Keputusan Larasati untuk tinggal tidak berlangsung lama tanpa tantangan. Tiga hari setelah Arga mengakui bahwa ia membutuhkan Larasati, Nadia muncul kembali dengan senjata baru: rahasia keluarga Larasati yang sudah lama terkubur.
Nadia muncul di mansion tanpa diundang, dengan wajah yang penuh dengan kemenangan. Ia tidak membawa hasil tes kehamilan lagi. Ia membawa sesuatu yang lebih berbahaya: dokumen-dokumen lama.
'Arga, ada sesuatu yang perlu kau ketahui tentang istri barumu,' kata Nadia, berdiri di ruang tamu dengan tatapan yang dingin. 'Sesuatu yang dia sembunyikan darimu.'
Arga berdiri di depan Nadia dengan wajah yang gelap. 'Pergi, Nadia. Kau tidak punya urusan di sini.'
'Oh, tapi aku punya urusan, Arga. Aku punya urusan untuk memberitahumu bahwa kau sudah menikahi musuhmu.' Nadia melempar dokumen-dokumen itu ke meja. 'Larasati adalah anak dari keluarga Wijaya. Keluarga yang dulu hampir menghancurkan perusahaan ayahmu. Keluarga yang dulu mencoba merebut Mahesa Group dari tangan ayahmu.'
Larasati membeku di ambang pintu. Ia tidak tahu apa yang Nadia bicarakan. Ia tidak tahu apa-apa tentang keluarga Wijaya atau tentang perusahaan ayah Arga.
Arga mengambil dokumen-dokumen itu dan membacanya dengan cepat. Wajahnya berubah dari gelap menjadi pucat. Ia menatap Larasati dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan: campuran antara kemarahan, kebingungan, dan pengkhianatan.
'Ini benar?' tanya Arga pada Larasati, suaranya rendah dan berbahaya.
Larasati menggeleng, bingung. 'Saya tidak tahu apa yang dia bicarakan, Arga. Saya tidak tahu apa-apa tentang keluarga Wijaya atau tentang perusahaan Anda.'
'Dia berbohong, Arga. Dia tahu. Dia selalu tahu.' Nadia menatap Larasati dengan tatapan yang penuh dengan kebencian. 'Keluarganya mencoba menghancurkan keluargamu dua puluh tahun lalu. Mereka mencoba merebut perusahaan ayahmu dengan cara yang licik. Dan sekarang dia menikahimu untuk menyelesaikan apa yang keluarganya mulai.'
'Itu tidak benar!' Larasati berteriak, suaranya hancur. 'Saya tidak tahu apa-apa tentang itu! Saya tidak tahu apa-apa tentang keluarga saya atau tentang perusahaan Anda!'
Arga menatapnya dengan tatapan yang dingin, tatapan yang sudah lama tidak Larasati lihat sejak awal pernikahan kontrak mereka. Tatapan yang penuh dengan pengkhianatan.
'Keluar,' kata Arga pada Larasati, suaranya rendah. 'Keluar dari rumahku. Sekarang.'
Larasati tidak bisa bergerak. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Arga tidak percaya padanya. Arga tidak percaya bahwa ia tidak tahu apa-apa. Arga tidak percaya bahwa ia tidak bersalah.
'Arga, please—' suaranya hancur.
'Keluar.' Arga tidak berkedip. 'Aku tidak akan mengulanginya.'
Larasati tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya berdiri di sana, menatap Arga, dan merasakan dunianya runtuh lagi. Lalu ia berbalik dan berjalan keluar dari mansion, dengan air mata yang mengalir di wajahnya, dengan hati yang hancur.
Nadia tersenyum di belakangnya, senyum yang penuh dengan kemenangan.
Malam itu, Larasati tidak tahu harus pergi ke mana. Ia tidak bisa kembali ke rumah sakit karena ia tidak ingin ibunya melihatnya hancur. Ia tidak bisa pergi ke teman-temannya karena ia tidak ingin mereka tahu apa yang terjadi.
Ia berakhir di sebuah hotel murah di pinggiran kota, dan untuk pertama kalinya sejak ia menikah dengan Arga, ia menangis dengan keras, dengan keras, tanpa bisa berhenti.
Ia tidak tahu apa yang terjadi. Ia tidak tahu kenapa Arga tidak percaya padanya. Ia tidak tahu bagaimana cara membuktikan bahwa ia tidak bersalah.
Tapi ia tahu satu hal: ia sudah kehilangan Arga. Lagi.