"Kau pikir dengan membuat putraku berhenti menangis semalam, kau sudah berhasil menaklukkan neraka ini, Titah? Jangan terlalu cepat berpuas diri. Ingat satu hal: iblis sebenarnya di rumah ini baru saja terbangun."
Suara Afgan yang dingin dan rendah menyambut langkah pertama Titah di ruang makan utama pagi itu.
Ruangan raksasa bergaya Victorian klasik itu didominasi nuansa marmer hitam dan aksen emas berkilau. Di ujung meja makan panjang kayu eboni solid, Afgan duduk tegak layaknya seorang kaisar yang sedang menghakimi tawanannya. Pria itu telah mengenakan setelan jas three-piece berwarna abu-abu gelap buatan penjahit ternama Italia—tampil tanpa cela, mematikan, sekaligus luar biasa tampan.
Titah menghentikan langkahnya sejenak. Mata coklatnya yang tenang dari balik cadar menatap lurus ke arah pria arogan di ujung meja. Tak ada raut terkejut. Tak ada getar ketakutan sedikit pun.
"Selamat pagi, Titah," ucap Afgan dengan nada sedingin es.
"Selamat pagi juga untuk Anda, Tuan Afgan," balas Titah datar namun tetap berkebangsawanan, sepenuhnya mengabaikan ancaman tersirat pria itu.
"Saya tidak pernah berpikir untuk menaklukkan neraka. Saya hanya berusaha memastikan putra Anda tidak terbakar di dalamnya."
Rahang Afgan mengeras seketika. Gelas kopi yang baru hendak diangkatnya kembali diletakkan dengan bantingan pelan di atas meja.
Sialan, umpatnya dalam hati. Wanita ini selalu punya jawaban tajam untuk setiap serangannya.
Dan yang paling membuatnya gila adalah nada suara Titah—begitu tenang, begitu anggun, seolah Afgan hanyalah anak kecil yang sedang merajuk, bukan bos mafia yang ditakuti di seluruh daratan Eropa dan Asia.
Titah melangkah mendekat. Alih-alih duduk di kursi sebelah kanan Afgan—tempat yang secara tradisi dikhususkan bagi nyonya rumah—wanita bergamis marun gelap itu justru melintas di samping suaminya, lalu menarik kursi di bagian tengah, tepat di sebelah kursi kecil milik Arga.
"Apa yang kau lakukan?" tegur Afgan tajam, matanya menyipit berbahaya. "Tempatmu ada di sebelahku."
"Saya rasa kesepakatan kita semalam sangat jelas: Anda membenci kehadiran saya, dan saya menghargai ruang pribadi Anda," jawab Titah seraya duduk dengan punggung tegak sempurna. "Lagipula, Arga membutuhkan saya lebih dari Anda."
Tepat saat nama itu disebut, pintu ruang makan terbuka. Arga melangkah masuk, didampingi dua pelayan yang berjalan menunduk di belakangnya. Bocah itu masih tampak murung, namun saat mata hitam kelamnya menangkap sosok berbaju tertutup di meja, wajahnya seketika berubah cerah.
"Tetah!" seru Arga.
Panggilan "Tante Titah" yang terlalu sulit diucapkan lidah kecilnya berubah menjadi sapaan sayang yang mendadak membuat suasana ruangan menjadi asing.
Arga setengah berlari, mengabaikan panggilan ayahnya, lalu langsung memanjat kursi di sebelah Titah. Tanpa ragu—anak yang biasanya akan berteriak histeris jika disentuh siapa pun—ia kini menyandarkan kepalanya lembut di lengan Titah.
Titah tersenyum di balik cadarnya. Matanya menyipit membentuk lengkungan bulan sabit yang menenangkan, sementara tangannya terulur mengusap puncak kepala Arga dengan penuh kasih sayang.
"Selamat pagi, Jagoan. Tidurnya nyenyak?"
Arga mengangguk pelan.
