Seminggu setelah Arga mengakui pada dirinya sendiri bahwa ia mulai jatuh cinta pada Larasati, Nadia muncul kembali dengan berita yang menghancurkan segalanya.
Nadia muncul di kantor Mahesa Group tanpa diundang, dengan wajah yang pucat dan tatapan yang penuh dengan keputusasaan. Ia tidak membawa Dimas. Ia tidak membawa siapa pun. Ia hanya membawa dirinya dan sebuah amplop.
Resepsionis menelepon kantor Arga, dan Arga mengizinkan Nadia naik. Larasati sedang bekerja di yayasan amal ketika Bu Sari meneleponnya, memberitahunya bahwa Nadia ada di kantor Arga dan ingin bertemu.
Larasati tidak tahu kenapa ia pergi ke kantor Arga. Mungkin karena ia khawatir. Mungkin karena ia penasaran. Mungkin karena ia ingin tahu apa yang akan dilakukan Nadia kali ini.
Ketika ia tiba di kantor Arga, Nadia sedang duduk di sofa, dengan amplop di tangannya, dan Arga berdiri di depan jendela, menghadap kota.
'Aku hamil,' kata Nadia, suaranya bergetar. 'Aku hamil anakmu, Arga.'
Larasati membeku di ambang pintu. Ia tidak bisa bergerak. Ia tidak bisa bernapas. Ia hanya berdiri di sana, mendengarkan kata-kata itu masuk ke kepalanya tapi tidak bisa memprosesnya.
Arga berbalik dengan cepat, wajahnya pucat. 'Itu tidak mungkin.'
'Ini mungkin, Arga. Ini nyata.' Nadia membuka amplop dan mengeluarkan hasil tes kehamilan. 'Aku hamil delapan minggu. Ini anakmu.'
Arga tidak mengambil hasil tes itu. Ia hanya menatapnya dari jauh, dan Larasati bisa melihat keraguan di matanya. Keraguan yang dalam. Keraguan yang menghancurkan.
'Kita sudah lama tidak bersama, Nadia. Kita sudah bercerai.' Suara Arga rendah, tapi tidak yakin.
'Kita masih bersama sebelum perceraian itu, Arga. Dan aku hamil sekarang.' Nadia menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan keputusasaan. 'Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak tahu harus pergi ke mana. Dimas meninggalkanku. Dia tidak mau bertanggung jawab.'
Larasati tidak bisa mendengarkan lagi. Ia berbalik dan berjalan keluar dari kantor, menuruni tangga dengan langkah yang cepat, keluar dari gedung, dan berjalan tanpa tujuan di jalanan kota.
Ia tidak tahu ke mana ia berjalan. Ia tidak tahu apa yang ia rasakan. Ia hanya tahu bahwa dunianya baru saja runtuh lagi.
Nadia hamil. Nadia hamil anak Arga. Dan meskipun Arga meragukannya, meskipun Arga tidak yakin, itu tidak mengubah fakta bahwa Nadia mengaku hamil, dan Arga harus menghadapinya.
Larasati berhenti di sebuah taman kecil, duduk di bangku, dan untuk pertama kalinya sejak ia menikah dengan Arga, ia menangis. Bukan tangis yang keras. Bukan tangis yang dramatis. Hanya air mata yang mengalir pelan di pipinya, diam-diam, seperti hujan yang turun tanpa suara.
Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tidak tahu apa yang harus ia rasakan. Ia hanya tahu bahwa ia sudah jatuh cinta pada Arga, dan sekarang, semuanya hancur.
Malam itu, Larasati tidak pulang ke mansion. Ia tidur di rumah sakit, di samping tempat tidur ibunya, dan untuk pertama kalinya, ia berbohong pada ibunya. Ia mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Bahwa pernikahannya baik-baik saja. Bahwa ia bahagia.
Tapi ia tidak bahagia. Ia hancur.
Dan ia tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya.