Larasati tidak mendapatkan kesempatan untuk memberitahu Arga tentang kebenaran keluarganya karena sesuatu yang lebih penting terjadi: ia menemukan bukti bahwa Nadia memalsukan kehamilannya.
Larasati menemukan bukti itu secara tidak sengaja. Ia sedang mencari informasi tentang keluarga Wijaya di arsip lama ketika ia menemukan sebuah klinik kecil di pinggiran kota yang namanya tercatat di dokumen-dokumen Nadia. Klinik itu adalah klinik yang sama dengan yang mengeluarkan hasil tes kehamilan Nadia.
Larasati pergi ke klinik itu dengan pura-pura menjadi pasien. Ia membuat janji dengan dokter yang sama dengan yang menangani Nadia, dan ia bertanya tentang hasil tes kehamilan Nadia.
Dokter itu tidak tahu bahwa Larasati adalah istri Arga. Ia hanya mengira Larasati adalah pasien biasa yang ingin memeriksa kehamilan. Dan ketika Larasati bertanya apakah klinik itu bisa membuat hasil tes kehamilan palsu, dokter itu menjawab dengan jujur.
'Kami tidak membuat hasil tes palsu, Nona. Tapi ada beberapa pasien yang datang dengan hasil tes dari klinik lain dan meminta kami untuk mengubahnya. Kami tidak melakukannya, tapi kami tahu ada klinik lain yang melakukannya.'
Larasati merasakan jantungnya berdebar keras. 'Apakah Anda tahu apakah Nadia Mahesa datang ke klinik ini untuk membuat hasil tes palsu?'
Dokter itu menatapnya dengan tatapan yang berubah. 'Saya tidak bisa menjawab itu, Nona. Itu melanggar privasi pasien.'
'Tapi Anda juga tidak menyangkalnya.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang tajam. 'Dan itu sudah cukup untuk saya.'
Larasati keluar dari klinik itu dengan bukti yang ia butuhkan. Ia tidak punya bukti tertulis, tapi ia punya cukup informasi untuk membuktikan bahwa Nadia berbohong. Nadia tidak hamil. Nadia memalsukan kehamilannya untuk menghancurkan pernikahan Arga dan Larasati.
Larasati tidak tahu bagaimana cara memberitahu Arga. Arga tidak mau bicara dengannya. Arga tidak mau melihatnya. Tapi Larasati tidak bisa membiarkan Nadia menang. Ia tidak bisa membiarkan Arga tertipu.
Maka Larasati melakukan sesuatu yang berani: ia pergi ke kantor Mahesa Group tanpa diundang dan memaksa masuk ke kantor Arga.
Resepsionis mencoba menghentikannya, tapi Larasati tidak peduli. Ia berjalan langsung ke lift, menekan lantai tiga puluh, dan berjalan ke kantor Arga dengan langkah yang cepat.
Arga sedang bekerja di mejanya ketika Larasati masuk tanpa mengetuk. Ia mengangkat kepalanya dengan tatapan yang gelap, tatapan yang sudah lama tidak Larasati lihat.
'Keluar,' kata Arga, suaranya dingin.
'Tidak. Tidak sebelum Anda mendengar saya.' Larasati berdiri di depan meja Arga dengan tatapan yang teguh. 'Nadia berbohong, Arga. Nadia tidak hamil. Dia memalsukan hasil tes kehamilannya.'
Arga menatapnya dengan tatapan yang tidak berubah. 'Kau tidak punya bukti.'
'Saya punya.' Larasati menceritakan apa yang ia temukan di klinik itu, apa yang dikatakan dokter itu, dan bagaimana Nadia memalsukan kehamilannya. 'Nadia tidak hamil, Arga. Dia hanya mencoba menghancurkan kita. Lagi.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya sejak seminggu, Larasati melihat sesuatu yang bukan dingin di matanya: keraguan.
'Aku tidak tahu siapa yang harus aku percaya,' kata Arga akhirnya, suaranya hancur. 'Aku tidak tahu siapa yang berbohong. Aku tidak tahu apa yang benar.'
'Percaya pada saya, Arga. Percaya pada saya.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan kebenaran. 'Saya tidak berbohong. Saya tidak pernah berbohong pada Anda. Dan saya tidak akan pernah berbohong pada Anda.'
Arga menatapnya dengan tatapan yang dalam, dengan keraguan yang masih ada, dengan keinginan untuk percaya yang masih berjuang.
'Aku akan menyelidikinya,' kata Arga akhirnya. 'Aku akan menyelidiki apakah Nadia benar-benar hamil atau tidak. Dan kalau kau benar, kalau Nadia berbohong, aku akan... aku akan meminta maaf padamu.'
Larasati tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia merasakan harapan yang kecil tumbuh di dadanya.
Arga menyelidiki kehamilan Nadia, dan dua hari kemudian, ia menemukan kebenarannya: Nadia tidak hamil. Nadia memalsukan hasil tes kehamilan dengan membeli hasil dari klinik palsu. Nadia berbohong untuk menghancurkan pernikahan Arga dan Larasati.
Arga datang ke kantor yayasan untuk meminta maaf pada Larasati. Ia berdiri di depan Larasati dengan tatapan yang hancur, dengan penyesalan yang nyata.
'Maaf,' kata Arga, suaranya serak. 'Maaf karena tidak percaya padamu. Maaf karena mengusirmu. Maaf karena menghancurkanmu seperti ayahku menghancurkan ibuku.'
Larasati menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. 'Arga—'
'Aku tidak seharusnya tidak percaya padamu. Aku tidak seharusnya mengira bahwa kau seperti Nadia. Aku tidak seharusnya menghancurkanmu seperti ayahku menghancurkan ibuku.' Arga menatapnya dengan tatapan yang dalam, dengan penyesalan yang nyata. 'Aku minta maaf, Larasati. Aku minta maaf.'
Larasati tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Arga benar-benar menyesal. Arga benar-benar hancur. Arga benar-benar ingin memperbaiki kesalahannya.
'Aku memaafkanmu, Arga,' kata Larasati pelan. 'Aku memaafkanmu.'
Arga tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, Larasati melihat air mata di matanya. Air mata yang tidak pernah Larasati lihat sebelumnya. Air mata yang nyata.
Arga juga hancur. Arga juga terluka. Arga juga ingin memperbaiki segalanya.
Dan itu mengubah segalanya.