"Nyenyak. Tetah semalam wanginya enak, Arga suka."
Di ujung meja, Afgan membeku. Tangannya yang mencengkeram gagang garpu perak hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol jelas. Ia menatap pemandangan di hadapannya dengan perasaan campur aduk—sebuah rasa cemburu yang tak masuk akal menyusup perlahan ke dadanya. Putranya, darah dagingnya sendiri yang selalu menatapnya dengan ketakutan atau kemarahan, kini bersikap begitu manja pada wanita asing yang wajahnya pun belum pernah ia lihat?
"Arga, duduk yang benar. Ini meja makan, bukan tempat tidur," tegur Afgan dengan suara bariton yang tegas dan kaku.
Arga seketika tersentak. Ia buru-buru menegakkan tubuhnya, menunduk dalam, dan bayang ketakutan kembali menutupi wajahnya. Titah melirik Afgan sekilas—tatapan tajam yang tak terbantahkan, seolah berkata: Haruskah Anda selalu merusak suasana seperti ini?
"Tidak apa-apa, Arga. Ayo kita sarapan. Arga mau makan apa? Tante ambilkan," tawar Titah lembut, sengaja mengalihkan perhatian bocah itu dari bayang-bayang ayahnya.
Pelayan mulai menyajikan hidangan mewah. Namun saat sepiring brokoli rebus diletakkan di depan Arga, bocah itu langsung menutup mulutnya rapat-rapat.
"Buang! Arga nggak mau sayur hijau! Pahit!" tolaknya keras kepala.
Afgan menghela napas kasar, bersiap melontarkan bentakan yang biasanya berakhir dengan tangisan Arga. Namun sebelum mulutnya terbuka, Titah sudah lebih dulu bertindak.
"Oh? Arga tidak mau?" Titah berpura-pura terkejut, lalu mendekatkan piring itu ke arahnya. "Padahal Tante baru mau bercerita soal rahasia pohon ajaib ini."
Arga yang sudah bersiap menangis tiba-tiba terhenti. Matanya mengintip dari sela-sela jari.
"Pohon ajaib?"
"Iya." Titah memotong sepotong kecil brokoli. "Ini bukan sayur. Ini miniatur pohon dari hutan raksasa. Kalau Arga memakannya, kekuatan raksasa di dalamnya akan pindah ke tubuh Arga. Itulah sebabnya orang dewasa badannya besar dan kuat—karena mereka rajin makan pohon ajaib."
Afgan mendengus sinis dari ujung meja. Omong kosong apa ini? batinnya meremehkan. Arga bukan anak bodoh yang bisa ditipu dongeng murahan begitu.
Namun apa yang terjadi selanjutnya membuat rahang Afgan nyaris jatuh ke meja.
Arga menatap brokoli itu dengan mata berbinar penuh penasaran.
"Kalau Arga makan, Arga bisa sekuat Papa? Bisa mengalahkan monster?"
"Bahkan jauh lebih kuat dari Papa," jawab Titah meyakinkan, sempat melirik sekilas ke arah Afgan dengan kilatan mata yang jahil namun tenang.
Arga ragu sejenak, lalu perlahan membuka mulutnya. Titah menyuapkan potongan itu. Arga mengunyahnya dengan wajah sedikit meringis, namun ia tetap menelannya.
"Wah! Tante lihat deh, otot kekuatan Arga mulai tumbuh!" seru Titah antusias. Arga pun tertawa kecil—suara tawa jernih yang pertama kali terdengar di rumah itu setelah sekian lama.
Afgan terpaku diam. Ia sang penguasa dunia bawah yang bisa menundukkan ratusan pasukan bersenjata hanya dengan satu kalimat ancaman, ternyata dikalahkan begitu saja oleh seorang wanita bercadar dan dongeng tentang pohon ajaib.
