Setelah semua yang sudah terjadi — serangan Nadia, serangan Celine, semua kebohongan dan kebencian — Arga dan Larasati akhirnya mendapatkan malam untuk diri mereka sendiri. Malam yang tenang, malam yang damai, malam yang penuh dengan keintiman emosi yang dalam.
Arga memasak makan malam untuk Larasati di dapur mansion, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Ia memasak pasta dengan saus tomat yang ia buat sendiri, dan Larasati duduk di meja kecil di dapur, menonton Arga memasak dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan.
'Anda tidak perlu memasak untuk saya, Arga,' kata Larasati, tersenyum tipis.
'Aku ingin memasak untukmu. Aku ingin melakukan sesuatu untukmu, sesuatu yang bukan pekerjaan, sesuatu yang bukan bisnis.' Arga menatapnya dengan tatapan yang hangat. 'Aku ingin kita menjadi pasangan normal malam ini.'
Larasati tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia melihat Arga yang sebenarnya: bukan CEO yang dingin, bukan pria yang kuat, tapi pria yang ingin menjadi suami yang baik, pria yang ingin membuat Larasati bahagia.
Mereka makan malam di dapur, di meja kecil, dengan lilin yang menyala redup. Mereka berbicara tentang hal-hal kecil, tentang pekerjaan, tentang anak-anak jalanan, tentang ibu Arga yang semakin sehat. Mereka tidak berbicara tentang Nadia. Mereka tidak berbicara tentang Celine. Mereka hanya berbicara tentang mereka, tentang kehidupan mereka, tentang masa depan mereka.
Setelah makan malam, Arga mengajak Larasati berdansa di ruang tamu, dengan musik yang lembut mengalun dari speaker kecil. Ia tidak tahu bagaimana cara berdansa dengan benar, tapi ia tidak peduli. Ia hanya ingin memeluk Larasati, ingin merasakan kehadirannya, ingin merasakan bahwa ia tidak sendirian lagi.
'Aku tidak tahu cara berdansa dengan benar,' kata Arga, tertawa kecil ketika ia hampir menginjak kaki Larasati.
'Saya juga tidak tahu,' kata Larasati, tertawa juga. 'Kita akan belajar bersama.'
Mereka berdansa dengan canggung, dengan langkah yang tidak teratur, dengan tawa yang tulus. Arga memeluk Larasati dengan erat, dan Larasati memeluknya kembali, dan untuk pertama kalinya, mereka merasa bahwa mereka benar-benar bersama, benar-benar nyata, benar-benar tidak berpura-pura.
'Aku tidak tahu apa yang aku lakukan tanpamu, Larasati,' bisik Arga di telinganya. 'Aku tidak tahu bagaimana cara hidup tanpamu lagi.'
'Anda tidak perlu tahu, Arga. Anda tidak perlu hidup tanpa saya lagi.' Larasati memeluknya lebih erat. 'Saya di sini. Saya tidak akan pergi.'
Mereka berhenti berdansa, tapi tidak melepaskan pelukan mereka. Mereka berdiri di tengah ruang tamu, dalam cahaya lilin yang redup, dan menatap satu sama lain dengan kebenaran yang tidak bisa disangkal lagi.
'Aku mencintaimu, Larasati,' kata Arga, suaranya serak. 'Aku mencintaimu dengan sepenuh hati, dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Saya juga mencintaimu, Arga,' kata Larasati, suaranya bergetar. 'Saya juga mencintaimu dengan sepenuh hati, dengan cara yang tidak bisa saya jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
Arga mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Larasati dengan lembut, sama seperti malam di balkon itu. Tapi kali ini, Larasati tidak mundur. Ia tidak menarik wajahnya. Ia hanya menatap Arga, dan membiarkan Arga menyentuhnya.
Arga menciumnya, dan ciuman itu tidak seperti ciuman pertama mereka di malam rekonsiliasi. Ciuman itu lebih dalam, lebih penuh dengan kebenaran, lebih penuh dengan cinta yang tidak bisa disangkal lagi.
Mereka tidak berhenti berciuman untuk waktu yang lama. Mereka hanya berdiri di sana, di tengah ruang tamu, dalam cahaya lilin yang redup, dan membiarkan cinta mereka mengambil alih.
Pintu kamar tertutup, dan ketika pagi datang, Arga dan Larasati tidak lagi hanya dua orang yang mencoba. Mereka adalah dua orang yang sudah jatuh cinta, yang sudah memilih satu sama lain, yang sudah memutuskan untuk menjadi pasangan sungguhan.
Mereka sudah menjadi suami istri yang sebenarnya.