. Mereka siap untuk menjadi bahagia.