Nadia tidak menyerah setelah kebohongannya tentang kehamilan terbongkar. Ia tidak berhenti mencoba menghancurkan Larasati dan Arga. Ia menggunakan cara yang lebih berbahaya, cara yang lebih jahat, cara yang bisa menghancurkan segalanya.
Suatu malam, ketika Larasati sedang berjalan pulang dari kantor yayasan ke mobilnya di tempat parkir bawah tanah, dua orang pria dengan penutup wajah mendekatinya dengan langkah yang cepat.
Larasati tidak tahu apa yang terjadi sampai salah satu pria itu menariknya dengan kasar dan menutup mulutnya dengan tangan yang kuat.
'Jangan berteriak,' bisik pria itu, suaranya rendah dan berbahaya. 'Atau kau akan menyesal.'
Larasati tidak bisa bergerak. Ia tidak bisa bernapas. Ia hanya merasakan ketakutan yang mendalam menghantam dadanya, ketakutan untuk dirinya sendiri, ketakutan untuk anaknya yang belum lahir.
Pria kedua mendekat dengan sesuatu di tangannya — sesuatu yang Larasati tidak bisa lihat dengan jelas dalam kegelapan parkiran. Tapi Larasati tahu itu bukan sesuatu yang baik.
'Kau akan menyesal sudah merebut suami orang, pelacur,' bisik pria pertama di telinganya. 'Kau akan menyesal sudah menghancurkan keluarga orang.'
Larasati tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya merasakan ketakutan yang mendalam, dan untuk pertama kalinya, ia berpikir tentang anaknya. Ia berpikir tentang anaknya yang belum lahir. Ia berpikir tentang bagaimana ia harus melindungi anaknya.
Ia mengumpulkan semua kekuatannya dan menggigit tangan pria yang menutup mulutnya dengan keras. Pria itu berteriak dan melepaskannya sejenak, dan Larasati menggunakan kesempatan itu untuk berlari sekuat tenaga ke arah mobilnya.
Tapi ia tidak sampai ke mobilnya. Ia jatuh di tengah parkiran, dengan perutnya yang menghantam lantai dengan keras, dengan ketakutan yang mendalam menghantam dadanya.
Para pria itu mendekat lagi, tapi sebelum mereka bisa melakukan apa-apa, suara langkah kaki berlari mendekat dari arah lift. Suara teriakan seorang pria yang Larasati kenal dengan baik.
'Larasati!'
Arga.
Arga berlari ke arah mereka dengan wajah yang penuh dengan ketakutan dan kemarahan. Ia menabrak salah satu pria itu dengan tubuhnya, membuat pria itu jatuh ke lantai, dan berdiri di depan Larasati dengan tubuhnya yang melindungi.
'Pergi!' teriak Arga pada para pria itu, suaranya berbahaya. 'Pergi sebelum aku membunuh kalian!'
Para pria itu melihat Arga dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan, lalu berlari pergi ke arah pintu keluar parkiran. Arga tidak mengejar mereka. Ia hanya berdiri di sana, melindungi Larasati, dan menatap Larasati yang masih di lantai dengan tatapan yang penuh dengan ketakutan.
'Larasati, kau tidak apa-apa?' tanya Arga, berlutut di sampingnya dengan tangan yang gemetar.
Larasati tidak bisa berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya merasakan perutnya yang sakit, perutnya yang nyeri, dan untuk pertama kalinya, ia berpikir tentang anaknya. Ia berpikir tentang anaknya yang belum lahir. Ia berpikir tentang bagaimana ia hampir kehilangan anaknya.
'Anak kita,' kata Larasati akhirnya, suaranya hancur. 'Arga, anak kita...'
Arga tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangkat Larasati dengan hati-hati, membawanya ke mobil, dan membawanya ke rumah sakit dengan kecepatan yang tidak pernah Larasati lihat sebelumnya.
Di rumah sakit, dokter memeriksa Larasati dengan seksama. Larasati tidak keguguran, tapi ia hampir kehilangan anaknya. Ia harus istirahat total selama beberapa minggu, tidak boleh bekerja, tidak boleh melakukan apa pun yang berbahaya.
Arga berdiri di samping tempat tidur Larasati di rumah sakit, dengan wajah yang pucat, dengan tatapan yang penuh dengan ketakutan dan kemarahan. Ia tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama, hanya menatap Larasati yang tertidur karena obat penghilang rasa sakit.
Ketika Larasati akhirnya bangun, Arga masih di sana, masih berdiri di samping tempat tidurnya, masih dengan tatapan yang tidak berubah.
'Arga,' kata Larasati pelan.
'Aku di sini,' kata Arga, suaranya serak. 'Aku di sini, Larasati. Aku tidak akan pergi.'
Larasati menatapnya dengan tatapan yang lemah. 'Nadia yang melakukannya, Arga. Nadia yang menyewa orang untuk mencelakai saya.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Lalu ia berkata dengan suara yang rendah dan berbahaya, 'Aku tahu. Dan aku akan memastikan Nadia membayar untuk ini.'
Larasati tidak bertanya apa maksudnya. Ia tidak ingin tahu. Ia hanya ingin istirahat. Ia hanya ingin anaknya selamat. Ia hanya ingin Arga di sampingnya.
Dan Arga tidak pergi. Arga tidak meninggalkan Larasati. Arga tetap di sampingnya, melindunginya, menjaganya, dengan cinta yang tidak bisa disangkal lagi.