Malam setelah Arga meminta maaf, mereka tidak langsung kembali seperti semula. Mereka tidak langsung melupakan apa yang sudah terjadi. Mereka tidak langsung berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Mereka berbicara. Berbicara dari hati ke hati, untuk pertama kalinya sejak mereka menikah.
Arga datang ke kamar Larasati di mansion malam itu, dengan dua cangkir teh hangat yang ia buat sendiri. Ia tidak membawa wine. Ia tidak membawa alkohol. Ia hanya membawa teh dan dirinya yang hancur.
'Kita perlu bicara,' kata Arga, berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang tidak bisa dibaca.
Larasati membuka pintu lebih lebar dan membiarkan Arga masuk. Arga duduk di kursi di samping tempat tidur, dan Larasati duduk di tepi tempat tidur, dan mereka menatap satu sama lain dalam keheningan yang tebal.
'Aku tidak tahu bagaimana cara memperbaiki ini,' kata Arga akhirnya, suaranya rendah. 'Aku tidak tahu bagaimana cara membuatmu percaya bahwa aku tidak akan pernah menghancurkanmu seperti ayahku menghancurkan ibuku.'
'Kau tidak perlu memperbaikinya, Arga. Kau hanya perlu tidak mengulanginya.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Kau hanya perlu tidak menghancurkanku seperti ayahmu menghancurkan ibumu.'
'Aku tidak akan mengulanginya. Aku berjanji.' Arga menatapnya dengan tatapan yang dalam. 'Aku tidak akan pernah menghancurkanmu, Larasati. Aku tidak akan pernah tidak percaya padamu lagi. Aku tidak akan pernah mengusirmu lagi.'
Larasati tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Arga benar-benar berubah. Arga benar-benar menyesal. Arga benar-benar ingin memperbaiki segalanya.
'Aku juga salah,' kata Larasati pelan. 'Aku juga salah karena tidak memberitahumu tentang keluargaku. Aku juga salah karena tidak mempercayaimu untuk menerima kebenaranku.'
'Kau tidak salah, Larasati. Kau tidak tahu apa-apa tentang keluargamu. Kau tidak tahu apa-apa tentang masa lalumu. Kau tidak bersalah.' Arga menatapnya dengan tatapan yang dalam. 'Yang bersalah adalah Nadia. Yang bersalah adalah keluarga Wijaya. Yang bersalah adalah keadaan yang tidak adil. Bukan kau.'
Mereka tidak berbicara untuk beberapa menit, hanya minum teh bersama dalam keheningan yang tidak lagi tebal. Keheningan yang mulai terasa seperti kebersamaan.
Akhirnya, Larasati berkata, suaranya pelan, 'Aku sudah jatuh cinta padamu, Arga. Aku sudah jatuh cinta padamu sejak lama, dan aku tidak bisa menahannya lagi.'
Arga menatapnya dengan mata yang membesar, dengan kejutan yang nyata, dengan keinginan untuk percaya yang masih berjuang.
'Aku juga sudah jatuh cinta padamu, Larasati,' kata Arga, suaranya serak. 'Aku juga sudah jatuh cinta padamu sejak lama, dan aku tidak bisa menahannya lagi.'
Mereka tidak bergerak untuk waktu yang lama. Mereka hanya menatap satu sama lain, dan untuk pertama kalinya, mereka melihat kebenaran di mata satu sama lain. Kebenaran yang nyata. Kebenaran yang tidak bisa disangkal.
Mereka sudah jatuh cinta satu sama lain.
Arga meletakkan cangkir tehnya di meja samping tempat tidur. Larasati melakukan hal yang sama. Mereka tidak bergerak, tidak berbicara, hanya menatap satu sama lain dalam keheningan yang tebal.
Arga mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Larasati dengan lembut, sama seperti malam di balkon itu. Tapi kali ini, Larasati tidak mundur. Ia tidak menarik wajahnya. Ia hanya menatap Arga, dan membiarkan Arga menyentuhnya.
'Larasati,' bisik Arga, suaranya serak.
'Arga,' bisik Larasati, suaranya bergetar.
Arga mendekat, wajahnya hanya beberapa senti dari wajah Larasati. Larasati bisa mencium bau teh di napasnya, bau malam, bau Arga.
Dan kali ini, Arga menciumnya.
Bukan ciuman yang keras. Bukan ciuman yang menuntut. Ciuman yang lembut, yang rapuh, yang nyata. Ciuman yang mengatakan: aku di sini, aku nyata, aku tidak akan pergi.
Larasati membalas ciuman itu, dengan tangan yang gemetar, dengan hati yang berdebar keras, dengan kebenaran yang tidak bisa disangkal lagi.
Pintu kamar tertutup, dan ketika pagi datang, Arga dan Larasati tidak lagi hanya dua orang asing yang berbagi atap yang sama. Mereka adalah dua orang yang sudah jatuh cinta, yang sudah memilih satu sama lain, yang sudah memutuskan untuk mencoba.
Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, mereka tidak lagi berpura-pura.
Mereka nyata.