Setelah malam romantis itu, Arga dan Larasati mulai hidup sebagai pasangan sungguhan. Mereka tidak lagi hanya berbagi atap yang sama dengan aturan kontrak; mereka berbagi kehidupan dengan cinta yang nyata.
Mereka mulai melakukan hal-hal yang pasangan normal lakukan: belanja bersama di supermarket, masak bersama di dapur, nonton film di ruang tamu dengan selimut yang sama. Hal-hal kecil yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya, hal-hal yang membuat mereka merasa seperti pasangan sungguhan.
Suatu akhir pekan, Arga mengajak Larasati belanja di supermarket untuk pertama kalinya. Mereka berjalan berdampingan di lorong-lorong supermarket, dengan troli belanja di antara mereka, dan Arga tidak melepaskan tangan Larasati dari pinggangnya.
'Kita butuh susu,' kata Larasati, mengambil satu kotak susu dari rak dan meletakkannya di troli.
'Kita juga butuh buah,' kata Arga, mengambil beberapa apel dan meletakkannya di troli juga. 'Ibu suka apel.'
Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Anda ingat bahwa ibu suka apel?'
'Aku ingat segalanya tentang ibu.' Arga menatapnya dengan tatapan yang hangat. 'Dan aku ingin kau juga mengenalnya lebih baik. Aku ingin kau menjadi bagian dari keluargaku.'
Larasati tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ia benar-benar menjadi bagian dari kehidupan Arga. Bukan hanya istri kontrak. Bukan hanya peran. Tapi bagian dari keluarganya.
Mereka melanjutkan belanja dengan Arga yang tidak melepaskan tangan Larasati dari pinggangnya, dan Larasati merasa bahwa untuk pertama kalinya, ia tidak sendirian lagi. Ia memiliki Arga. Dan Arga memiliki dia.
Malam itu, mereka masak bersama di dapur. Arga tidak tahu cara memasak dengan benar, tapi ia mencoba. Larasati mengajarinya dengan sabar, dan mereka tertawa ketika Arga hampir membakar pasta yang ia masak.
'Kau tidak pernah memasak sebelumnya?' tanya Larasati, tertawa ketika Arga mengaduk pasta dengan ekspresi yang bingung.
'Tidak pernah. Ibuku yang selalu memasak untukku ketika aku kecil, dan setelah itu, pelayan yang memasak untukku.' Arga menatapnya dengan tatapan yang malu. 'Aku tidak tahu bagaimana cara menjadi suami yang baik kalau aku tidak bisa memasak.'
'Kau tidak perlu bisa memasak untuk menjadi suami yang baik, Arga. Kau hanya perlu mencintaiku dengan benar.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Dan kau sudah melakukannya.'
Arga tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak mengharapkan apa-apa darinya selain cintanya. Larasati tidak mengharapkan kemewahan, tidak mengharapkan kemampuan memasak, tidak mengharapkan apa-apa selain kehadirannya.
'Aku mencintaimu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Saya juga mencintaimu, Arga,' kata Larasati, tersenyum tipis. 'Saya juga mencintaimu dengan cara yang tidak bisa saya jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
Mereka melanjutkan masak bersama, dengan tawa yang tulus, dengan kebersamaan yang nyata. Dan ketika mereka akhirnya makan malam bersama di meja kecil di dapur, mereka tidak lagi hanya dua orang asing yang mencoba. Mereka adalah pasangan sungguhan.
Malam itu, mereka nonton film di ruang tamu dengan selimut yang sama, dengan Larasati bersandar di dada Arga, dengan Arga memeluknya dengan erat. Mereka tidak berbicara banyak. Mereka hanya menikmati kebersamaan, menikmati kehadiran satu sama lain, menikmati cinta yang sudah tumbuh di antara mereka.
Dan untuk pertama kalinya, Larasati merasa bahwa ia benar-benar bahagia. Bahwa ia benar-benar memiliki kehidupan yang ia inginkan. Bahwa ia benar-benar tidak sendirian lagi.