Seminggu setelah mereka sepakat untuk mencoba hubungan sungguhan, Arga mengajak Larasati ke acara gala tahunan Mahesa Group. Ini adalah acara besar yang dihadiri oleh semua investor, mitra bisnis, dan media. Ini adalah acara pertama Larasati sebagai istri Arga yang sebenarnya, bukan istri kontrak.
Larasati mengenakan dress malam yang elegan berwarna biru gelap, rambutnya digelung rapi dengan beberapa helai jatuh di lehernya, dan berdiri di samping Arga dengan percaya diri. Arga mengenakan jas hitam yang rapi, dan ketika mereka masuk ke ballroom hotel mewah, semua mata tertuju pada mereka.
'Jangan khawatir,' bisik Arga di telinga Larasati, tangannya di pinggang Larasati dengan protektif. 'Aku di sini.'
Larasati tersenyum tipis. 'Saya tidak khawatir, Arga. Saya hanya... saya hanya tidak terbiasa dengan acara seperti ini.'
'Kau akan terbiasa. Aku akan membantumu.' Arga menatapnya dengan tatapan yang hangat. 'Kau luar biasa malam ini, Larasati. Kau memukau semua orang.'
Larasati merasakan pipinya memanas. 'Terima kasih, Arga.'
Mereka berjalan masuk ke ballroom, dan Arga memperkenalkan Larasati kepada para investor dan mitra bisnis dengan bangga. Ia tidak lagi memperkenalkan Larasati sebagai istri kontrak. Ia memperkenalkan Larasati sebagai istrinya, sebagai wanita yang ia cintai, sebagai pasangan yang sebenarnya.
'Pak Hendra, ini istri saya, Larasati Mahesa,' kata Arga pada salah satu investor besar. 'Dia yang menangani yayasan amal kami dan proyek perpustakaan komunitas yang sudah Anda dengar.'
Pak Hendra menjabat tangan Larasati dengan tatapan yang berubah dari menilai menjadi menghargai. 'Senang bertemu dengan Anda, Nyonya Mahesa. Saya sudah mendengar banyak tentang pekerjaan Anda di yayasan amal. Luar biasa.'
'Terima kasih, Pak Hendra. Saya hanya melakukan apa yang saya sukai.' Larasati tersenyum dengan percaya diri.
Mereka berjalan dari satu kelompok ke kelompok lain, dan Arga tidak pernah melepaskan tangan Larasati dari pinggangnya. Ia melindungi, mendukung, dan memperkenalkan Larasati dengan bangga, dan Larasati merasa bahwa untuk pertama kalinya, ia benar-benar menjadi bagian dari kehidupan Arga.
Tapi tidak semua orang senang dengan kehadiran Larasati. Di sudut ballroom, Larasati melihat seorang wanita dengan dress merah yang mencolok, menatapnya dengan tatapan yang dingin dan penuh dengan kebencian.
Arga melihat tatapan Larasati dan mengikuti arah pandangnya. Wajahnya berubah sedikit ketika ia melihat wanita itu.
'Itu Celine,' kata Arga pelan. 'Mantan tunanganku sebelum Nadia.'
Larasati menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dibaca. 'Dia masih mencintaimu?'
'Aku tidak tahu. Aku tidak peduli.' Arga menatapnya dengan tatapan yang teguh. 'Yang aku peduli adalah kau, Larasati. Hanya kau.'
Tapi Celine tidak peduli dengan kata-kata Arga. Ia berjalan ke arah mereka dengan langkah yang anggun, dan berhenti di depan Arga dan Larasati dengan senyum yang tidak sampai ke mata.
'Arga, lama tidak bertemu,' kata Celine, suaranya manis tapi dingin. 'Dan ini pasti istri barumu. Adik tiri Nadia, kan?'
Arga langsung berdiri di antara Celine dan Larasati, melindungi Larasati. 'Celine, pergi.'
Celine tidak menghiraukan Arga. Matanya menatap Larasati dengan tatapan yang penuh dengan kebencian. 'Kau pikir kau siapa, Larasati? Kau pikir kau bisa merebut Arga dari semua wanita yang lebih pantas untuknya? Kau hanya adik tiri Nadia. Kau tidak lebih dari itu.'
Larasati merasakan darahnya naik ke wajahnya, tapi ia menahan diri. 'Saya tidak merebut siapa-siapa, Celine. Arga dan saya menikah karena kami saling mencintai.'
'Mencintai?' Celine tertawa, suara tawa yang pahit. 'Arga tidak tahu apa itu cinta. Dia hanya tahu bagaimana cara menggunakan wanita untuk tujuannya. Dia menggunakanmu untuk menghukum Nadia, dan ketika dia selesai denganmu, dia akan membuangmu seperti dia membuangku.'
Arga bergerak maju, suaranya dingin dan berbahaya. 'Celine, aku tidak akan mengulanginya. Pergi. Sekarang.'
Celine menatap Arga dengan tatapan yang penuh dengan kebencian. 'Kau akan menyesal ini, Arga. Kau akan menyesal memilih dia daripada aku.'
Ia berbalik dan berjalan pergi dengan langkah yang anggun, meninggalkan Larasati dan Arga berdiri di tengah ballroom dengan semua mata tertuju pada mereka.
Arga menatap Larasati dengan tatapan yang khawatir. 'Kau tidak apa-apa?'
Larasati mengangguk, meskipun ia tidak yakin. 'Saya tidak apa-apa, Arga. Saya sudah terbiasa dengan orang-orang seperti Celine.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, Larasati melihat sesuatu yang rapuh di matanya: kekhawatiran bahwa Larasati akan terluka, kekhawatiran bahwa Larasati akan meninggalkannya karena semua ini.
'Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Tidak Celine, tidak Nadia, tidak siapa pun.'
Larasati tersenyum, dan untuk pertama kalinya sejak malam itu, ia merasakan bahwa ia tidak sendirian. Ia memiliki Arga. Dan Arga memiliki dia.
Dan itu sudah cukup.