Setelah Larasati memberitahu Arga bahwa ia hamil, Arga berubah dengan cara yang tidak bisa dijelaskan. Ia menjadi sangat protektif, sangat khawatir, sangat takut bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi pada Larasati dan anak mereka.
Arga tidak membiarkan Larasati bekerja terlalu keras. Ia tidak membiarkan Larasati pergi ke pusat kegiatan anak jalanan tanpa pengawal. Ia tidak membiarkan Larasati makan makanan yang tidak sehat. Ia tidak membiarkan Larasati melakukan apa pun yang menurutnya berbahaya.
Larasati merasa terkekang. Ia merasa seperti sedang di penjara yang indah, di penjara yang penuh dengan cinta tapi juga penuh dengan ketakutan.
Suatu hari, Larasati tidak tahan lagi. Ia berdiri di depan Arga di kantor Arga, dengan tatapan yang teguh, dan berkata, 'Arga, Anda harus berhenti. Anda harus berhenti memperlakukan saya seperti saya adalah barang pecah belah yang akan hancur jika Anda tidak mengawasinya setiap saat.'
Arga menatapnya dengan tatapan yang hancur. 'Aku hanya ingin melindungimu, Larasati. Aku hanya ingin melindungi anak kita. Aku tidak ingin kalian terluka.'
'Saya tahu, Arga. Saya tahu Anda ingin melindungi kami. Tapi Anda juga harus mempercayai saya. Anda juga harus mempercayai bahwa saya bisa menjaga diri saya sendiri, bahwa saya bisa menjaga anak kita, bahwa saya tidak akan hancur jika Anda tidak mengawasinya setiap saat.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang teguh. 'Anda harus mempercayai saya, Arga. Seperti saya mempercayai Anda.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, Larasati melihat bahwa Arga tidak hanya takut. Arga juga tidak yakin dengan dirinya sendiri. Arga juga tidak yakin bahwa ia bisa menjadi ayah yang baik.
'Aku tidak tahu bagaimana cara menjadi ayah yang baik, Larasati,' kata Arga pelan, suaranya hancur. 'Aku tidak tahu bagaimana cara melindungi kalian berdua tanpa membuat kalian merasa terkekang. Aku tidak tahu bagaimana cara menjadi ayah yang tidak menghancurkan anakku seperti ayahku menghancurkanku.'
Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. Ia berjalan ke arahnya dan memeluknya dengan erat. 'Anda tidak akan menghancurkan anak kita, Arga. Anda tidak seperti ayah Anda. Anda tidak akan mengkhianati kami. Anda tidak akan meninggalkan kami. Anda akan menjadi ayah yang baik.'
'Aku tidak tahu itu, Larasati. Aku tidak tahu apakah aku bisa menjadi ayah yang baik.' Arga memeluknya kembali dengan erat, dengan ketakutan yang nyata. 'Aku tidak ingin anak kita tumbuh seperti aku: tanpa ayah, dengan ibu yang hancur, dengan kehidupan yang penuh dengan rasa sakit.'
'Anak kita tidak akan tumbuh seperti itu, Arga. Anak kita akan tumbuh dengan ayah yang mencintainya, dengan ibu yang mencintainya, dengan keluarga yang utuh.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang teguh. 'Kita akan menjadi keluarga yang utuh, Arga. Kita akan menjadi keluarga yang bahagia. Saya janji.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya memeluk Larasati dengan erat, dan untuk pertama kalinya, Larasati merasakan bahwa Arga tidak hanya takut. Arga juga ingin percaya. Arga juga ingin menjadi ayah yang baik. Arga juga ingin menjadi bagian dari keluarga yang utuh.
'Kita akan mencoba, Arga,' kata Larasati pelan. 'Kita akan mencoba menjadi keluarga yang bahagia. Kita akan mencoba menjadi orang tua yang baik. Bersama-sama.'
Arga mengangguk pelan, tidak melepaskan pelukannya. 'Bersama-sama, Larasati. Kita akan mencoba bersama-sama.'
Malam itu, mereka berbicara tentang masa depan keluarga mereka dengan lebih tenang. Mereka berbicara tentang bagaimana mereka akan membesarkan anak mereka dengan cinta, dengan kepercayaan, dengan kebersamaan. Mereka berbicara tentang bagaimana mereka akan menjadi orang tua yang baik, yang tidak akan menghancurkan anak mereka seperti orang tua mereka menghancurkan mereka.
Dan untuk pertama kalinya, Arga tidak lagi takut. Arga tidak lagi khawatir. Arga tidak lagi merasa bahwa ia akan menghancurkan keluarganya seperti ayahnya menghancurkan keluarganya.
Arga percaya pada Larasati. Arga percaya pada diri mereka berdua. Arga percaya bahwa mereka bisa menjadi keluarga yang bahagia.
Dan itu mengubah segalanya.