Setelah konferensi pers Arga, Celine tidak menyerah. Ia tidak berhenti menyerang Larasati. Ia menggunakan cara lain: menghubungi keluarga Arga, menghubungi investor, menghubungi siapa pun yang bisa ia pengaruhi untuk menghancurkan Larasati.
Tapi Larasati tidak lagi hancur. Ia tidak lagi tenggelam. Ia sudah belajar dari semua yang sudah terjadi, dan ia sudah menjadi lebih kuat.
Suatu hari, Celine muncul di kantor yayasan amal tanpa diundang, dengan wajah yang penuh dengan kemenangan palsu. Ia tidak membawa siapa pun. Ia hanya membawa dirinya dan kebenciannya.
'Kau pikir kau sudah menang, Larasati?' kata Celine, berdiri di depan meja Larasati dengan tatapan yang dingin. 'Kau pikir Arga benar-benar mencintaimu? Kau pikir kau bisa bertahan lama-lama dengan Arga?'
Larasati menatapnya dengan tatapan yang tenang, tatapan yang tidak lagi takut, tatapan yang sudah belajar dari semua yang sudah terjadi. 'Saya tidak berpikir apa-apa, Celine. Saya hanya menjalani hidup saya dengan benar. Dan saya tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan saya lagi.'
Celine tidak mengharapkan jawaban itu. Ia tidak mengharapkan Larasati yang tenang, Larasati yang kuat, Larasati yang tidak lagi hancur.
'Kau akan hancur juga, Larasati. Arga akan membuangmu seperti dia membuangku. Arga tidak tahu apa itu cinta. Arga hanya tahu bagaimana cara menggunakan wanita.' Celine menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan kebencian. 'Dan ketika Arga selesai denganmu, kau akan menjadi seperti aku: hancur, sendirian, tidak punya apa-apa.'
Larasati tidak menjawab untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Celine, dan untuk pertama kalinya, ia melihat Celine yang sebenarnya: wanita yang hancur, wanita yang terluka, wanita yang tidak bisa move on dari masa lalu.
'Celine, saya minta maaf untuk apa yang terjadi antara Anda dan Arga,' kata Larasati pelan. 'Tapi saya tidak bisa mengubah masa lalu. Saya tidak bisa mengubah bahwa Arga tidak mencintai Anda lagi. Dan saya tidak bisa membiarkan Anda menghancurkan hidup saya karena itu.'
Celine menatapnya dengan tatapan yang berubah. Ia tidak mengharapkan Larasati yang seperti ini. Ia tidak mengharapkan Larasati yang memaafkannya. Ia tidak mengharapkan Larasati yang kuat.
'Kau... kau tidak akan menang, Larasati. Kau tidak akan bertahan lama-lama dengan Arga.' Celine menatapnya dengan tatapan yang tidak lagi yakin.
'Mungkin. Tapi saya tidak akan membiarkan Anda menghancurkan saya sebelum itu.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang teguh. 'Dan saya tidak akan membiarkan Anda menghancurkan hidup saya karena Anda tidak bisa move on dari masa lalu.'
Celine tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menatap Larasati dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan, lalu berbalik dan berjalan keluar dari kantor yayasan dengan langkah yang tidak lagi anggun.
Larasati tidak menangkap kemenangan itu. Ia tidak merasa bahagia. Ia hanya merasa lega bahwa ia sudah tidak lagi hancur. Ia sudah tidak lagi tenggelam. Ia sudah menjadi lebih kuat.
Malam itu, Arga datang ke kamar Larasati dengan tatapan yang khawatir. 'Celine datang ke kantor yayasan hari ini?'
'Ya.' Larasati tidak berbohong. 'Tapi saya tidak apa-apa, Arga. Saya sudah tidak lagi hancur. Saya sudah tidak lagi tenggelam.'
Arga menatapnya dengan tatapan yang dalam, dengan kekaguman yang nyata. 'Kau sudah berubah, Larasati. Kau sudah menjadi lebih kuat.'
'Saya harus berubah, Arga. Saya harus menjadi lebih kuat untuk bertahan dengan Anda.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Dan saya tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan saya lagi. Tidak Celine, tidak Nadia, tidak siapa pun.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, Larasati melihat bahwa Arga benar-benar bangga padanya. Arga benar-benar menghargai kekuatannya. Arga benar-benar mencintainya dengan cara yang nyata.
'Aku bangga padamu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku bangga dengan kekuatanmu. Aku bangga dengan keteguhanmu. Dan aku mencintaimu dengan sepenuh hati.'
Larasati tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia merasakan bahwa ia tidak lagi takut. Ia tidak lagi hancur. Ia sudah menjadi lebih kuat.
Dan ia siap untuk apa pun yang akan datang.