Celine tidak berhenti setelah acara gala. Ia tidak menyerah untuk menghancurkan Larasati dan mendapatkan Arga kembali. Ia menggunakan semua kekuasaannya, semua koneksinya, semua cara yang ia tahu untuk menghancurkan Larasati di depan publik.
Beberapa hari setelah acara gala, sebuah artikel muncul di portal gosip terkenal dengan judul: "Istri Baru Arga Mahesa: Adik Tiri Nadia yang Rebut Suami Kakaknya?"
Artikel itu penuh dengan kebohongan: bahwa Larasati merebut Arga dari Nadia, bahwa Larasati hanya mau harta Arga, bahwa Larasati adalah wanita yang tidak tahu malu yang menjual diri untuk uang. Artikel itu juga mengungkap bahwa Larasati adalah adik tiri Nadia, dan bahwa pernikahan Arga dan Larasati hanyalah kontrak untuk menghukum Nadia.
Larasati membaca artikel itu di kantor yayasan dengan tangan yang gemetar. Ia tidak bisa bernapas. Ia tidak bisa berpikir. Ia hanya duduk di sana, menatap layar komputernya, dan merasa seperti sedang tenggelam.
Teman-teman sekantornya tidak tahu harus berkata apa. Mereka hanya menatap Larasati dengan tatapan simpati, tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan.
Larasati tidak menelepon Arga. Ia tidak mengirim pesan. Ia hanya bekerja, mencoba berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, meskipun dunianya hancur lagi.
Tapi Arga tahu. Arga selalu tahu.
Ia datang ke kantor yayasan dengan wajah yang gelap, dengan kemarahan yang tidak bisa disembunyikan. Ia berdiri di depan Larasati dengan tatapan yang penuh dengan kekhawatiran.
'Kau tidak apa-apa?' tanya Arga, suaranya rendah.
Larasati menggeleng. Air matanya sudah mengalir tanpa bisa ditahan. 'Saya tidak bisa, Arga. Saya tidak bisa menghadapi ini lagi. Semua orang membenci saya. Semua orang menghakimi saya tanpa tahu kebenarannya.'
Arga berjalan ke arahnya dan berhenti di depannya. Ia tidak menyentuhnya, tapi ia berdiri cukup dekat sehingga Larasati bisa merasakan kehadirannya yang kuat.
'Larasati, dengarkan aku.' Suara Arga tenang tapi tegas. 'Kau tidak bersalah. Kau tidak melakukan kesalahan apa-apa. Celine yang menyerangmu. Celine yang mencoba menghancurkanmu. Dan aku tidak akan membiarkannya.'
'Tapi semua orang percaya padanya, Arga. Semua orang percaya bahwa saya merebut Anda dari Nadia. Semua orang percaya bahwa saya hanya mau harta Anda.' Larasati menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. 'Bagaimana saya bisa membuktikan bahwa itu tidak benar?'
'Kau tidak perlu membuktikan apa-apa, Larasati. Aku akan membuktikannya untukmu.' Arga menatapnya dengan tatapan yang dalam. 'Aku akan membuktikan bahwa kau adalah wanita yang baik, wanita yang tidak bersalah, wanita yang tidak pantas menerima semua ini.'
Larasati tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Arga benar-benar peduli. Arga benar-benar ingin melindunginya. Arga benar-benar tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya.
'Apa yang akan Anda lakukan?' tanya Larasati pelan.
'Aku akan mengadakan konferensi pers. Aku akan menceritakan kebenaran yang sebenarnya. Aku akan menunjukkan bukti bahwa Celine yang menyerangmu, bahwa Celine yang berbohong, bahwa Celine yang mencoba menghancurkanmu karena cemburu.' Arga tidak berkedip. 'Dan aku akan memastikan semua orang tahu bahwa kau adalah wanita yang baik, wanita yang tidak bersalah, wanita yang aku cintai.'
Larasati menatapnya dengan mata yang membesar. Arga tidak mengatakan itu sebelumnya. Arga tidak pernah mengatakan bahwa ia mencintai Larasati di depan publik.
'Arga—' suaranya hancur.
'Aku mencintaimu, Larasati. Aku mencintaimu, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkanmu.' Arga menatapnya dengan tatapan yang dalam, dengan kebenaran yang nyata. 'Dan aku akan membuktikannya pada semua orang.'
Konferensi pers itu berlangsung di ruang konferensi Mahesa Group, sama seperti konferensi pers sebelumnya. Tapi kali ini, Arga tidak hanya membela Larasati. Ia mengakui cintanya pada Larasati di depan semua orang.
'Saya tidak akan lama,' kata Arga di depan puluhan wartawan. 'Saya hanya ingin mengklarifikasi beberapa hal tentang tuduhan yang dilontarkan terhadap istri saya, Larasati Mahesa.'
Arga menunjukkan bukti-bukti: email Celine yang mengancam Larasati, rekaman telepon Celine yang mengakui bahwa ia ingin menghancurkan Larasati, dan kesaksian dari orang-orang yang melihat Celine menyerang Larasati.
'Celine Wijaya menyerang istri saya karena cemburu. Celine tidak bisa menerima bahwa saya sudah move on, bahwa saya sudah menemukan kebahagiaan dengan Larasati. Dan Celine mencoba menghancurkan Larasati dengan kebohongan.'
Wartawan bertanya, 'Pak Arga, apakah Anda mencintai Larasati, atau pernikahan Anda hanya kontrak?'
Arga menatap wartawan itu dengan tatapan yang tajam. 'Saya mencintai Larasati. Saya mencintainya dengan sepenuh hati, dan saya tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkannya.'
Konferensi pers itu berakhir dengan cepat, tapi dampaknya besar. Media mulai berbalik. Komentar-komentar di media sosial mulai berubah. Orang-orang mulai membela Larasati, mulai melihat kebenaran yang sebenarnya.
Malam itu, di dalam mobil pulang, Larasati menatap Arga dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. 'Anda mengatakan bahwa Anda mencintai saya di depan semua orang.'
Arga tidak menatapnya. Ia menatap lurus ke depan, dan untuk waktu yang lama, ia tidak berkata apa-apa. Lalu, akhirnya, ia berkata dengan suara yang hampir tidak terdengar, 'Aku tidak tahu apa yang aku rasakan. Tapi aku tahu bahwa aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu.'
Larasati tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya duduk di sana, di samping Arga, dan merasakan sesuatu yang hangat tumbuh di dadanya. Sesuatu yang menakutkan. Sesuatu yang indah.