Proyek perpustakaan komunitas berhasil, dan Larasati mendapatkan pengakuan dari banyak pihak. Tapi Larasati tidak berhenti di situ. Ia mengajukan proyek baru kepada Arga: program untuk anak-anak jalanan di kota.
'Anak-anak ini tidak punya tempat untuk belajar, tidak punya tempat untuk bermain, tidak punya tempat untuk menjadi anak-anak,' kata Larasati suatu sore di kantor Arga, dengan proposal di tangannya. 'Saya ingin membuat pusat kegiatan untuk mereka: tempat belajar, tempat bermain, tempat makan.'
Arga membaca proposal itu dengan seksama, dan ketika ia mengangkat kepalanya, ada sesuatu yang hangat di matanya. 'Ini bagus. Ini sangat bagus. Aku setuju.'
Proyek itu dimulai dengan cepat. Larasati menghabiskan banyak waktu di lapangan, bertemu dengan anak-anak jalanan, mendengarkan cerita mereka, memahami kebutuhan mereka. Ia tidak hanya bekerja dari balik meja; ia turun langsung, duduk dengan anak-anak itu, bermain dengan mereka, mendengarkan mereka.
Arga sesekali datang ke lokasi proyek, melihat Larasati berinteraksi dengan anak-anak. Ia melihat sisi lain Larasati: bukan istri kontrak yang sopan, bukan editor yang profesional, tapi wanita yang penuh kasih, yang sabar, yang tulus peduli pada orang lain.
Suatu hari, Arga datang ke pusat kegiatan yang sedang dibangun dan menemukan Larasati duduk di lantai dengan beberapa anak, membaca cerita untuk mereka. Anak-anak itu mendengarkan dengan mata yang besar, penuh dengan kekaguman. Larasati membaca dengan suara yang lembut, dengan ekspresi yang hidup, dan anak-anak itu tertawa, bertanya, mendengarkan dengan penuh perhatian.
Arga berdiri di ambang pintu, tidak masuk, hanya menonton. Ia menonton Larasati yang dengan sabar menjawab setiap pertanyaan anak-anak, yang dengan lembut membelai rambut seorang anak yang tertidur di pangkuannya, yang dengan tulus peduli pada anak-anak yang tidak punya siapa-siapa.
Dan untuk pertama kalinya, Arga merasakan sesuatu yang bukan kekaguman, bukan penghargaan, tapi sesuatu yang lebih dalam: rasa syukur bahwa Larasati ada di hidupnya.
Ketika Larasati akhirnya melihat Arga di ambang pintu, ia tersenyum — senyum yang tulus, senyum yang hangat, senyum yang tidak pernah ia berikan pada siapa pun di mansion.
'Anda datang,' kata Larasati, masih duduk di lantai dengan anak-anak di sekelilingnya.
'Aku hanya mampir.' Arga berjalan masuk, dan anak-anak itu menatapnya dengan tatapan yang campuran antara takut dan penasaran. Mereka tidak terbiasa melihat pria dengan jas mahal di tempat seperti ini.
'Pak Arga,' kata seorang anak perempuan kecil, berdiri dengan ragu-ragu. 'Terima kasih sudah membangun tempat ini untuk kami.'
Arga berlutut di depan anak itu, sejajar dengan matanya. 'Bukan aku yang membangunnya. Ibu Larasati yang membangunnya. Aku hanya membantu.'
Anak itu menatap Larasati dengan tatapan yang penuh dengan kekaguman. 'Ibu Larasati, terima kasih.'
Larasati membelai rambut anak itu dengan lembut. 'Sama-sama, nak. Ini untuk kalian semua.'
Arga menatap Larasati, dan untuk satu detik, dunia berhenti berputar. Ia melihat Larasati yang dengan sabar merawat anak-anak, yang dengan tulus peduli, yang dengan lembut menyentuh kehidupan orang lain, dan ia merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Malam itu, di dalam mobil pulang, Arga berkata, 'Kau luar biasa dengan anak-anak itu.'
Larasati menatapnya, terkejut dengan pujian itu. 'Terima kasih, Pak. Saya hanya melakukan apa yang saya sukai.'
'Kau tidak hanya melakukan apa yang kau sukai. Kau melakukan apa yang benar. Dan itu... itu jarang.' Arga menatap lurus ke depan, dan untuk waktu yang lama, ia tidak berkata apa-apa. Lalu, akhirnya, ia berkata dengan suara yang hampir tidak terdengar, 'Ibuku akan sangat menyukaimu kalau dia melihatmu dengan anak-anak itu.'
Larasati tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang rapuh di mata Arga: kerinduan untuk memiliki seseorang yang bisa ia banggakan, seseorang yang bisa ia bawa pulang ke ibunya, seseorang yang bisa ia cintai.
Dan Larasati tidak tahu apakah ia bisa menjadi seseorang itu. Tapi ia tahu bahwa ia ingin mencoba.