Larasati tidak pulang ke mansion selama dua hari. Ia tidur di rumah sakit, di samping tempat tidur ibunya, dan mencoba memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Nadia hamil. Nadia mengaku hamil anak Arga. Dan meskipun Larasati tidak tahu apakah itu benar atau tidak, ia tidak bisa mengabaikan rasa sakit yang menghantam dadanya.
Ia sudah jatuh cinta pada Arga. Ia tahu itu sekarang. Tapi cintanya tidak akan pernah bisa menjadi apa-apa. Arga menikahinya hanya untuk balas dendam. Dan sekarang, dengan Nadia mengaku hamil, Arga harus menghadapi kenyataan bahwa ia mungkin akan menjadi ayah.
Larasati tidak bisa tinggal. Ia tidak bisa melihat Arga memilih Nadia dan anak mereka. Ia tidak bisa melihat Arga meninggalkannya untuk keluarga yang sebenarnya.
Maka Larasati memutuskan untuk pergi.
Ia mengemas barang-barangnya di mansion dengan tangan yang gemetar. Ia tidak membawa banyak — hanya beberapa pakaian dan buku-bukunya. Ia tidak membawa apa pun yang dibelikan Arga untuknya. Ia tidak membawa apa pun yang mengingatkannya pada kontrak ini.
Ia menulis surat untuk Arga, surat yang singkat dan jelas:
'Arga,
Aku pergi. Aku tidak bisa tinggal di sini lagi, tidak setelah apa yang terjadi. Aku tidak bisa melihatmu memilih Nadia dan anaknya. Aku tidak bisa berpura-pura bahwa aku tidak terluka.
Kontrak kita sudah selesai. Ibu sudah mendapatkan perawatan yang dibutuhkannya, dan aku sudah memenuhi peranku sebagai istri di depan publik. Sekarang aku harus pergi untuk melindungi diriku sendiri.
Maaf jika aku mengecewakanmu. Tapi aku tidak bisa tinggal.
Larasati'
Larasati meletakkan surat itu di meja di kamar tidurnya, di samping cincin pernikahan yang Arga berikan padanya. Ia menatap cincin itu untuk waktu yang lama, memikirkan semua yang sudah terjadi, semua yang sudah ia rasakan, semua yang sudah hancur.
Lalu ia mengambil kopernya dan berjalan keluar dari kamar, menuruni tangga, menuju pintu depan.
Tapi Arga sudah ada di sana, berdiri di depan pintu dengan wajah yang gelap dan mata yang penuh dengan kepanikan.
'Kau mau pergi ke mana?' tanya Arga, suaranya rendah dan berbahaya.
Larasati berhenti, koper di tangannya. 'Saya pergi, Arga. Saya tidak bisa tinggal di sini lagi.'
'Kau tidak bisa pergi.' Arga berjalan ke arahnya, langkahnya cepat, dan berhenti di depannya. 'Kau tidak bisa meninggalkanku seperti ini.'
'Aku harus pergi, Arga. Aku tidak bisa melihatmu memilih Nadia dan anaknya. Aku tidak bisa—'
'Aku tidak memilih Nadia!' Suara Arga naik, dan untuk pertama kalinya, Larasati melihat kepanikan yang nyata di matanya. Kepanikan yang mendalam. Kepanikan yang hancur. 'Aku tidak memilih Nadia. Aku tidak tahu apakah anak itu anakku. Aku tidak peduli. Yang aku tahu adalah bahwa aku tidak ingin kau pergi.'
Larasati menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. 'Arga, aku tidak bisa—'
'Aku tidak akan membiarkanmu pergi.' Arga mengambil koper dari tangan Larasati dan meletakkannya di lantai. Ia berdiri di depan Larasati, dekat, terlalu dekat, dan Larasati bisa merasakan kehadirannya yang kuat. 'Aku tidak akan membiarkanmu meninggalkanku seperti ini. Tidak setelah semua yang sudah terjadi. Tidak setelah aku mulai...'
Arga berhenti, tidak melanjutkan kata-katanya. Tapi Larasati tahu apa yang ingin ia katakan. Larasati tahu apa yang ia rasakan. Karena Larasati merasakannya juga.
'Mulai apa?' tanya Larasati pelan, suaranya bergetar.
Arga menatapnya dengan tatapan yang dalam, dengan kepanikan yang masih ada tapi juga dengan sesuatu yang lain: kebutuhan. Kebutuhan yang nyata. Kebutuhan yang tidak bisa disembunyikan.
'Mulai membutuhkanmu,' kata Arga, suaranya serak. 'Mulai membutuhkanmu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan. Mulai membutuhkanmu dengan cara yang menakutkan.'
Larasati tidak bisa bernapas. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia melihat Arga yang sebenarnya: bukan CEO yang kuat, bukan pria yang dingin, tapi pria yang takut kehilangan, pria yang membutuhkan, pria yang juga sudah jatuh cinta.
'Aku tidak bisa tinggal jika kau memilih Nadia,' kata Larasati, suaranya hancur.
'Aku tidak memilih Nadia. Aku tidak akan pernah memilih Nadia.' Arga mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Larasati dengan lembut. 'Aku memilihmu, Larasati. Aku memilihmu.'
Larasati tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia melihat kebenaran di matanya. Kebenaran yang nyata. Kebenaran yang tidak bisa disangkal.
Arga juga sudah jatuh cinta padanya.
Dan itu mengubah segalanya.