"Jika agama dan Tuhanmu mengajarkan bahwa seorang istri harus menatap suaminya saat berbicara, lalu mengapa setiap kali aku melangkah maju, kau justru membuang muka seolah aku ini wabah penyakit, Titah?"
Suara bariton serak yang sarat frustrasi menggema di lorong lantai dua mansion. Pagi baru saja menyapa, namun ketegangan di antara dua manusia itu sudah sepanas terik matahari siang.
Titah menghentikan langkahnya. Tangannya yang sedang merapikan lipatan ujung khimar yang menjuntai hingga ke perut terhenti. Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang, lalu berbalik perlahan. Dan matanya langsung dihadapkan pada pemandangan yang seharusnya membuat jantung wanita mana pun berhenti berdetak.
Afgan bersandar santai di kusen pintu kamarnya. Pria itu baru saja selesai mandi; rambut hitam pekatnya masih basah, meneteskan air yang mengalir turun melewati rahang tegasnya, menyusuri leher, hingga ke d**a bidangnya yang terekspos sempurna. Ia tak mengenakan atasan sama sekali, hanya celana training hitam yang menggantung rendah di pinggul. Otot perutnya yang terbentuk sempurna bak pahatan dewa Yunani terpampang nyata, memancarkan aura maskulinitas yang liar dan memikat.
Namun alih-alih tersipu atau terpukau seperti yang ia harapkan, Afgan justru melihat istrinya segera menundukkan pandangan. Mata coklat Titah terpaku pada lantai marmer di bawah sepatu suaminya.
"Saya membuang muka bukan karena Anda wabah penyakit, Tuan Afgansyah Reza," jawab Titah tenang, suaranya sedingin es di kutub utara. "Saya hanya menjaga pandangan saya. Anda mungkin lupa, meski kita terikat pernikahan, Andalah yang menegaskan hubungan ini hanya sebatas kesepakatan di atas kertas. Saya tak akan menikmati pemandangan yang tidak disodorkan dengan keikhlasan hati."
Afgan mendecak kesal. Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Aroma sabun peppermint bercampur feromon maskulinnya seketika menyelimuti ruang di sekitar Titah.
"Aku tak butuh dalih religiusmu pagi ini," desisnya. Ia sengaja mencondongkan tubuh, berusaha masuk ke garis pandang Titah yang menunduk. "Tatapanmu semalam saat menantangku di bawah tangga begitu berani. Ke mana perginya singa betina itu sekarang? Kenapa kau bersembunyi di balik kainmu?"
"Saya tidak bersembunyi. Saya sedang bersabar," balas Titah, lalu mundur selangkah, tetap tak mengangkat wajahnya. "Dan jika Anda memiliki sedikit rasa hormat pada diri sendiri, Tuan, Anda akan memakai pakaian sebelum berbicara dengan saya. Saya permisi, Arga sudah menunggu untuk sarapan."
Tanpa menunggu balasan, Titah berbalik cepat dan melangkah pergi dengan keanggunan yang tak tertembus. Ujung gamis hitamnya berdesir menyapu lantai, meninggalkan Afgan yang mematung dengan rahang mengeras.
Afgan mengusap wajahnya kasar. "Sialan," umpatnya pelan. Wanita itu benar-benar menguji batas kewarasannya. Seumur hidupnya, ia selalu ditatap dengan pujaan, ketakutan, atau gairah. Namun Titah? Wanita itu menolaknya seolah tubuh atletis seorang mafia yang bernilai triliunan dolar ini tak lebih dari onggokan kayu tak berguna.
Rasa penasaran yang gila semakin menggerogoti akal sehatnya. Ia ingin meruntuhkan benteng kesopanan itu. Ia ingin melihat mata coklat itu memancarkan keputusasaan, memohon padanya. Afgan menyeringai tipis—rencana licik mulai terbentuk di kepalanya. Jika Titah menolak menatapnya, maka dialah yang akan membuat wanita itu tak punya pilihan lain.
Di ruang makan, Arga duduk manis di kursinya. Wajah bocah yang biasanya murung kini tampak cerah. Di hadapannya, Titah sedang memotongkan pancake menjadi potongan kecil.
"Tetah, hari ini kan Minggu. Guru les Arga libur," ucap Arga dengan mulut penuh sirup mapel. "Arga mau jalan-jalan. Boleh?"
"Tentu saja boleh, Sayang," jawab Titah lembut, matanya menyipit tersenyum di balik cadar. "Mau ke mana? Taman? Atau beli buku cerita baru?"
"Mau ke mal! Arga mau beli lego robot yang besar banget!" serunya antusias.
"Baiklah. Setelah sarapan kita bersiap, ya."
Tepat saat kalimat itu usai, suara langkah sepatu kulit berat terdengar memasuki ruangan. Afgan muncul, kali ini dengan penampilan jauh lebih rapi: kemeja warna navy digulung hingga siku dan celana jeans hitam. Penampilan kasual itu justru membuat ketampanannya terlihat semakin mengintimidasi.
"Siapa yang bilang kalian boleh pergi berdua saja?" potongnya tiba-tiba. Ia menarik kursi di sebelah Arga dan duduk dengan gaya arogan khasnya, menatap tajam ke arah Titah. "Dunia di luar sana terlalu berbahaya untuk pewaris Afgansyah Reza berkeliaran hanya didampingi seorang pengasuh."
"Saya bukan sekadar pengasuh. Saya ibunya sekarang. Dan saya cukup mampu menjaga Arga," balas Titah tenang, menuangkan air putih untuk anak itu tanpa membalas tatapan Afgan. "Lagipula, pengawal Anda sudah menyebar menyamar. Tak perlu berlebihan."
"Aku ikut," putus Afgan final.
Titah dan Arga menoleh bersamaan. Arga tampak terkejut setengah takut, sementara Titah berkerut di balik cadarnya.
"Papa mau ikut ke mal?" cicit Arga pelan.
Seumur hidupnya, ayahnya tak pernah sekalipun menginjakkan kaki di tempat umum seperti pusat perbelanjaan. Jika ia menginginkan sesuatu, asisten ayahnya akan memborong seluruh toko dan membawanya ke rumah.
"Kenapa? Kau tak suka papamu ikut?" tanya Afgan datar.
Arga buru-buru menunduk, takut salah bicara. "S-suka, Pa."
Titah menghela napas pelan, menyadari kecanggungan anak itu. Ia menatap lurus ke mata Afgan.
"Jika Anda ikut, saya punya satu syarat mutlak."
Alis Afgan terangkat, terhibur dengan keberanian wanita ini. "Kau memberiku syarat di wilayah kekuasaanku sendiri?"
"Jika tak setuju, silakan diam di rumah," tantang Titah tak ragu.
"Syaratnya: bersikaplah seperti ayah biasa. Tak ada iring-iringan mobil anti-peluru. Tak ada pengawal berjas hitam yang mengerumuni kita seperti lalat. Dan yang terpenting, jangan pernah berpikir mengosongkan mal hanya karena Anda tak suka keramaian."
Rahang Afgan mengetat kaku.
"Kau memintaku—bos dari seluruh jaringan bawah tanah kota ini—berjalan di tengah kerumunan tanpa pengaman? Kau gila?"
"Saya sangat waras," balas Titah tajam. "Arga butuh bersosialisasi. Dia butuh dunia nyata, bukan dunia buatan yang Anda isolasi untuknya. Anda selalu menanamkan ketakutan bahwa semua orang ingin menyakitinya. Jika Anda memang sekuat yang Anda klaim, Anda pasti bisa melindungi putra Anda di tengah orang banyak tanpa harus merampas kegembiraan anak-anak lain."
Afgan mengepalkan tangan di bawah meja. Wanita ini tahu persis cara memukul harga dirinya di titik paling mematikan. Menuduhnya lemah secara halus? Sialan.
"Baik," desisnya akhirnya, mata berkilat berbahaya. "Hanya kita bertiga. Dika dan anak buah memantau dari jauh. Tapi jika sesuatu terjadi pada Arga, aku pastikan kau menyesal pernah dilahirkan, Titah."
