Larasati tidak tahu bahwa Arga punya insomnia sampai suatu malam ia tidak bisa tidur dan turun ke dapur untuk mengambil air. Ia menemukan Arga duduk di ruang tamu, dalam kegelapan, dengan laptop menyala di pangkuannya.
'Anda tidak tidur?' tanya Larasati pelan, berhenti di ambang pintu.
Arga mengangkat kepalanya, dan dalam cahaya layar laptop, Larasati bisa melihat kelelahan yang mendalam di matanya. 'Aku tidak bisa tidur. Sudah lama.'
Larasati berjalan ke arahnya dan duduk di sofa di sampingnya. 'Sejak kapan?'
'Sejak... sejak perceraian dengan Nadia. Sejak semua ini dimulai.' Arga menutup laptopnya dengan pelan. 'Aku tidak bisa berhenti berpikir. Tidak bisa berhenti mengkhawatirkan segalanya.'
Larasati tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya duduk di samping Arga dalam kegelapan, dan untuk pertama kalinya, ia melihat Arga yang sebenarnya: bukan CEO yang kuat, bukan pria yang dingin, tapi pria yang lelah, pria yang hancur, pria yang hanya ingin berhenti berpikir untuk sesaat.
'Anda tidak harus menghadapi ini sendirian, Arga,' kata Larasati pelan.
'Aku sudah terbiasa sendirian, Larasati. Aku sudah terbiasa menghadapi semuanya sendirian sejak ayahku pergi.' Arga menatapnya dengan tatapan yang hancur. 'Aku tidak tahu bagaimana cara membiarkan orang lain masuk.'
Larasati tidak menjawab. Ia hanya duduk di samping Arga, tidak menyentuhnya, tidak memaksanya berbicara, hanya hadir. Kehadiran yang tenang, kehadiran yang tidak menuntut, kehadiran yang mengatakan: aku di sini, aku tidak akan pergi.
Mereka duduk di sana dalam keheningan untuk waktu yang lama. Arga tidak berbicara, dan Larasati tidak memaksanya. Mereka hanya duduk di samping satu sama lain, dalam kegelapan, dan membiarkan keheningan itu menjadi jembatan di antara mereka.
Akhirnya, Arga menutup matanya dan bersandar di sofa. Larasati tidak bergerak. Ia hanya duduk di sampingnya, diam, dan membiarkan Arga beristirahat.
Beberapa menit kemudian, napas Arga menjadi lebih dalam, lebih teratur. Ia tertidur.
Larasati tidak bergerak. Ia tidak ingin membangunkan Arga. Ia hanya duduk di sampingnya, dalam kegelapan, dan membiarkan Arga tidur untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama.
Pagi harinya, Arga bangun dan menemukan Larasati tertidur di sofa di sampingnya, dengan selimut yang menutupi mereka berdua. Larasati tidak menyentuhnya semalaman. Ia hanya ada di sana, hadir, menemaninya.
Arga menatap Larasati yang tertidur, wajahnya yang damai, dan merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Sesuatu yang hangat. Sesuatu yang nyata. Sesuatu yang menakutkan.
Ia tidak membangunkan Larasati. Ia hanya berdiri dengan hati-hati, mengambil selimut dari mereka berdua, dan menyelimutkan Larasati dengan lembut. Lalu ia berdiri di sana, menatap Larasati yang tertidur, dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa ia mulai jatuh cinta.
Jatuh cinta pada wanita yang menikahinya hanya untuk kontrak. Jatuh cinta pada wanita yang seharusnya tidak ia cintai. Jatuh cinta pada wanita yang mungkin tidak akan pernah bisa membalasnya.
Dan itu menakutkan.