Malam itu seharusnya menjadi malam yang sempurna. Arga Mahesa berdiri di depan cermin besar di kamar tidurnya, merapikan dasi sutra berwarna abu-abu gelap yang baru saja ia beli khusus untuk malam ini. Lima tahun. Lima tahun pernikahan dengan Nadia. Lima tahun yang ia kira dibangun di atas kepercayaan, meskipun akhir-akhir ini ia merasakan ada sesuatu yang retak di antara mereka — seperti kaca yang mulai pecah dari sudut, retaknya halus, hampir tak terlihat, tapi nyata.
Ia mengambil kotak beludru hitam dari saku jasnya. Di dalamnya, sebuah kalung berlian yang ia pesan dari Paris tiga bulan lalu. Kalung itu seharusnya menjadi kejutan. Seharusnya menjadi simbol bahwa ia masih peduli, bahwa ia masih berjuang untuk pernikahan ini, meskipun pekerjaan sebagai CEO Mahesa Group menuntut hampir seluruh waktunya.
Arga menuruni tangga marmer mansion mereka dengan langkah pelan. Rumah itu terlalu besar untuk dua orang, terlalu dingin, terlalu sunyi. Tapi Nadia yang memilihnya. Nadia yang bilang ia ingin rumah yang "pantas untuk istri seorang CEO". Arga tidak pernah peduli dengan kemewahan. Ia hanya peduli dengan Nadia. Atau setidaknya, ia pernah peduli.
Suara tawa dari ruang tamu menghentikan langkahnya. Tawa Nadia. Tapi bukan tawa yang biasa ia dengar. Tawa itu berbeda — lebih bebas, lebih hidup, lebih... intim. Tawa yang tidak pernah lagi ia dengar sejak dua tahun terakhir.
Arga tidak bergerak. Ia berdiri di tengah tangga, bayangannya memanjang di dinding, dan mendengarkan.
'Kau gila,' suara Nadia, pelan tapi jelas. 'Kalau Arga pulang lebih cepat?'
Suara kedua menjawab, suara laki-laki yang sangat Arga kenal. Suara yang selama sepuluh tahun ia anggap sebagai sahabat terdekatnya. Suara Dimas Prasetyo.
'Dia tidak akan pulang sebelum tengah malam. Rapat dengan investor Jepang, kan? Kita punya banyak waktu.'
Arga merasakan dunia berhenti berputar. Bukan metafora. Ia benar-benar merasa lantai di bawah kakinya berhenti, udara berhenti bergerak, jantungnya berhenti berdetak selama satu detik penuh. Lalu semuanya kembali dengan kekuatan yang menghantam dadanya seperti palu.
Ia tidak berlari. Ia tidak berteriak. Ia hanya berjalan pelan ke arah ruang tamu, langkahnya tenang, terlalu tenang, dan berhenti di ambang pintu.
Nadia duduk di sofa kulit putih yang mereka beli di Milan tahun lalu. Dimas berdiri di depannya, satu tangan di sandaran sofa, tubuhnya membungkuk ke arah Nadia. Mereka tidak berciuman. Belum. Tapi jarak mereka sudah menjawab semua pertanyaan yang tidak perlu diajukan.
Nadia yang pertama melihatnya. Wajahnya yang tadi cerah langsung memucat seperti kertas. Ia melompat berdiri, hampir menjatuhkan gelas wine di tangannya.
'Arga—' suaranya tercekat.
Dimas berbalik, dan untuk satu detik, Arga melihat sesuatu di mata sahabatnya itu. Bukan penyesalan. Bukan rasa bersalah. Tapi sesuatu yang lebih buruk: kemenangan.
Arga tidak bergerak. Ia hanya berdiri di sana, di ambang pintu, dengan kotak beludru hitam masih di tangannya. Ia melihat Nadia, lalu Dimas, lalu kembali ke Nadia. Ia tidak berkata apa-apa. Ia tidak perlu berkata apa-apa.
Nadia membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Dimas yang akhirnya berbicara, suaranya tenang, terlalu tenang.
