Pagi setelah malam rekonsiliasi itu terasa berbeda. Larasati bangun dengan perasaan yang campur aduk: bahagia, takut, tapi juga sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Ia tidak lagi hanya istri kontrak. Ia tidak lagi hanya berperan. Ia adalah wanita yang sudah jatuh cinta pada suaminya, dan suaminya juga sudah jatuh cinta padanya.
Arga sudah bangun ketika Larasati turun ke ruang makan. Ia duduk di meja, dengan kopi di tangannya, dan ketika Larasati masuk, ia tersenyum — bukan senyum yang sopan, bukan senyum yang dingin, tapi senyum yang hangat, yang tulus, yang nyata.
'Pagi,' kata Arga, suaranya lembut.
'Pagi,' jawab Larasati, duduk di sampingnya, bukan di ujung meja seperti biasa.
Mereka makan dalam keheningan yang tidak lagi canggung. Keheningan yang terasa seperti kebersamaan. Keheningan yang penuh dengan hal-hal yang tidak terkatakan tapi juga tidak perlu dikatakan.
Akhirnya, Arga berbicara, suaranya pelan. 'Kita perlu membicarakan tentang kontrak.'
Larasati mengangkat kepalanya, menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dibaca. 'Baik.'
'Kontrak itu sudah tidak berlaku lagi.' Arga menatapnya dengan tatapan yang dalam. 'Aku tidak ingin kita menjadi pasangan kontrak. Aku ingin kita menjadi pasangan sungguhan.'
Larasati merasakan jantungnya berdebar keras. 'Apa maksud Anda, Arga?'
'Aku ingin kita mencoba hubungan sungguhan, Larasati. Bukan kontrak. Bukan peran. Sungguhan.' Arga menatapnya dengan tatapan yang dalam, dengan kebenaran yang nyata. 'Aku ingin kita menjadi suami istri yang sebenarnya.'
Larasati tidak bisa bernapas. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Arga benar-benar serius. Arga benar-benar ingin mencoba hubungan sungguhan. Arga benar-benar ingin mereka menjadi suami istri yang sebenarnya.
'Aku juga menginginkannya, Arga,' kata Larasati pelan, suaranya bergetar. 'Aku juga ingin kita menjadi pasangan sungguhan.'
Arga tersenyum, dan untuk pertama kalinya, Larasati melihat senyum yang benar-benar bahagia di wajahnya. 'Baik. Kalau begitu kita sepakat. Kita akan mencoba hubungan sungguhan. Kita akan menjadi suami istri yang sebenarnya.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya melanjutkan makan dalam keheningan yang penuh dengan kebahagiaan yang tidak terkatakan. Keheningan yang penuh dengan harapan.
Setelah makan, Arga berdiri dan berjalan ke arah Larasati. Ia mengulurkan tangannya, dan Larasati mengambilnya dengan tangan yang gemetar. Arga menarik Larasati berdiri, dan untuk pertama kalinya, ia memeluknya — pelukan yang hangat, yang nyata, yang mengatakan: aku di sini, aku nyata, aku tidak akan pergi.
'Aku tidak akan pernah menghancurkanmu, Larasati,' bisik Arga di telinganya. 'Aku tidak akan pernah menghancurkanmu seperti ayahku menghancurkan ibuku. Aku berjanji.'
'Aku percaya padamu, Arga,' bisik Larasati, memeluknya erat. 'Aku percaya padamu.'
Mereka berdiri di sana, berpelukan, dalam keheningan yang penuh dengan kebahagiaan. Dan untuk pertama kalinya, Larasati merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, mereka bisa bahagia.
Mereka bisa menjadi pasangan sungguhan.