"Saya berani bertaruh nyawa untuk Arga," jawab Titah mantap. Ia beralih menatap anak itu dengan nada selembut kapas. "Ayo habiskan susunya, Jagoan. Kita berangkat."
Afgan menatap punggung berbalut kain hitam itu dengan d**a bergemuruh. Persetan dengan kesepakatan. Wanita ini tak sekadar masuk ke rumahnya, tapi perlahan mulai mengambil alih hati putranya. Dan ironisnya, ia tak membenci hal itu.
Pusat perbelanjaan terbesar di pusat kota siang itu cukup ramai. Afgan benar-benar menepati janjinya, meski dengan wajah seolah siap membunuh siapa saja yang berani mendekat dalam radius dua meter.
Penampilan mereka bertiga menyita perhatian luar biasa.
Afgan, dengan aura mafia yang kental, ketampanan aristokrat, dan tatapan elang yang tajam, tampak seperti aktor papan atas yang sedang syuting film laga. Di tangan kirinya, Arga menggenggam jemari ayahnya dengan ragu namun matanya berbinar antusias melihat keramaian. Dan di sisi kanan anak itu, berjalan sosok wanita misterius berbalut kain hitam lengkap—namun memancarkan postur dan keanggunan seorang ratu.
Mereka tampak kontras, namun kesatuan yang tak terbantahkan.
Afgan diam-diam mengamati Titah dari sudut matanya. Wanita itu berjalan tenang, tak terganggu sedikit pun oleh tatapan penasaran atau bisik-bisik orang di sekitar. Justru Afgan yang merasa panas melihat tatapan pria-pria iseng yang berusaha mencari celah melihat lekuk tubuh Titah, meski gamisnya begitu longgar dan tertutup rapat.
Tanpa sadar, ia menggeser posisinya, memblokir pandangan seorang pria yang terus menatap istrinya. Satu sorot tajam yang dilontarkan membuat pria itu pucat pasi dan segera berlari menjauh.
"Anda tak perlu mengintimidasi orang hanya karena mereka melihat ke arah kita, Tuan," tegur Titah pelan tanpa menoleh. Ia tahu persis apa yang dilakukan suaminya.
"Aku tak mengintimidasi. Aku hanya memastikan sampah tak mengotori jalanku," balas Afgan angkuh. "Dan jangan berharap lebih. Aku melakukan ini demi nama baikku, bukan melindungimu."
Titah tersenyum tipis di balik cadarnya. Ia sudah mulai paham betul cara kerja gengsi pria arogan ini.
Setelah membelikan Arga tiga kotak lego ukuran raksasa—karena Afgan menolak membeli satu dan memaksa mengambil setengah isi toko—mereka beristirahat di kafe eksklusif dalam mal.
Arga sibuk menikmati es krimnya, sementara Titah duduk tenang. Afgan memesan espresso ganda, matanya tak lepas dari sosok di hadapannya.
Baru sepuluh menit mereka duduk menikmati suasana, ketenangan itu tiba-tiba pecah oleh suara hentakan hak sepatu tinggi yang beradu kencang dengan lantai marmer, disusul suara melengking yang sangat akrab di telinga Afgan.
"Wah, Ya Tuhan! Mataku pasti tak salah lihat, kan? Sang Afgansyah Reza yang agung, ternyata ada di mal umum? Bahkan sedang makan es krim?"
Titah mendongak. Seorang wanita berambut merah menyala dengan gaun rancangan desainer ternama berjalan menghampiri meja mereka. Wajahnya tertutup riasan tebal, sementara matanya memancarkan kesombongan yang licik. Di belakangnya, dua pengawal berbadan kekar berdiri berjaga.
Afgan meletakkan cangkir kopinya perlahan. Seketika matanya menggelap, memancarkan aura permusuhan yang begitu pekat hingga udara di sekitar meja terasa mencekam. Titah langsung paham: wanita ini bukan sekadar kenalan biasa.
