Proyek perpustakaan komunitas berjalan dengan baik. Larasati berhasil mengumpulkan dana, mengurus izin, dan memulai pembangunan. Media mulai meliput, dan untuk pertama kalinya, Larasati mendapatkan perhatian positif dari publik.
Tapi perhatian positif itu tidak berlangsung lama.
Suatu pagi, Larasati bangun dan menemukan namanya menjadi trending topic di media sosial. Bukan karena proyek perpustakaan. Bukan karena pekerjaannya. Tapi karena Nadia.
Nadia muncul di sebuah talk show pagi dan berbicara tentang Larasati. Dengan air mata yang sudah disiapkan, Nadia bercerita tentang bagaimana adik tirinya, Larasati, 'merebut' suaminya, Arga Mahesa, dan 'menghancurkan keluarganya'.
'Saya tidak menyalahkan Larasati,' kata Nadia dengan suara yang bergetar, seperti sedang menahan tangis. 'Dia masih muda. Dia tidak tahu apa yang dia lakukan. Tapi saya minta publik mengerti bahwa saya adalah korban di sini. Saya yang dikhianati.'
Wartawan bertanya, 'Tapi Anda yang berselingkuh dengan Dimas Prasetyo, bukan?'
Nadia menggeleng dengan dramatis. 'Itu tidak benar. Itu hanya kesalahpahaman. Arga yang salah paham. Arga yang tidak percaya pada saya. Dan kemudian dia menikahi adik saya untuk menghukum saya.'
Berita itu menyebar dengan cepat. Dalam beberapa jam, ribuan komentar muncul di media sosial, kebanyakan menghakimi Larasati. Komentar-komentar itu kejam, penuh dengan tuduhan, penuh dengan kebencian.
'Pelacur yang merebut suami kakaknya.'
'Gold digger yang hanya mau harta.'
'Adik tiri yang tidak tahu diri.'
Larasati membaca komentar-komentar itu di ponselnya di kantor yayasan, dan merasa dunianya runtuh. Ia tidak bisa bernapas. Ia tidak bisa berpikir. Ia hanya duduk di sana, menatap layar ponselnya, dan merasa seperti sedang tenggelam.
Teman-teman sekantornya tidak tahu harus berkata apa. Mereka hanya menatap Larasati dengan tatapan simpati, tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan.
Larasati memutuskan untuk pulang lebih awal. Ia tidak bisa bekerja. Ia tidak bisa berkonsentrasi. Ia hanya ingin bersembunyi, ingin menghilang, ingin lari dari semua ini.
Ketika ia tiba di mansion, Arga sudah ada di sana, berdiri di ruang tamu dengan wajah yang gelap. Ia sudah melihat berita itu.
'Kau tidak apa-apa?' tanya Arga, suaranya rendah.
Larasati menggeleng. Air matanya sudah mengalir tanpa bisa ditahan. 'Saya tidak bisa, Pak. Saya tidak bisa menghadapi ini. Semua orang membenci saya. Semua orang menghakimi saya tanpa tahu kebenarannya.'
Arga berjalan ke arahnya dan berhenti di depannya. Ia tidak menyentuhnya, tapi ia berdiri cukup dekat sehingga Larasati bisa merasakan kehadirannya.
'Larasati, dengarkan aku.' Suara Arga tenang tapi tegas. 'Kau tidak bersalah. Kau tidak melakukan kesalahan apa-apa. Nadia yang bersalah. Nadia yang menghancurkan semuanya. Dan aku tidak akan membiarkan dia menghancurkanmu juga.'
'Tapi semua orang percaya padanya,' kata Larasati, suaranya hancur. 'Semua orang membenci saya.'
'Aku tidak.' Arga menatapnya dengan tatapan yang dalam. 'Aku tidak membencimu. Aku tidak menghakimimu. Dan aku akan membela mu di depan semua orang.'
Larasati menatapnya, dan untuk pertama kalinya sejak pagi, ia merasakan sesuatu yang bukan rasa sakit: harapan.
'Apa yang akan Anda lakukan?' tanya Larasati pelan.
'Aku akan mengadakan konferensi pers. Aku akan menceritakan kebenaran yang sebenarnya. Aku akan menunjukkan bukti bahwa Nadia yang berselingkuh, bahwa Nadia yang berbohong, bahwa Nadia yang mencoba menghancurkanmu.' Arga tidak berkedip. 'Dan aku akan memastikan semua orang tahu bahwa kau adalah wanita yang baik, wanita yang tidak bersalah, wanita yang tidak pantas menerima semua ini.'
Larasati tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia melihat pria yang sebenarnya di balik CEO yang dingin itu: pria yang peduli, pria yang melindungi, pria yang tidak akan membiarkan orang yang ia sayangi terluka.
'Terima kasih,' kata Larasati, suaranya bergetar.
Arga mengangguk pelan. 'Kemas dirimu. Kita akan mengadakan konferensi pers dalam satu jam.'
Konferensi pers itu berlangsung di ruang konferensi Mahesa Group, sama seperti konferensi pers perceraian Arga beberapa bulan lalu. Tapi kali ini, Arga tidak sendirian. Larasati berdiri di sampingnya, dan Arga memegang tangannya dengan erat, tidak peduli siapa yang melihat.
'Saya tidak akan lama,' kata Arga di depan puluhan wartawan. 'Saya hanya ingin mengklarifikasi beberapa hal tentang tuduhan yang dilontarkan terhadap istri saya, Larasati Mahesa.'
Arga menunjukkan bukti-bukti: foto Nadia dan Dimas di rumah mereka, rekaman CCTV yang menunjukkan Nadia membawa Dimas masuk ke rumah, dan kesaksian dari pelayan yang melihat mereka bersama.
'Nadia Mahesa berselingkuh dengan Dimas Prasetyo di rumah kami, di hari anniversary pernikahan kami. Saya menceraikannya karena itu. Saya menikahi Larasati bukan untuk menghukum Nadia, tapi karena saya mencintai Larasati.'
Larasati menatap Arga dengan mata yang membesar. Arga tidak mengatakan itu sebelumnya. Arga tidak pernah mengatakan bahwa ia menikahi Larasati karena cinta.
Wartawan bertanya, 'Pak Arga, apakah Anda mencintai Larasati saat menikahinya, atau itu hanya kontrak?'
Arga menatap wartawan itu dengan tatapan yang tajam. 'Saya tidak akan menjawab pertanyaan tentang hubungan pribadi saya. Yang saya tahu adalah bahwa Larasati adalah wanita yang baik, wanita yang tidak bersalah, dan saya tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkannya.'
Konferensi pers itu berakhir dengan cepat, tapi dampaknya besar. Media mulai berbalik. Komentar-komentar di media sosial mulai berubah. Orang-orang mulai membela Larasati, mulai melihat kebenaran yang sebenarnya.
Malam itu, di dalam mobil pulang, Larasati menatap Arga dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. 'Anda mengatakan bahwa Anda menikahi saya karena cinta.'
Arga tidak menatapnya. Ia menatap lurus ke depan, dan untuk waktu yang lama, ia tidak berkata apa-apa. Lalu, akhirnya, ia berkata dengan suara yang hampir tidak terdengar, 'Aku tidak tahu apa yang aku rasakan. Tapi aku tahu bahwa aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu.'
Larasati tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya duduk di sana, di samping Arga, dan merasakan sesuatu yang hangat tumbuh di dadanya. Sesuatu yang menakutkan. Sesuatu yang indah.