Setelah konferensi pers, hubungan Arga dan Larasati berubah dengan cara yang tidak bisa mereka jelaskan. Mereka tidak lagi hanya dua orang asing yang berbagi atap yang sama. Mereka menjadi dua orang yang saling memahami, saling melindungi, saling peduli.
Malam itu, Arga pulang lebih awal dari biasanya. Ia menemukan Larasati di balkon lantai dua, duduk di kursi rotan, menatap keluar ke taman yang gelap dengan segelas wine di tangannya.
'Kau tidak tidur?' tanya Arga, berjalan ke arahnya dengan sebotol wine dan satu gelas lagi.
'Belum ngantuk,' jawab Larasati, tersenyum tipis. 'Anda juga belum?'
'Belum.' Arga menuang wine ke gelasnya dan duduk di kursi di samping Larasati. 'Hari yang panjang.'
Mereka duduk dalam keheningan untuk beberapa menit, hanya menatap keluar ke malam yang gelap, minum wine bersama. Angin malam berhembus pelan, membawa bau bunga dari taman.
'Terima kasih,' kata Larasati akhirnya, suaranya pelan.
'Untuk apa?'
'Untuk membela saya di depan semua orang. Untuk tidak membiarkan Nadia menghancurkan saya.'
Arga menatapnya, dan dalam cahaya redup balkon, Larasati bisa melihat sesuatu yang lembut di matanya. 'Aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitimu, Larasati. Tidak setelah semua yang kau lakukan untukku dan ibuku.'
Larasati merasakan pipinya memanas. 'Itu bukan apa-apa, Pak. Saya hanya melakukan apa yang benar.'
'Kau melakukan lebih dari yang benar.' Arga menyesap wine-nya. 'Kau membuat ibuku tersenyum lagi. Kau membuat yayasan amal berjalan dengan baik. Kau membuat rumah ini tidak terasa seperti penjara lagi.'
Larasati tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa Arga tidak sedingin yang ia kira. Arga tidak sekuat yang ia kira. Arga juga terluka, juga hancur, juga membutuhkan seseorang.
'Arga,' kata Larasati pelan, pertama kalinya ia memanggil Arga tanpa 'Pak'. 'Kau juga tidak sendirian lagi.'
Arga menatapnya, dan untuk satu detik, dunia berhenti berputar. Matanya yang dalam bertemu dengan mata Larasati, dan ada sesuatu yang bergetar di antara mereka, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Arga meletakkan gelas wine-nya di meja kecil di sampingnya. Larasati melakukan hal yang sama. Mereka tidak bergerak, tidak berbicara, hanya menatap satu sama lain dalam keheningan yang tebal.
Arga mengangkat tangannya, ragu-ragu, dan menyentuh pipi Larasati dengan lembut. Jari-jarinya hangat di kulit Larasati yang dingin karena angin malam.
'Larasati,' bisik Arga, suaranya serak.
Larasati tidak menjawab. Ia tidak bisa. Ia hanya menatap Arga, merasakan jantungnya berdebar keras di dadanya, merasakan napasnya menjadi pendek.
Arga mendekat, wajahnya hanya beberapa senti dari wajah Larasati. Larasati bisa mencium bau wine di napasnya, bau cologne yang samar, bau malam.
'Kita tidak seharusnya,' bisik Larasati, tapi suaranya tidak yakin.
'Aku tahu,' bisik Arga, tapi ia tidak mundur.
Mereka berada di tepi sesuatu yang berbahaya, sesuatu yang tidak boleh mereka lewati. Mereka berdua tahu itu. Tapi mereka juga tahu bahwa mereka tidak bisa menahannya lagi.
Arga mendekat lagi, bibirnya hampir menyentuh bibir Larasati. Larasati bisa merasakan napas Arga di wajahnya, hangat, dekat, nyata.
Tapi Larasati mundur. Ia menarik wajahnya, hanya beberapa senti, tapi cukup untuk menghentikan apa yang hampir terjadi.
'Saya tidak bisa,' bisik Larasati, suaranya hancur. 'Saya tidak bisa melakukan ini. Bukan seperti ini.'
Arga tidak bergerak untuk waktu yang lama. Lalu ia menarik tangannya dari pipi Larasati, dan Larasati merasakan kehilangan yang mendalam.
'Maaf,' kata Arga, suaranya rendah. 'Aku tidak seharusnya—'
'Jangan minta maaf.' Larasati menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. 'Saya juga menginginkannya. Tapi saya tidak bisa. Bukan sekarang. Bukan ketika kita masih berpura-pura.'
Arga mengangguk pelan. Ia mengambil gelas wine-nya lagi dan menghabiskannya dalam satu tegukan. 'Kau benar. Kita masih berpura-pura. Kita masih dalam kontrak.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya duduk di balkon, dalam keheningan yang berat, dan menatap keluar ke malam yang gelap. Pintu kamar Larasati tertutup di belakang mereka, dan ketika Larasati akhirnya masuk ke kamarnya, ia tidak menoleh ke belakang.
Malam itu, Larasati tidak tidur. Ia berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit, dan memikirkan hampir-ciuman itu. Memikirkan bagaimana Arga menyentuh pipinya. Memikirkan bagaimana ia hampir kehilangan kendali.
Dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya.