Larasati tidak menyangka bahwa kehidupan mereka akan berubah dengan cara yang tidak pernah mereka bayangkan. Ia tidak menyangka bahwa ia akan hamil.
Ia mengetahuinya di pagi hari, ketika ia merasa mual dan pusing yang tidak biasa. Ia tidak berpikir apa-apa pada awalnya, hanya mengira bahwa ia kelelahan karena bekerja terlalu keras. Tapi ketika mual itu berlanjut selama beberapa hari, ia memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter.
Dokter itu memberitahunya dengan senyum yang hangat, 'Selamat, Nyonya Mahesa. Anda hamil.'
Larasati tidak bisa berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya duduk di sana, di kantor dokter, dengan hasil tes di tangannya, dan tidak bisa memproses kata-kata itu. Ia hamil. Ia akan menjadi ibu. Ia akan memiliki anak dengan Arga.
Ia tidak tahu apakah ia bahagia atau takut. Ia tidak tahu apakah ia siap untuk menjadi ibu. Ia tidak tahu bagaimana Arga akan bereaksi.
Ia tidak memberitahu Arga langsung. Ia tidak memberitahu siapa pun. Ia hanya menyimpan rahasia itu selama beberapa hari, mencoba memahami apa yang ia rasakan, mencoba memahami apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tapi Arga tahu ada sesuatu yang berbeda dengan Larasati. Ia tahu ada sesuatu yang tidak biasa. Ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan Larasati darinya.
Suatu malam, ketika mereka makan malam bersama di dapur, Arga menatap Larasati dengan tatapan yang tidak bisa dibaca. 'Kau menyembunyikan sesuatu dariku.'
Larasati menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa berbohong. 'Saya tidak menyembunyikan apa-apa, Arga.'
'Kau menyembunyikan sesuatu, Larasati. Aku bisa melihatnya di matamu. Aku bisa melihat bahwa ada sesuatu yang tidak kau katakan padaku.' Arga menatapnya dengan tatapan yang dalam. 'Katakan padaku, Larasati. Katakan padaku apa yang sedang terjadi.'
Larasati tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Arga benar-benar peduli. Arga benar-benar ingin tahu. Arga benar-benar ingin menjadi bagian dari kehidupannya.
'Saya hamil, Arga,' kata Larasati akhirnya, suaranya pelan, suaranya bergetar. 'Saya hamil anakmu.'
Arga tidak bergerak untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, Larasati melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat di mata Arga: kebahagiaan yang murni, kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan, kebahagiaan yang nyata.
'Kau hamil,' kata Arga, suaranya serak. 'Kau hamil anakku.'
'Ya.' Larasati tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia tidak tahu apakah Arga bahagia atau tidak. Ia tidak tahu apakah Arga menginginkan anak ini atau tidak.
Arga berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah Larasati. Ia berlutut di depannya, mengambil tangan Larasati dengan tangan yang gemetar, dan menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan kebahagiaan.
'Aku akan menjadi ayah,' kata Arga, suaranya serak. 'Aku akan menjadi ayah, Larasati. Aku akan menjadi ayah.'
Larasati menatapnya, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Arga benar-benar bahagia. Arga benar-benar menginginkan anak ini. Arga benar-benar ingin menjadi ayah.
'Tapi...' Arga berhenti, dan kebahagiaan di matanya berubah menjadi ketakutan yang mendalam. 'Tapi aku takut, Larasati. Aku takut kehilanganmu. Aku takut kehilangan anak kita. Aku takut bahwa aku akan menghancurkanmu seperti ayahku menghancurkan ibuku.'
Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Anda tidak akan menghancurkan saya, Arga. Anda tidak akan kehilangan saya. Dan Anda tidak akan kehilangan anak kita.'
'Aku tidak tahu itu, Larasati. Aku tidak tahu apakah aku bisa menjadi ayah yang baik. Aku tidak tahu apakah aku bisa melindungi kalian berdua.' Arga menatapnya dengan tatapan yang hancur. 'Aku tidak ingin kalian terluka. Aku tidak ingin kalian menjadi seperti ibuku dan aku.'
Larasati mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Arga dengan lembut. 'Anda tidak seperti ayah Anda, Arga. Anda tidak akan menghancurkan kami. Anda akan menjadi ayah yang baik. Saya tahu itu.'
Arga menatapnya dengan tatapan yang dalam, dengan ketakutan yang masih ada, dengan keinginan untuk percaya yang masih berjuang.
'Aku akan melindungi kalian berdua dengan nyawaku,' kata Arga, suaranya serak. 'Aku akan melindungi kalian berdua, Larasati. Aku berjanji.'
Larasati tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Arga tidak hanya bahagia. Arga juga takut. Arga juga khawatir. Arga juga ingin menjadi ayah yang baik.
Dan Larasati tahu bahwa Arga akan menjadi ayah yang baik. Ia tahu itu dengan sepenuh hati.