Arga tidak tidur selama tiga hari setelah Larasati diserang. Ia tidak meninggalkan rumah sakit. Ia tidak meninggalkan samping tempat tidur Larasati. Ia hanya duduk di sana, menatap Larasati yang tertidur, dan memikirkan apa yang akan ia lakukan pada Nadia.
Ketika Larasati akhirnya stabil dan diizinkan pulang, Arga membawanya pulang ke mansion dengan perawat khusus yang merawatnya setiap saat. Arga tidak membiarkan Larasati bergerak dari tempat tidur. Ia tidak membiarkan Larasati melakukan apa pun selain istirahat.
Dan Arga tidak membiarkan Nadia lolos begitu saja.
Arga menggunakan semua kekuasaannya, semua koneksinya, semua cara yang ia tahu untuk menemukan bukti bahwa Nadia yang menyewa orang untuk mencelakai Larasati. Ia menyewa detektif swasta terbaik, ia melacak transaksi keuangan Nadia, ia menemukan bukti bahwa Nadia membayar dua pria untuk menyerang Larasati di parkiran.
Dan ketika ia memiliki bukti yang cukup, Arga tidak ragu untuk bertindak.
Ia melaporkan Nadia ke polisi dengan bukti-bukti yang tidak bisa disangkal: rekaman CCTV dari parkiran yang menunjukkan dua pria itu, transaksi keuangan Nadia yang membayar mereka, dan kesaksian dari salah satu pria yang ditangkap dan mengakui bahwa Nadia yang menyewanya.
Nadia ditangkap di rumahnya, dengan tuduhan percobaan pembunuhan dan penganiayaan. Media meliput penangkapan itu dengan besar-besaran, dan untuk pertama kalinya, Nadia benar-benar hancur di depan publik.
Arga tidak puas dengan itu. Ia tidak puas hanya dengan Nadia ditangkap. Ia ingin Nadia membayar untuk apa yang sudah ia lakukan pada Larasati, pada anak mereka, pada kehidupan mereka.
Ia mengadakan konferensi pers lagi, dan kali ini, ia tidak hanya membela Larasati. Ia mengungkapkan semua kejahatan Nadia: perselingkuhannya, kebohongannya tentang kehamilan, dan sekarang, percobaan pembunuhan terhadap Larasati.
'Nadia Mahesa bukan hanya pengkhianat. Nadia Mahesa adalah penjahat. Nadia Mahesa mencoba membunuh istri saya dan anak kami yang belum lahir. Dan saya akan memastikan bahwa Nadia membayar untuk semua kejahatannya dengan hukum yang berlaku.'
Konferensi pers itu berakhir dengan cepat, tapi dampaknya besar. Nadia benar-benar hancur. Nadia benar-benar tidak bisa kembali dari ini. Nadia benar-benar akan membayar untuk semua kejahatannya.
Tapi Nadia tidak tinggal diam. Ia menggunakan semua uangnya, semua koneksinya, semua cara yang ia tahu untuk membebaskan dirinya dengan jaminan. Dan ia berhasil. Nadia dibebaskan dengan jaminan, dengan syarat bahwa ia tidak boleh mendekati Larasati atau Arga.
Tapi Arga tidak peduli dengan jaminan itu. Arga tidak peduli dengan syarat itu. Arga hanya peduli bahwa Nadia akan diadili, bahwa Nadia akan dihukum, bahwa Nadia akan membayar untuk apa yang sudah ia lakukan.
Malam itu, Arga duduk di samping tempat tidur Larasati di mansion, dengan tangan yang memegang tangan Larasati dengan erat, dan berkata dengan suara yang rendah, 'Aku tidak akan membiarkan Nadia menyakitimu lagi, Larasati. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi. Aku berjanji.'
Larasati menatapnya dengan tatapan yang lemah. 'Arga, saya tidak ingin Anda menjadi seperti Nadia. Saya tidak ingin Anda menjadi orang yang penuh dengan dendam dan kebencian. Saya tidak ingin Anda menghancurkan diri Anda sendiri untuk menghukum Nadia.'
Arga menatapnya dengan tatapan yang dalam, dengan kemarahan yang masih ada, dengan keinginan untuk melindungi yang masih berjuang. 'Aku tidak akan menjadi seperti Nadia, Larasati. Aku tidak akan menghancurkan diriku sendiri. Tapi aku juga tidak akan membiarkan Nadia lolos begitu saja setelah mencoba membunuhmu dan anak kita.'
'Saya tahu, Arga. Saya tahu Anda ingin melindungi kami. Tapi Anda juga harus melindungi diri Anda sendiri. Anda juga harus tidak menghancurkan diri Anda sendiri untuk menghukum Nadia.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Kita akan membiarkan hukum yang bekerja, Arga. Kita akan membiarkan hukum yang menghukum Nadia. Kita tidak perlu menghukumnya sendiri.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, Larasati melihat bahwa Arga tidak hanya marah. Arga juga takut. Arga juga khawatir bahwa ia akan kehilangan Larasati dan anak mereka jika ia tidak bertindak.
'Aku tidak ingin kehilanganmu, Larasati,' kata Arga pelan, suaranya hancur. 'Aku tidak ingin kehilangan anak kita. Aku tidak ingin kalian terluka seperti ibuku dan aku.'
'Anda tidak akan kehilangan kami, Arga. Anda tidak akan kehilangan kami. Kami tidak akan pergi ke mana pun.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang teguh. 'Kita akan menjadi keluarga yang utuh, Arga. Kita akan menjadi keluarga yang bahagia. Dan kita tidak akan membiarkan Nadia menghancurkan kita lagi.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, Larasati melihat bahwa Arga tidak hanya marah. Arga juga ingin percaya. Arga juga ingin menjadi bagian dari keluarga yang utuh. Arga juga ingin menjadi ayah yang baik.
'Kita akan mencoba, Arga,' kata Larasati pelan. 'Kita akan mencoba menjadi keluarga yang bahagia. Kita akan mencoba menjadi orang tua yang baik. Bersama-sama.'
Arga mengangguk pelan, tidak melepaskan tangan Larasati. 'Bersama-sama, Larasati. Kita akan mencoba bersama-sama.'
Dan untuk pertama kalinya sejak serangan itu, Larasati merasa bahwa mereka akan baik-baik saja. Bahwa mereka akan menjadi keluarga yang bahagia. Bahwa mereka akan tidak akan membiarkan Nadia menghancurkan mereka lagi.
Mereka akan bertahan. Bersama-sama.