Setelah proyek anak jalanan, Arga dan Larasati mulai makan malam bersama setiap malam. Bukan lagi makan sendirian di ujung meja yang berjauhan, tapi makan bersama di meja kecil di dapur, seperti pasangan normal.
Bu Tini yang pertama menyadari perubahan itu. Ia tidak berkata apa-apa, tapi ia tersenyum ketika melihat Arga dan Larasati makan bersama, berbicara, tertawa sesekali.
Malam itu, mereka makan nasi goreng yang dibuat Bu Tini, dan Larasati bercerita tentang masa kecilnya di kampung, tentang bagaimana ia dulu membantu ibunya berjualan di pasar, tentang bagaimana ia belajar membaca dari buku-buku bekas yang ia kumpulkan.
'Ayah saya meninggalkan kami ketika saya berumur delapan tahun,' kata Larasati, suaranya pelan. 'Ibu saya bekerja tiga pekerjaan untuk menghidupi saya. Saya belajar dari buku-buku bekas karena kami tidak punya uang untuk buku baru.'
Arga mendengarkan dengan seksama, tidak menyela, tidak menghakimi. Ia hanya mendengarkan, dan untuk pertama kalinya, ia melihat Larasati yang sebenarnya: wanita yang kuat, yang berjuang, yang tidak pernah menyerah meskipun hidup tidak adil padanya.
'Ayah saya meninggalkan kami ketika saya berumur sepuluh tahun,' kata Arga akhirnya, suaranya pelan. 'Ibu saya tidak pernah pulih dari itu. Dia meninggal dua tahun kemudian karena patah hati.'
Larasati menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan simpati. 'Saya tahu bagaimana rasanya, Arga. Saya tahu bagaimana rasanya melihat ibu hancur karena cinta yang salah.'
Mereka tidak berbicara untuk beberapa menit, hanya makan dalam keheningan yang penuh dengan pengertian. Lalu Larasati berkata, 'Itu sebabnya saya tidak pernah percaya pada cinta. Karena saya melihat bagaimana cinta bisa menghancurkan orang.'
'Aku juga tidak percaya pada cinta,' kata Arga. 'Aku menikahi Nadia karena aku pikir aku bisa membuktikan bahwa pernikahan bisa berhasil, bahwa cinta bisa bertahan. Tapi aku salah.'
'Kau tidak salah, Arga. Kau hanya mencintai orang yang salah.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Tapi itu tidak berarti cinta itu tidak ada. Itu hanya berarti kau belum menemukan orang yang benar.'
Arga menatapnya, dan untuk satu detik, Larasati melihat sesuatu yang lembut di matanya. 'Kau percaya pada orang yang benar?'
Larasati tidak menjawab untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa ia sedang jatuh cinta. Jatuh cinta pada pria yang seharusnya tidak ia cintai. Jatuh cinta pada pria yang menikahinya hanya untuk balas dendam. Jatuh cinta pada pria yang tidak akan pernah bisa membalasnya.
'Saya tidak tahu,' kata Larasati akhirnya, suaranya hancur. 'Saya tidak tahu lagi.'
Arga tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk satu detik, Larasati berpikir Arga tahu apa yang sedang ia rasakan. Tapi Arga hanya mengangguk pelan dan melanjutkan makan.
Malam itu, setelah makan malam, Larasati berdiri di balkon kamarnya, menatap keluar ke malam yang gelap, dan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi padanya. Ia tidak seharusnya jatuh cinta pada Arga. Ia tidak seharusnya merasakan apa yang ia rasakan. Tapi ia tidak bisa menahannya.
Ia sudah jatuh cinta pada Arga Mahesa.
Dan itu menakutkan.