Seminggu setelah Larasati mulai merawat ibu Arga, Arga melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya: ia mengundang Larasati ke kantornya untuk membahas proyek amal Mahesa Group.
'Kau bilang kau pernah bekerja di penerbitan,' kata Arga ketika Larasati duduk di kursi di depan mejanya di kantor Mahesa Group. 'Aku butuh seseorang untuk menangani konten dan komunikasi untuk yayasan amal kami.'
Larasati menatapnya, tidak yakin apa yang ia dengar. 'Anda menawari saya pekerjaan?'
'Bukan pekerjaan biasa. Pekerjaan di yayasan amal. Gajinya tidak besar, tapi kau akan membantu banyak orang.' Arga menatapnya dengan tatapan yang serius. 'Dan kau akan bekerja denganku.'
Larasati tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak menyangka Arga akan menawarinya pekerjaan, apalagi pekerjaan yang berarti. 'Saya... saya tidak tahu harus berkata apa, Pak.'
'Katakan ya atau tidak.'
'Ya.' Jawaban itu keluar sebelum Larasati sempat berpikir. 'Ya, saya mau.'
Arga mengangguk pelan, seperti sudah tahu jawabannya. 'Mulai besok. Bu Sari akan mengurus administrasinya.'
Hari berikutnya, Larasati mulai bekerja di yayasan amal Mahesa Group. Kantornya kecil, di lantai dua gedung yang sama dengan kantor utama, tapi jauh dari hiruk pikuk bisnis. Timnya hanya lima orang: Larasati, dua orang program officer, satu orang komunikasi, dan satu orang admin.
Pekerjaannya adalah menangani konten untuk kampanye amal: menulis cerita tentang penerima bantuan, membuat materi untuk media sosial, dan mengoordinasikan dengan media untuk liputan. Larasati menyukai pekerjaannya. Ia menyukai bahwa ia bisa menggunakan kemampuan menulisnya untuk sesuatu yang bermakna.
Arga sesekali datang ke kantor yayasan untuk mengecek progres. Ia tidak banyak bicara, hanya bertanya tentang proyek yang sedang berjalan, memberikan masukan, dan pergi. Tapi Larasati memperhatikan bahwa ia mendengarkan ketika Larasati berbicara. Ia benar-benar mendengarkan.
Suatu hari, Arga datang dengan sebuah proposal untuk proyek baru: membangun perpustakaan komunitas di daerah kumuh. 'Aku ingin kau yang menangani ini,' katanya pada Larasati. 'Dari konsep sampai pelaksanaan.'
Larasati menatap proposal itu dengan mata yang membesar. 'Saya? Tapi saya tidak pernah menangani proyek sebesar ini.'
'Kau bisa. Aku percaya kau bisa.' Arga menatapnya dengan tatapan yang tidak memberikan ruang untuk keraguan. 'Dan aku akan membantumu kalau kau butuh.'
Larasati menerima tantangan itu. Ia bekerja keras, sering sampai larut malam, merancang konsep perpustakaan, menghubungi arsitek, mengurus izin, dan mengoordinasikan dengan komunitas setempat. Arga sesekali datang untuk mengecek, memberikan masukan, dan membantu ketika Larasati menghadapi kesulitan.
Suatu malam, ketika Larasati bekerja sampai larut di kantor yayasan, Arga datang dengan dua cangkir kopi. Ia meletakkan satu cangkir di depan Larasati dan duduk di kursi di depannya.
'Kau tidak perlu bekerja sampai selarut ini,' kata Arga, menyesap kopinya.
'Proyek ini penting untuk saya, Pak. Saya ingin berhasil.'
Arga menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Kau akan berhasil. Aku tahu kau akan berhasil.'
Larasati menatapnya, dan untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang hangat di mata Arga. Bukan cinta. Bukan ketertarikan. Tapi kepercayaan. Kepercayaan yang tulus.
'Terima kasih,' kata Larasati pelan.
Mereka duduk di sana dalam keheningan, minum kopi bersama, dan Larasati merasakan bahwa ada sesuatu yang berubah di antara mereka. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, tapi nyata.
Ketika mereka akhirnya berdiri untuk pulang, Arga berkata, 'Aku akan mengantarmu.'
'Tidak perlu, Pak. Saya bisa pulang sendiri.'
'Aku akan mengantarmu.' Nada suaranya tidak memberikan ruang untuk penolakan.
Di dalam mobil, mereka tidak berbicara banyak. Tapi keheningan itu tidak lagi terasa canggung. Keheningan itu terasa seperti kebersamaan.
Ketika mereka tiba di mansion, Arga berhenti di depan pintu dan berkata, 'Larasati, terima kasih.'
'Untuk apa, Pak?'
'Untuk menjadi dirimu.' Arga menatapnya dengan tatapan yang dalam. 'Untuk tidak menjadi seperti Nadia.'
Larasati tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya menatap Arga, dan untuk satu detik, dunia berhenti berputar.
Lalu Arga mengangguk pelan dan masuk ke dalam, meninggalkan Larasati berdiri di depan pintu dengan jantung yang berdebar tidak karuan.
Malam itu, Larasati tidak bisa tidur. Ia berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit, dan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi di antara dia dan Arga. Apa yang sedang tumbuh. Apa yang menakutkan.