"Pergilah, Clarissa. Sebelum aku memerintahkan anak buahku mematahkan lehermu tepat di sini," desis Afgan rendah, suaranya hanya terdengar di antara mereka, namun sarat ancaman nyata.
Clarissa tertawa sinis melengking. Ia adalah sahabat karib Larasati, mantan istri Afgan yang mengkhianatinya.
"Tenang saja, Afgan. Aku cuma ingin menyapa mantan suami sahabatku. Kudengar kabar kau sudah menikah lagi? Ah..."
Pandangannya kini beralih sepenuhnya pada Titah. Matanya menelanjangi sosok bercadar itu dengan penuh cibiran merendahkan. Ia menutup mulutnya seolah menahan tawa geli.
"Astaga, ini dia istrimu? Afgan, Afgan... seleramu benar-benar jatuh ke dasar jurang, ya? Setelah gagal mendapatkan kembali wanita kaliber tinggi seperti Larasati, kau malah memungut seorang ninja dari pinggir jalan? Pakaian macam apa ini? Apa kau menyembunyikan wajah buruk rupa di balik kain lap lusuh itu?" hina Clarissa tanpa belas kasihan.
Mendengar nama 'Larasati' disebut, Arga seketika berhenti mengunyah. Tubuh mungilnya gemetar hebat. Bayangan buruk masa lalu kembali menyeruak, melumpuhkan bocah itu.
Rahang Afgan mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol jelas. Ia siap melompat berdiri, tangan sudah meraba gagang pistol di balik pakaiannya—persetan dengan keramaian—ketika sebuah tangan mungil namun tegas menyentuh lengannya, menahannya di tempat.
Itu sentuhan pertama Titah pada Afgan.
Rasa seperti aliran listrik yang hangat namun menenangkan menjalar seketika dari titik sentuhan itu ke seluruh tubuhnya. Afgan menoleh, tertegun tak percaya. Sepasang mata coklat Titah menatapnya sekilas, memberi isyarat yang jelas: Diamlah. Biarkan aku yang mengurus ini.
Titah bangkit berdiri dengan keanggunan yang tak tergoyahkan. Tak ada jejak kemarahan meledak-ledak. Dengan langkah tenang, ia berjalan memutar meja hingga berdiri tepat di hadapan Clarissa yang masih menyeringai meremehkan.
"Pakaian saya mungkin terlihat seperti kain lap di mata Anda, Nona Clarissa," ucap Titah pelan, suaranya tak meninggi, namun ketenangannya justru membuat atmosfer di sekitar mereka membeku. "Namun, fungsi utama pakaian adalah untuk menutupi kehormatan dan menjaga harga diri pemakainya."
Ia menatap lurus ke manik mata Clarissa, sorotnya berkilat tajam mematikan.
"Berbeda dengan Anda. Gaun yang Anda kenakan bernilai ratusan juta, buatan perancang ternama Paris. Namun sayang sekali, kain semahal itu tak mampu menutupi fakta bahwa harga diri Anda dan sahabat Anda jauh lebih murah daripada kain lap yang Anda sebut tadi. Setidaknya kain lap masih berguna membersihkan kotoran. Sedangkan kalian? Kalianlah kotoran yang mencoba mencemari rumah tangga dan keluarga saya."
Mulut Clarissa ternganga lebar, matanya melotot tak percaya. "K-Kau! Berani sekali kau menghinaku dan Larasati! Kau tak tahu siapa kami sebenarnya?!"
"Saya tahu persis siapa kalian," potong Titah tegas, kini wibawanya begitu kuat hingga pengawal Clarissa pun ragu untuk melangkah maju. "Kalian adalah bagian dari masa lalu yang sudah dibuang ke tempat sampah. Jadi, silakan angkat kaki Anda dari hadapan suami dan putra saya, sebelum saya meminta petugas keamanan mal membuang Anda kembali ke tempat asal yang pantas untuk kalian."
Clarissa gemetar menahan malu dan amarah yang meledak di ubun-ubunnya, apalagi beberapa pengunjung mulai berbisik-bisik dan merekam kejadian itu. Wajahnya merah padam menahan marah, ia menghentakkan kakinya kesal lalu berbalik pergi dengan langkah tergesa-gesa.
