Larasati tidak menyangka bahwa ibu Arga akan menjadi bagian penting dalam hidupnya di mansion itu. Pertama kali ia bertemu dengan Nyonya Mahesa adalah di hari ketiga setelah pernikahan kontraknya, ketika Bu Tini memintanya untuk mengantar sup ke kamar ibu Arga di lantai tiga.
'Ibu Arga sedang tidak enak badan,' kata Bu Tini dengan tatapan yang hati-hati. 'Beliau sudah lama sakit-sakitan sejak... sejak masalah dengan Nadia.'
Larasati mengangguk dan membawa nampan berisi sup ayam hangat ke kamar ibu Arga. Kamar itu besar dan terang, dengan jendela yang menghadap taman. Ibu Arga berbaring di tempat tidur, wajahnya pucat, rambutnya yang sudah memutih tergerai di bantal. Ia terlihat jauh lebih tua dari usianya yang sebenarnya, dan Larasati bisa melihat kesedihan yang mendalam di matanya.
'Selamat siang, Bu,' kata Larasati pelan, meletakkan nampan di meja samping tempat tidur.
Ibu Arga menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca. 'Kau istri baru Arga?'
'Ya, Bu. Saya Larasati.'
Ibu Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan Larasati bisa merasakan bahwa ia sedang dinilai, sedang ditimbang, sedang dicari kekurangannya.
'Akhirnya Arga menikah lagi,' kata ibu Arga akhirnya, suaranya lemah. 'Setelah apa yang dilakukan Nadia padanya.'
Larasati tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya berdiri di sana, diam, dan membiarkan ibu Arga berbicara.
'Kau tahu apa yang dilakukan Nadia pada anakku?' tanya ibu Arga, suaranya mulai bergetar. 'Dia menghancurkannya. Dia membuat Arga tidak percaya pada cinta lagi. Dia membuat Arga menjadi dingin seperti es.'
'Saya tahu, Bu,' kata Larasati pelan. 'Saya minta maaf.'
'Kau tidak perlu minta maaf. Kau tidak bersalah.' Ibu Arga menatapnya dengan tatapan yang lebih lembut sekarang. 'Kau hanya adik tiri Nadia. Kau tidak seperti dia.'
Larasati duduk di kursi di samping tempat tidur, dan untuk satu jam berikutnya, ia mendengarkan ibu Arga berbicara tentang Arga, tentang masa kecilnya, tentang bagaimana ia dulu adalah anak yang penuh tawa sebelum ayahnya mengkhianati keluarga mereka. Larasati mendengarkan dengan sabar, tidak menyela, tidak menghakimi.
Ketika ia akhirnya berdiri untuk pergi, ibu Arga memegang tangannya. 'Kau akan datang lagi?'
'Ya, Bu. Saya akan datang lagi.'
Larasati datang lagi keesokan harinya, dan hari berikutnya, dan hari berikutnya. Ia membawa makanan yang ia buat sendiri di dapur mansion — bubur, sup, teh herbal. Ia membaca untuk ibu Arga. Ia mendengarkan cerita-cerita lama. Ia tidak meminta apa-apa, tidak mengharapkan apa-apa, hanya memberikan waktunya.
Bu Tini memperhatikan ini dengan tatapan yang berubah dari hati-hati menjadi hangat. 'Ibu Arga sangat senang dengan kehadiran Nona,' katanya pada Larasati suatu hari. 'Beliau sudah lama tidak makan dengan lahap seperti sekarang.'
Larasati tidak tahu bahwa Arga juga memperhatikannya. Ia tidak tahu bahwa Arga berdiri di ambang pintu kamar ibunya beberapa kali, mendengarkan Larasati membaca atau berbicara dengan ibunya, dan melihat sesuatu yang sudah lama tidak ia lihat: kebaikan yang tulus.
Suatu sore, ketika Larasati sedang membaca untuk ibu Arga, ibu Arga tertidur. Larasati menutup bukunya dengan pelan, menyelimuti ibu Arga dengan hati-hati, dan berdiri untuk pergi. Ketika ia berbalik, ia menemukan Arga berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dibaca.
'Berapa lama kau sudah di sini?' tanya Arga pelan.
'Hampir dua jam, Pak.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, Larasati melihat sesuatu yang bukan dingin di matanya: kebingungan, atau mungkin kekaguman yang tidak diinginkan.
'Terima kasih,' kata Arga akhirnya, suaranya hampir tidak terdengar.
Larasati mengangguk dan berjalan keluar dari kamar, meninggalkan Arga berdiri di samping tempat tidur ibunya, sendirian dengan pikirannya.
Malam itu, Arga tidak langsung masuk ke kamar kerjanya seperti biasa. Ia berdiri di lorong, memikirkan Larasati yang dengan sabar merawat ibunya tanpa pamrih, dan merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Sesuatu yang tidak ia mengerti. Sesuatu yang tidak ia inginkan.
Sesuatu yang menakutkan.