"Pintar sekali kau bersandiwara menjadi ibu peri pagi ini, Nona," cibir Afgan saat Arga sibuk meminum susunya. Sarkasme tajam menyelimuti suaranya, berusaha menutupi harga dirinya yang terkoyak.
Titah meletakkan garpunya dengan anggun. Ia menatap lurus ke arah Afgan.
"Saya tidak bersandiwara, Tuan Afgan. Saya hanya menggunakan hati saat menghadapi anak kecil—sesuatu yang tampaknya sudah lama mati di ruangan ini, karena terlalu sering dipakai hanya untuk menghitung keuntungan dan menindas musuh."
BRAK!
Afgan menggebrak meja dengan telapak tangannya, membuat pelayan-pelayan menjerit tertahan dan menunduk gemetar. Arga tersentak kaget, namun Titah dengan sigap menutup telinga bocah itu dengan kedua tangannya—sambil tetap menatap Afgan tanpa sedikit pun gentar.
"Jaga batas mulutmu, Titah," desis Afgan, matanya memancarkan aura membunuh. "Jangan kira karena kau bisa menyuapi anakku, kau bisa mengajari aku cara hidup."
"Saya tidak mengajari Anda apa pun. Saya hanya menjawab tuduhan Anda," balas Titah dengan ketenangan yang luar biasa. "Jika Anda tak suka mendengar jawaban yang jujur, berhentilah melontarkan hinaan yang tak berdasar."
Afgan bangkit berdiri dengan kasar, dadanya naik turun menahan amarah yang mendidih. Wanita ini benar-benar gila! Bagaimana mungkin dia tak sedikit pun takut padanya?
Tanpa menambahkan sepatah kata pun, Afgan berbalik dan melangkah pergi meninggalkan ruang makan, aura gelapnya masih menyelimuti ruangan. Ia harus segera ke ruang kerjanya—sebelum ia benar-benar kehilangan kendali dan mencekik wanita itu. Atau lebih buruk lagi, menciumnya dengan kasar hanya untuk membungkam mulut tajamnya itu.
Sial! kutuknya dalam hati sendiri.
****
Di ruang kerja lantai empat, suasana tak kalah mencekam. Ruangan kedap suara itu diselimuti asap cerutu mahal yang perlahan menyebar. Afgan duduk di kursi kebesarannya, menatap layar tablet yang menampilkan grafik saham yang anjlok drastis seketika.
Di hadapannya berdiri Dika Pratama, tangan kanan sekaligus Consigliere yang paling dipercaya. Pria berwajah dingin dengan bekas luka sayatan di pelipis itu melaporkan situasi dengan nada profesional tanpa celah.
"Keluarga Simon mencoba bermain kotor di jalur pengiriman kita pelabuhan selatan, Tuan. Mereka menyuap inspektur bea cukai untuk menahan seluruh kargo kita," lapor Dika.
Afgan menghisap cerutunya dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya perlahan. Matanya menatap tajam bagai elang pemburu yang siap menerkam. Tak ada ampun bagi siapa pun yang berani mengusik kekuasaannya. Ia tak membunuh—karena kematian terlalu ringan bagi pengkhianat. Ia menghancurkan hidup mereka sampai tak bersisa.
"Beli seluruh utang perusahaan Simon di bank sentral pagi ini juga. Tarik semua investasi yang mengalir ke sana. Hubungi senator yang kita biayai kampanyenya, perintahkan dia membekukan aset inspektur sialan itu. Aku ingin sebelum matahari terbenam, Simon datang merangkul kakiku dan mengemis agar tidak berakhir menjadi gelandangan."
"Baik, Tuan." Dika mencatat perintah itu di tabletnya. Ia ragu sejenak sebelum kembali bersuara. "Ada satu hal lagi, Tuan Afgan. Ini... menyangkut urusan pribadi Anda."
Mata Afgan menyipit tajam. "Katakan."
"Mata-mata kita di Tiongkok melaporkan: Nyonya Larasati terlihat berada di sana."