"Ingat saja ini, Afgan! Larasati akan segera kembali, dan dia akan mengambil Arga dari tangan wanita aneh sepertimu!" ancam Clarissa sebelum akhirnya menghilang di kerumunan.
Titah seolah tak mendengar ancaman kosong itu. Ia kembali ke kursinya dengan tenang, lalu segera beralih ke Arga yang masih pucat dan gemetar. Ia merangkul bocah itu erat, mengusap punggungnya pelan.
"Sudah, Jagoan. Tidak apa-apa. Ada Tetah di sini. Tak ada seorang pun yang berani mengambil Arga dari kami."
Di seberang meja, Afgan masih duduk terpaku. Dadanya bergemuruh hebat, napasnya sempat tertahan. Ia tak lagi memikirkan Clarissa atau ancaman Larasati. Pikirannya sepenuhnya tersita pada satu hal: sentuhan lembut tangan istrinya, dan bagaimana wanita itu dengan berani melindungi kehormatan mereka berdua—bahkan dirinya sendiri.
Ia baru saja diselamatkan. Diselamatkan oleh seorang wanita—oleh istrinya sendiri.
Sepanjang hidupnya, Afgan adalah pelindung mutlak. Ia adalah tameng tak tertembus, sekaligus algojo yang menghancurkan siapa pun yang berani mengancam orang yang ia lindungi. Namun baru saja ini? Titah berdiri tegak di hadapannya, melindunginya dan putranya dengan kata-kata tajam yang jauh lebih mematikan daripada peluru senjata api mana pun.
Kalimat "suami saya" dan "keluarga saya" yang meluncur lembut dari bibir Titah terus bergaung di telinganya, menimbulkan kepuasan ego yang luar biasa, sekaligus menyalakan api obsesi yang tak lagi bisa ia tahan.
Afgan menatap mata coklat itu lekat-lekat. Dinding keangkuhan dan benteng pertahanan hatinya perlahan mulai retak. Sialan. Wanita bercadar ini tak sekadar menaklukkan ketakutan Arga—ia juga perlahan menjerat leher sang Tuan Mafia dengan benang sutra pelindungnya yang ternyata mematikan.
Perjalanan pulang di dalam mobil Mercedes-Maybach S 600 Guard anti-peluru itu terasa sarat keheningan yang canggung. Arga tertidur pulas di pangkuan Titah, kelelahan setelah menahan tangis akibat insiden di kafe. Titah sibuk membelai lembut rambut bocah itu, sambil melantunkan selawat dengan suara begitu pelan, nyaris seperti bisikan angin yang menenangkan.
Di sebelahnya, Afgan duduk bersandar pada jok kulit yang empuk. Namun matanya tak pernah beralih sedetik pun dari sosok istrinya. Ia menatap Titah layaknya predator yang sedang mempelajari setiap gerak-gerik buruannya yang paling berharga.
Merasa terus diawasi tanpa jeda, Titah akhirnya berbalik menoleh.
"Apakah ada yang kurang pas dari pakaian saya, Tuan?" sindirnya tajam. "Anda menatap saya seolah hendak menguliti saya hidup-hidup."
Bukannya menunduk atau marah, sudut bibir Afgan justru terangkat membentuk seringai miring yang memukau sekaligus berbahaya.
"Aku sedang mengingat ucapanmu tadi," suaranya terdengar berat dan serak, membelah keheningan di dalam kabin. "Kau menyebutku 'suami saya' di depan wanita ular itu. Sebuah pengakuan yang sangat berani—dari mulut wanita yang kemarin menolak sekadar menatap mataku."
"Itu hanya taktik pertahanan semata," jawab Titah cepat, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang meski jantungnya mulai berdetak tak beraturan di balik d**a. "Saya hanya menempatkan orang-orang sombong itu pada tempatnya. Jangan beri makna lain pada ucapan itu."
Afgan menggeser posisinya, merapatkan jarak di antara mereka hingga hanya tersisa beberapa sentimeter. Aroma maskulin yang khas dan berbahaya kembali menguasai indra penciuman Titah.
