Larasati tidak pulang ke mansion selama seminggu. Ia tidak menelepon Arga. Ia tidak mengirim pesan. Ia hanya bekerja di yayasan amal, seperti tidak terjadi apa-apa, meskipun dunianya hancur.
Ia datang ke kantor yayasan setiap pagi, bekerja dengan anak-anak jalanan, mengurus proyek perpustakaan, dan tidak berbicara tentang apa yang terjadi. Teman-teman sekantornya tidak tahu apa yang terjadi, tapi mereka bisa melihat bahwa Larasati berubah. Ia tidak tersenyum lagi. Ia tidak bercanda lagi. Ia hanya bekerja, bekerja, dan bekerja.
Arga tidak menghubunginya. Tidak sekali pun. Dan Larasati tidak menghubunginya juga. Mereka seperti dua orang asing yang tidak pernah saling mengenal.
Tapi Larasati tidak menyerah. Ia tidak berhenti bekerja. Ia tidak berhenti membuktikan bahwa ia bukan seperti yang Nadia katakan. Ia tidak berhenti membuktikan bahwa ia adalah orang yang baik, orang yang tidak bersalah, orang yang tidak pantas dihukum karena kesalahan keluarganya.
Suatu hari, Larasati sedang bekerja di pusat kegiatan anak jalanan ketika seorang anak perempuan kecil mendekatinya dengan tatapan yang sedih.
'Ibu Larasati, kenapa Ibu tidak tersenyum lagi?' tanya anak itu, dengan mata yang besar dan penuh dengan kekhawatiran.
Larasati memaksakan senyum, tapi senyumnya tidak sampai ke matanya. 'Ibu hanya lelah, nak. Ibu tidak apa-apa.'
Anak itu tidak percaya. Ia duduk di samping Larasati dan memegang tangannya dengan tangan kecilnya. 'Ibu Larasati, kalau Ibu sedih, Ibu bisa cerita padaku. Aku akan mendengarkan.'
Larasati menatap anak itu, dan untuk pertama kalinya sejak seminggu, ia merasakan air matanya ingin jatuh. Ia memeluk anak itu dengan erat, dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ada seseorang yang peduli padanya tanpa syarat.
'Saya hanya sedih karena seseorang tidak percaya pada saya,' kata Larasati pelan. 'Saya sedih karena seseorang mengira saya adalah orang yang jahat, padahal saya tidak bersalah.'
Anak itu menatapnya dengan tatapan yang serius. 'Kalau Ibu tidak bersalah, Ibu harus membuktikannya. Ibu harus menunjukkan bahwa Ibu adalah orang yang baik.'
Larasati menatap anak itu, dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa anak itu benar. Ia tidak bisa menyerah. Ia tidak bisa membiarkan Nadia menang. Ia tidak bisa membiarkan Arga mengira bahwa ia adalah orang yang jahat.
Ia harus membuktikan bahwa ia tidak bersalah.
Malam itu, Larasati bekerja sampai larut di kantor yayasan, mencari informasi tentang keluarga Wijaya dan tentang apa yang terjadi dua puluh tahun lalu antara keluarganya dan keluarga Arga. Ia membaca dokumen-dokumen lama, artikel-artikel lama, dan mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Dan ia menemukan kebenarannya.
Keluarga Wijaya memang mencoba merebut perusahaan ayah Arga dua puluh tahun lalu. Tapi mereka gagal. Mereka hancur. Dan ayah Larasati, yang bekerja untuk keluarga Wijaya, dipecat dan dihukum karena keterlibatannya. Ayah Larasati tidak bersalah; ia hanya mengikuti perintah. Tapi ia dihukum juga.
Larasati membaca semua itu dengan mata yang membesar. Ia tidak tahu apa-apa tentang ini. Ia tidak tahu bahwa ayahnya pernah bekerja untuk keluarga Wijaya. Ia tidak tahu bahwa ayahnya dihukum karena kesalahan yang bukan kesalahannya.
Ia juga menemukan bahwa ayah Arga, yang saat itu masih hidup, tidak menghukum ayah Larasati secara langsung. Ayah Arga hanya memecat semua orang yang terlibat dengan keluarga Wijaya, termasuk ayah Larasati. Ayah Larasati tidak dihukum oleh ayah Arga; ia dihukum oleh keadaan, oleh kesalahan keluarga Wijaya, oleh sistem yang tidak adil.
Larasati membaca semua itu dan merasakan sesuatu yang lega di dadanya. Ia tidak bersalah. Ayahnya juga tidak bersalah. Mereka hanya korban dari keadaan yang tidak adil.
Ia harus memberitahu Arga. Ia harus membuktikan bahwa ia dan ayahnya tidak bersalah. Ia harus membuktikan bahwa Nadia salah.
Tapi Arga tidak mau bicara dengannya. Arga tidak mau melihatnya. Arga sudah menutup pintu.
Larasati tidak tahu bagaimana cara memberitahu Arga. Tapi ia tahu bahwa ia harus mencoba. Ia harus membuktikan bahwa ia tidak bersalah. Ia harus membuktikan bahwa cinta mereka nyata.
Ia harus membuktikan bahwa mereka pantas untuk bahagia.