'Arga, dengarkan—'
'Keluar.' Suara Arga tidak keras. Tidak berteriak. Tapi kata itu memenuhi ruangan seperti es.
'Arga, ini tidak seperti yang kau kira—'
'Keluar. Sekarang.' Arga masih tidak bergerak. Matanya tidak berkedip. 'Sebelum aku memanggil keamanan dan membiarkan mereka menyeretmu keluar seperti sampah.'
Dimas menegakkan tubuh. Untuk satu detik, Arga berpikir sahabatnya akan melawan. Tapi Dimas hanya mengangguk pelan, merapikan jasnya, dan berjalan ke arah pintu. Saat melewati Arga, ia berhenti sejenak.
'Kau tidak pernah pantas mendapatkannya,' bisik Dimas, hanya cukup keras untuk didengar Arga.
Arga tidak menjawab. Ia hanya menatap lurus ke depan, ke arah Nadia yang masih berdiri di tengah ruangan, gemetar.
Pintu depan tertutup dengan suara pelan. Keheningan yang tersisa terasa lebih keras dari teriakan mana pun.
Nadia akhirnya menemukan suaranya. 'Arga, aku bisa jelaskan—'
'Tidak perlu.' Arga akhirnya bergerak. Ia berjalan ke arah meja bar, meletakkan kotak beludru hitam itu di atasnya, dan menuang whiskey ke dalam gelas. Tangannya tidak gemetar. Itu yang paling menakutkan. 'Kemas barang-barangmu. Malam ini juga.'
'Arga, please—' Nadia mulai menangis, air matanya jatuh dengan mudahnya, seperti sudah disiapkan. 'Aku mohon, dengarkan aku dulu. Ini salahku, aku tahu, tapi kita bisa memperbaikinya. Kita bisa—'
'Aku bilang, kemas barang-barangmu.' Arga menyesap whiskey-nya, tidak melihat ke arah Nadia. 'Kau punya waktu satu jam. Setelah itu, aku tidak peduli kau mau pergi ke mana. Tapi kau tidak akan tidur di rumah ini malam ini.'
'Kau tidak bisa melakukan ini padaku!' Suara Nadia naik, campuran antara panik dan kemarahan. 'Aku istrimu! Kita sudah menikah lima tahun! Kau tidak bisa mengusirku seperti ini!'
Arga akhirnya menatapnya. Dan Nadia mundur selangkah, karena apa yang ia lihat di mata suaminya bukan kemarahan. Bukan kesedihan. Tapi kekosongan. Kekosongan yang begitu dalam sehingga menakutkan.
'Aku bisa,' kata Arga pelan. 'Dan aku sudah melakukannya.'
Ia mengangkat teleponnya, menekan satu tombol. 'Pak Harto, tolong siapkan mobil untuk Nyonya Nadia. Dan pastikan dia pergi sebelum jam sebelas.'
Nadia berdiri di tengah ruangan, air mata mengalir di wajahnya, tapi Arga sudah tidak melihatnya lagi. Ia sudah berjalan ke arah jendela besar, melihat ke luar ke taman yang gelap, ke kota yang berkilau di kejauhan.
Lima tahun. Lima tahun yang ia kira nyata. Ternyata hanya ilusi. Ternyata hanya dia yang berjuang. Ternyata hanya dia yang percaya.
Arga mengangkat gelas whiskey-nya dan menghabiskannya dalam satu tegukan. Alkohol membakar tenggorokannya, tapi tidak cukup untuk membakar rasa sakit di dadanya.
Malam itu, Arga Mahesa tidak tidur. Ia duduk di ruang kerjanya, di kegelapan, dan menatap keluar jendela hingga matahari terbit. Ia tidak menangis. Ia tidak berteriak. Ia hanya duduk di sana, diam, dan membiarkan kekosongan itu mengisi setiap sudut dirinya.
Karena kekosongan lebih mudah diterima daripada kebenaran: bahwa ia sudah mencintai orang yang salah.