"Kau pembohong yang sangat buruk, Titah," bisik Afgan tepat di telinganya. Embusan napas hangatnya menembus kain cadar, membuat bulu roma di sekujur tubuh Titah meremang hebat.
Perlahan, tangan kanan Afgan terangkat. Ujung jari telunjuk dan ibu jarinya yang kasar namun hangat menyentuh pelan ujung kain cadar yang menutupi pipi Titah. Ia tak menariknya, hanya mengusap kain itu dengan gerakan lambat yang terasa menyiksa sekaligus memikat.
"Sentuhan tanganmu yang menahanku tadi..." lanjutnya, suaranya merendah nyaris seperti geraman yang dipenuhi gairah terpendam. "Terasa sangat hangat. Untuk seseorang yang mengklaim hubungan ini hanya sebatas kertas, tubuhmu bereaksi seolah kaulah pelindungku yang sesungguhnya."
"Jauhkan tangan Anda, Afgan," desis Titah, berusaha menekan rasa gugupnya. Ia menoleh dengan kasar, melepaskan sentuhan jemari pria itu. "Saya menahan Anda karena tak ingin putra saya melihat ayahnya bertindak kasar dan bengis di depan umum. Saya menjaga kewarasan Arga—bukan menyelamatkan Anda."
Afgan terkekeh pelan, suara itu bergema rendah di dadanya yang bidang. Ia tak berhenti menatapnya, dengan sorot mata yang seolah tahu persis apa yang tersembunyi di balik ketegasan wanita itu.
Afgan terkekeh pelan, suara itu terdengar penuh arti di dalam ruang kabin yang sunyi.
"Penolakanmu ini entah kenapa justru membuatku semakin gila, Titah. Kau terus membangun tembok beton setebal apa pun di sekelilingmu, sayangnya aku adalah orang yang paling suka menghancurkan benteng seperti itu."
Pria itu kembali bersandar ke jok kulit, namun seringai kemenangannya belum pudar. Ia tahu betul, ia baru saja berhasil menembus lapisan pertama ketenangan wanita itu. Titah mungkin tampak tak tersentuh dari luar, tapi Afgan bisa melihat napasnya yang sedikit memburu di balik cadar itu.
Malam harinya, setelah memastikan Arga tertidur lelap, Titah berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air hangat. Langkahnya terhenti di depan ruang kerja Afgan di lantai dua, saat melihat pintu kayu itu sedikit terbuka.
Dari dalam terdengar suara Dika yang sedang melaporkan sesuatu. Titah sadar sepenuhnya bahwa menguping adalah hal yang salah dan melanggar prinsip. Namun satu nama yang disebutkan memaksanya menahan langkah dan menempelkan tubuh ke dinding lorong.
"Informasi terbaru dari agen kita di perbatasan, Tuan. Larasati berhasil masuk ke negara ini secara ilegal. Dia menggunakan paspor palsu dengan perlindungan dari sindikat Klan Macan Tutul," suara Dika terdengar tegang dan penuh kekhawatiran.
Keheningan mencekam menyelimuti ruangan sejenak. Lalu terdengar suara keras—gelas kaca dihantamkan ke dinding hingga pecah berkeping-keping berantakan.
"Bagaimana bisa wanita pengkhianat itu lolos dari semua pengawasan kita?!" raung Afgan, amarah sejati seorang mafia akhirnya meledak tak terbendung. "Aku sudah menghabiskan jutaan dolar hanya untuk memastikan dia membusuk di tempat asing sana!"
"Klan Macan Tutul sengaja melindunginya, Tuan. Mereka berniat menjadikan Larasati senjata untuk mengacaukan fokus Anda. Mereka tahu dia memiliki hak biologis atas Tuan Muda Arga. Jika mereka berhasil membawa kasus ini ke pengadilan yang mereka kuasai, mereka bisa merebut Arga dan menjadikannya jaminan untuk menekan Anda."
