Setelah malam di sofa itu, Arga berubah dengan cara yang tidak bisa dijelaskan. Ia tidak lagi hanya mempercayai Larasati dengan rahasia perusahaan; ia mempercayai Larasati dengan segalanya.
Ia mulai berbicara tentang ibunya lebih banyak. Tentang bagaimana ibunya dulu adalah wanita yang penuh tawa sebelum ayahnya mengkhianati mereka. Tentang bagaimana ia merindukan ibunya setiap hari. Tentang bagaimana ia berharap ibunya bisa melihatnya sekarang, bisa bertemu Larasati, bisa melihat bahwa ia akhirnya menemukan seseorang yang baik.
'Ibuku akan menyukaimu,' kata Arga suatu malam ketika mereka makan malam bersama. 'Dia akan melihat bahwa kau adalah wanita yang baik, wanita yang tidak seperti Nadia.'
Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Saya juga akan menyukai ibumu, Arga. Saya sudah melihat foto-foto mereka di kamar yang terkunci. Dia adalah wanita yang cantik.'
Arga menatapnya dengan tatapan yang hancur. 'Kau membuka kamar itu lagi?'
'Tidak. Saya hanya... saya hanya melihatnya dari luar sekali. Saya tidak masuk.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang jujur. 'Tapi saya melihat foto ibumu, dan saya bisa melihat bahwa dia adalah wanita yang baik. Saya bisa melihat dari mana Anda mendapatkan kekuatan Anda.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Lalu ia berkata dengan suara yang hampir tidak terdengar, 'Aku ingin kau bertemu dengannya. Aku ingin kau melihatnya. Aku ingin dia melihat bahwa aku akhirnya menemukan seseorang yang tidak akan menghancurkanku seperti ayahku menghancurkannya.'
Larasati tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Arga tidak hanya mulai mempercayainya. Arga mulai membutuhkannya. Arga mulai membutuhkannya dengan cara yang menakutkan.
'Anda tidak akan dihancurkan, Arga,' kata Larasati pelan. 'Saya tidak akan menghancurkan Anda. Saya berjanji.'
Arga menatapnya, dan untuk satu detik, Larasati melihat sesuatu yang lembut di matanya. Sesuatu yang hangat. Sesuatu yang nyata.
'Aku percaya padamu,' kata Arga, suaranya serak. 'Aku percaya padamu, Larasati. Sepenuhnya.'
Malam itu, Arga tidak bisa tidur. Ia berbaring di tempat tidurnya, menatap langit-langit, dan memikirkan kata-kata itu. 'Aku percaya padamu.' Ia tidak pernah mengatakan itu pada siapa pun sebelumnya. Tidak pada Nadia. Tidak pada siapa pun.
Ia mulai jatuh cinta pada Larasati. Ia tahu itu sekarang. Ia tidak bisa menahannya lagi. Ia sudah jatuh cinta pada wanita yang menikahinya hanya untuk kontrak, pada wanita yang seharusnya tidak ia cintai, pada wanita yang mungkin tidak akan pernah bisa membalasnya.
Dan itu menakutkan. Tapi itu juga indah.
Arga menutup matanya dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia tidur dengan damai.