Pagi setelah malam di balkon itu terasa canggung. Larasati bangun dengan perasaan yang campur aduk: malu, menyesal, tapi juga sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Ia mandi lebih lama dari biasanya, mencoba menghilangkan bayangan hampir-ciuman itu dari kepalanya, tapi tidak bisa.
Ketika ia turun ke ruang makan, Arga sudah duduk di meja, membaca koran seperti biasa. Tapi kali ini, ketika Larasati masuk, Arga mengangkat kepalanya dan menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca.
'Pagi,' kata Arga, suaranya datar.
'Pagi,' jawab Larasati pelan, duduk di ujung meja seperti biasa.
Mereka makan dalam keheningan yang tebal. Bu Tini masuk beberapa kali untuk mengisi ulang kopi, tapi tidak berkata apa-apa. Ia bisa merasakan ketegangan di antara mereka, dan ia bijak untuk tidak ikut campur.
Akhirnya, Arga menutup korannya dan menatap Larasati. 'Kita perlu bicara.'
Larasati meletakkan garpunya. 'Baik.'
'Tentang kemarin malam.' Arga menatapnya dengan tatapan yang serius. 'Tentang apa yang hampir terjadi.'
Larasati merasakan pipinya memanas. 'Saya tidak ingin membahasnya.'
'Kita harus membahasnya.' Arga tidak berkedip. 'Karena kita tidak bisa membiarkan itu terjadi lagi. Bukan sekarang. Bukan ketika kita masih dalam kontrak.'
Larasati menatapnya, dan untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang rapuh di mata Arga. Bukan dingin. Bukan kuat. Tapi rapuh.
'Anda benar,' kata Larasati pelan. 'Kita tidak bisa.'
'Kita harus tetap profesional.' Arga melanjutkan, suaranya lebih lembut sekarang. 'Kita harus ingat bahwa ini hanya kontrak. Bahwa ini hanya peran. Bahwa kita tidak boleh melibatkan perasaan.'
'Saya tahu.' Larasati menatap piringnya, tidak bisa menatap Arga. 'Saya tahu itu.'
'Tapi...' Arga berhenti, seperti mencari kata yang tepat. 'Tapi aku juga tidak bisa berpura-pura bahwa aku tidak merasakan apa-apa.'
Larasati mengangkat kepalanya, menatap Arga dengan mata yang membesar.
Arga menatapnya dengan tatapan yang dalam. 'Aku tidak tahu apa yang aku rasakan, Larasati. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi di antara kita. Tapi aku tahu bahwa aku tidak ingin kau pergi. Aku tidak ingin kontrak ini berakhir.'
Larasati tidak bisa bernapas. 'Arga—'
'Tapi kita tidak bisa.' Arga menatapnya dengan tatapan yang hancur. 'Kita tidak bisa karena aku tidak ingin kau terluka. Aku tidak ingin kau menjadi seperti ibuku. Aku tidak ingin kau menjadi korban dari ketidakmampuanku untuk mencintai dengan benar.'
Larasati merasakan air matanya ingin jatuh, tapi ia menahannya. 'Anda tidak akan melukai saya, Arga. Anda tidak seperti ayah Anda.'
'Aku tidak tahu itu.' Arga menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan keraguan. 'Aku tidak tahu apakah aku bisa mencintai dengan benar. Aku tidak tahu apakah aku bisa menjadi suami yang baik. Dan aku tidak ingin kau menunggu untuk mengetahui bahwa aku tidak bisa.'
Larasati tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia melihat pria yang sebenarnya: pria yang takut, pria yang tidak yakin, pria yang hanya ingin melindungi orang yang ia sayangi.
'Kita tetap profesional,' kata Larasati akhirnya, suaranya pelan. 'Kita tetap dalam kontrak. Tapi... tapi kita juga tidak berpura-pura bahwa kita tidak merasakan apa-apa.'
Arga menatapnya, dan untuk satu detik, Larasati melihat sesuatu yang lembut di matanya. 'Baik.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya melanjutkan makan dalam keheningan yang tidak lagi canggung, tapi juga tidak lagi nyaman. Keheningan yang penuh dengan hal-hal yang tidak terkatakan.
Setelah makan, Arga berdiri dan berjalan ke arah pintu. Tapi ia berhenti sebelum keluar dan berbalik.
'Larasati,' katanya pelan.
'Ya?'
'Aku tidak menyesal kemarin malam.' Arga menatapnya dengan tatapan yang dalam. 'Aku tidak menyesal hampir menciumaimu. Aku hanya menyesal bahwa aku tidak bisa melakukannya dengan benar.'
Larasati tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia merasakan bahwa mungkin, hanya mungkin, ada sesuatu yang nyata di antara mereka. Sesuatu yang bukan kontrak, bukan peran, bukan pura-pura.
Arga mengangguk pelan dan keluar, meninggalkan Larasati sendirian di ruang makan dengan pikiran yang berputar-putar.
Hari itu, Larasati tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya. Ia hanya duduk di kantor yayasan, menatap layar komputernya tanpa benar-benar melihatnya, dan memikirkan kata-kata Arga.
'Aku tidak menyesal hampir menciumaimu.'
Kata-kata itu terus berputar di kepalanya, seperti lagu yang tidak bisa berhenti. Dan Larasati tidak tahu apakah itu membuatnya bahagia atau takut.
Mungkin keduanya.