"Tidak akan pernah terjadi!" geram Afgan, suaranya berat hingga seolah menggetarkan dinding ruangan. "Perketat penjagaan seluruh area mansion. Lipatgandakan penembak jitu di atap. Jika wanita itu atau siapa pun dari kelompok sialan itu berani menginjakkan kaki dalam radius satu kilometer dari rumah ini, tembak mati di tempat. Jangan tinggalkan jejak sedikit pun!"
"Baik, Tuan. Segera dilaksanakan."
Di balik dinding lorong, Titah memejamkan matanya erat-erat. Jantungnya berpacu kencang, bukan karena rasa takut, melainkan karena naluri keibuannya yang meledak ingin melindungi. Ia baru saja menyentuh hati Arga, anak yang luluh lantak karena pengkhianatan wanita itu. Titah tak akan membiarkan wanita egois bernama Larasati kembali dan menghancurkan sisa kewarasan bocah itu.
Tiba-tiba pintu ruang kerja ditarik terbuka lebar.
Titah terkesiap pelan. Afgan berdiri menjulang di ambang pintu, dadanya naik turun menahan amarah, dengan mata sekelam badai yang siap meluluhlantakkan apa saja. Pria itu langsung menyadari kehadiran istrinya.
Dika yang paham situasi segera menunduk hormat dan pamit undur diri, meninggalkan suami istri itu berdua dalam keheningan lorong yang mencekam.
Afgan melangkah mendekat, menutup jarak dengan cepat. Amarah yang masih mendidih bercampur dengan rasa frustrasi melihat wanita di hadapannya yang selalu berdiri tegak, tak pernah goyah sedikit pun.
"Kau mendengar semuanya?" tanyanya dengan suara berat dan serak.
"Ya. Saya mendengar semuanya," jawab Titah jujur tanpa ragu, matanya menatap lurus menembus kegelapan sorot mata Afgan.
Afgan mencengkeram kedua bahu Titah dengan kuat, memaksanya tetap di tempat.
"Dengar baik-baik, Titah. Ini bukan dunia dongeng yang damai. Ini duniaku—dunia yang penuh darah, pengkhianatan, dan kematian. Wanita itu akan datang, dan dia membawa bahaya yang bahkan tak bisa kau bayangkan. Jika kau takut, katakan sekarang. Aku akan mengirimmu pergi sejauh mungkin dari sini, dengan uang yang cukup untuk menghidupimu tujuh turunan."
Titah tak meringis meski cengkeraman itu terasa menekan nyeri di bahunya. Perlahan ia mengangkat kedua tangannya, lalu meletakkannya lembut namun tegas di atas tangan besar Afgan yang mencengkeramnya. Tindakan itu begitu tak terduga hingga membuat Afgan seketika membeku.
"Anda terlalu meremehkan saya, Tuan Afgansyah Reza," balas Titah tenang, namun suaranya memiliki ketajaman yang mampu membelah baja. "Masa lalu Anda mungkin berhasil menghancurkan hati dan kewarasan Anda. Tapi dengarkan sumpah saya: jika wanita ular itu berani menyentuh sehelai rambut pun dari kepala Arga, atau mencoba mengganggu kedamaian keluarga ini... saya sendiri yang akan memastikan dia takkan pernah melihat matahari terbit lagi. Saya mungkin bercadar, Afgan, tapi saya bukan wanita lemah yang bisa diusir dari rumahnya sendiri."
Afgan menahan napasnya. Ia menatap mata coklat yang menyala dengan api keberanian yang tak tergoyahkan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya sebagai penguasa bawah tanah yang paling ditakuti, Afgan menyadari satu kebenaran: kekuatan paling mematikan di dunia ini bukanlah senjata api, bukan pula pasukan bersenjata lengkap—melainkan seorang istri yang bersumpah dengan nyawanya untuk melindungi apa yang menjadi miliknya.
"Kalau begitu buktikan padaku, Titah," bisik Afgan serak, wajahnya mendekat hingga embusan napasnya kembali menyapu kain cadar di wajah wanita itu. "Buktikan bahwa kau pantas berdiri di samping sang Raja... atau kau akan ikut hancur bersamaku."