Pagi harinya, Arga Mahesa tidak pergi ke kantor. Ia duduk di ruang kerjanya, masih dengan pakaian yang sama dengan malam sebelumnya, dan menatap layar laptopnya tanpa benar-benar melihatnya. Di depannya, secangkir kopi hitam sudah dingin, tidak tersentuh.
Nadia sudah pergi. Arga mendengar suara koper diseret di lantai marmer sekitar jam tiga pagi, lalu suara pintu depan tertutup dengan pelan. Ia tidak turun. Ia tidak melihat. Ia hanya duduk di kegelapan dan mendengarkan sampai suara itu hilang, sampai rumah kembali sunyi, sampai ia sendirian lagi.
Sekarang, jam sembilan pagi, ia harus memutuskan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Karena ini bukan hanya tentang pernikahannya. Ini tentang perusahaan. Ini tentang citra. Ini tentang semua yang sudah ia bangun selama bertahun-tahun.
Teleponnya berdering. Nama di layar: Bu Sari, sekretaris pribadinya. Arga mengangkat tanpa berkata apa-apa.
'Pak Arga, maaf mengganggu pagi-pagi.' Suara Bu Sari hati-hati, seperti sudah menduga ada sesuatu yang tidak beres. 'Ada banyak panggilan dari media. Mereka bertanya tentang... tentang foto yang beredar semalam.'
Arga menutup matanya. 'Foto apa?'
Hening sejenak. 'Foto Bapak Dimas dan Ibu Nadia, Pak. Di dalam rumah Bapak. Ada yang mengambilnya dari luar, lewat jendela. Sudah tersebar di beberapa portal berita online.'
Arga membuka matanya. Tentu saja. Dimas tidak hanya berselingkuh dengan istrinya. Dimas juga memastikan semua orang tahu. Ini bukan hanya perselingkuhan. Ini adalah penghinaan publik.
'Kirim semua link-nya ke email saya,' kata Arga, suaranya datar. 'Dan atur konferensi pers siang ini. Jam dua.'
'Konferensi pers, Pak? Untuk apa?'
'Untuk mengumumkan perceraian saya.'
Bu Sari tidak menjawab selama beberapa detik. 'Baik, Pak. Saya akan atur.'
Arga menutup telepon dan membuka email. Ada belasan link yang sudah dikirim Bu Sari. Ia membuka yang pertama, dan di sana, di halaman utama sebuah portal gosip terkenal, ada foto itu. Foto Nadia dan Dimas di ruang tamu mereka, Dimas membungkuk ke arah Nadia, wajah mereka hampir bersentuhan. Foto itu diambil dari sudut yang membuat mereka terlihat seperti baru saja berciuman. Atau baru saja selesai.
Judulnya: "CEO Mahesa Group Dikhianati: Istri dan Sahabat Tertangkap Berselingkuh di Rumah Sendiri"
Arga tidak membaca artikelnya. Ia tidak perlu. Ia sudah tahu isinya. Ia hanya menatap foto itu selama beberapa detik, lalu menutup laptopnya.
Siang itu, jam dua tepat, Arga berdiri di depan puluhan wartawan di ruang konferensi Mahesa Group. Ia mengenakan jas hitam yang rapi, kemeja putih, dasi gelap. Wajahnya tenang, terkontrol, seperti tidak terjadi apa-apa. Hanya matanya yang menunjukkan kelelahan yang dalam.
'Terima kasih sudah datang,' kata Arga, suaranya mengisi ruangan tanpa perlu mikrofon. 'Saya tidak akan lama. Saya hanya ingin mengumumkan satu hal.'
Para wartawan diam, kamera siap, ponsel merekam.
'Per hari ini, saya mengajukan gugatan cerai terhadap istri saya, Nadia Mahesa. Alasan perceraian adalah perselingkuhan. Saya tidak akan memberikan komentar lebih lanjut tentang masalah pribadi saya. Saya minta media menghormati privasi saya dan keluarga saya selama proses ini berlangsung.'
Ruangan meledak dengan pertanyaan. Wartawan berteriak, mengangkat tangan, mencoba mendapatkan perhatiannya. Tapi Arga sudah selesai. Ia mengangguk sekali, lalu berbalik dan berjalan keluar, diikuti oleh tim keamanan dan Bu Sari.
Di dalam lift yang membawanya kembali ke kantornya, Bu Sari berdiri di sampingnya, hati-hati. 'Pak, ada beberapa investor yang menelepon. Mereka khawatir tentang dampak berita ini terhadap saham perusahaan.'
'Berapa banyak yang sudah turun?' tanya Arga, tidak melihat ke arah Bu Sari.
'Tiga persen pagi ini, Pak. Tapi analis memprediksi bisa lebih kalau berita ini terus berkembang.'
Arga mengangguk pelan. 'Atur pertemuan dengan para investor besar besok pagi. Saya akan jelaskan sendiri bahwa ini tidak akan mempengaruhi operasional perusahaan.'
'Baik, Pak.'
Lift berhenti di lantai tiga puluh. Arga keluar, berjalan ke kantornya, dan menutup pintu. Ia berdiri di tengah ruangan, di antara jendela-jendela besar yang menghadap kota, dan untuk pertama kalinya sejak malam sebelumnya, ia merasakan sesuatu yang bukan kekosongan.
Kemarahan.
Bukan kemarahan yang meledak-ledak. Bukan kemarahan yang membuatnya ingin menghancurkan sesuatu. Tapi kemarahan yang dingin, yang tenang, yang sudah mengeras menjadi keputusan.
Nadia tidak hanya mengkhianatinya. Nadia menghancurkan sesuatu yang sudah ia bangun dengan hati-hati. Dan Dimas? Dimas menghancurkan persahabatan sepuluh tahun. Keduanya sudah mengambil sesuatu darinya, dan mereka pikir mereka bisa lolos begitu saja.
Arga berjalan ke mejanya, duduk, dan membuka laptopnya. Ia mulai menulis email kepada tim hukumnya, menginstruksikan mereka untuk memastikan Nadia tidak mendapatkan satu sen pun dari perceraian ini. Ia juga menginstruksikan mereka untuk meninjau semua kontrak bisnis yang melibatkan Dimas atau perusahaan Dimas, dan memutuskan semuanya.
Ia tidak akan membiarkan mereka menang. Ia tidak akan membiarkan mereka menghancurkannya dan kemudian berjalan pergi dengan bahagia.
Malam itu, Arga tidak pulang ke mansion kosong itu. Ia tidur di kantornya, di sofa kulit di sudut ruangan, dengan laptop masih terbuka di mejanya dan kota yang berkilau di luar jendela.
Ia tidak bermimpi. Ia hanya tidur, dan ketika bangun keesokan paginya, keputusan itu sudah mengeras di dadanya: ia tidak akan pernah percaya cinta lagi. Tidak pernah lagi.