Seketika suhu ruangan terasa anjlok hingga titik beku. Rahang Afgan mengeras, otot-otot di lehernya menonjol menahan amarah yang meledak. Larasati. Wanita ular yang membuang Arga dan berselingkuh dengan pewaris saingan bisnisnya demi kekuasaan yang lebih besar.
"Lalu?" suara Afgan terdengar sangat rendah, dipenuhi bahaya yang nyata.
"Pasangannya kini bangkrut, empat bulan yang lalu. Larasati terlilit hutang besar di seluruh Asia. Dan kini dia mencari informasi tentang Anda. Sepertinya dia sudah mendengar kabar pernikahan baru Anda dari jaringan bawah tanah. Dia berniat pulang, Tuan. Dia berpikir jika Anda sudah menikah lagi, berarti Anda sudah melupakannya—dan dia berharap bisa memanipulasi Anda dengan alasan hak asuh Arga."
Krak!
Gelas kaca di tangan Afgan hancur berkeping-keping akibat cengkeramannya yang terlalu kuat. Darah segar menetes dari telapak tangannya, namun pria itu tak berkedip sedikit pun. Matanya memancarkan dendam yang membara hebat.
Pengkhianatan Larasati adalah luka paling busuk yang pernah ia terima. Ia memberikan segalanya pada wanita itu, namun dibalas dengan pengkhianatan paling hina saat ia sedang di titik terendah.
"Pastikan wanita itu takkan pernah bisa melewati perbatasan negara ini," desis Afgan, suaranya sarat kekejaman yang mutlak. "Blokir semua akses paspornya. Jika dia berani menginjakkan satu kaki saja di kotaku, aku sendiri yang akan memastikan dia membusuk di penjara bawah tanah dengan tuduhan penggelapan dana. Mengerti?"
"Mengerti, Tuan."
"Dan Dika," Afgan menatap tajam asistennya. "Lipat gandakan penjagaan di mansion ini. Terutama di sayap kiri. Jangan biarkan siapa pun yang mencurigakan mendekati Arga... dan wanita itu."
Dika mengangguk paham. Ia tahu persis siapa sosok yang dimaksud Tuannya. Istri baru yang rumor ketangguhannya bahkan kini sudah menyebar di kalangan pelayan mansion.
Menjelang siang, suasana rumah terasa hening. Arga sedang tidur siang setelah kelelahan bermain. Titah memutuskan menjelajahi rumah raksasa itu, mencari perpustakaan untuk mengambil buku cerita baru bagi bocah itu.
Langkahnya yang nyaris tanpa suara membawanya ke sebuah ruangan luas di ujung lorong lantai dua. Pintu kayu ek berukir itu tertutup rapat. Titah mendorongnya perlahan, dan matanya berbinar di balik cadar melihat ribuan buku tersusun rapi di rak raksasa yang menjulang hingga ke langit-langit. Ini bukan sekadar perpustakaan—ini surga bagi pencari ilmu.
Ia melangkah masuk, aroma kertas tua dan kayu mahoni yang menenangkan menyambut penciumannya. Tangannya menelusuri punggung buku di bagian sastra dan sejarah, terlalu fokus hingga tak menyadari pintu perpustakaan tertutup rapat di belakangnya.
"Aku tak ingat pernah memberimu izin menjelajahi wilayah pribadiku."
Titah terkesiap pelan. Ia berbalik dan menemukan Afgan berdiri hanya dua langkah di belakangnya. Pria itu sudah melepas jas dan dasi; tiga kancing teratas kemejanya terbuka, memperlihatkan garis d**a bidangnya, sementara lengan kemeja digulung hingga siku. Tatapannya begitu gelap, liar, dan memancarkan bahaya yang sekaligus memabukkan.
"Maafkan saya. Saya hanya mencari buku cerita untuk Arga. Saya tak tahu ini area terlarang," ucap Titah tenang, mencoba melangkah menyamping untuk menjauh.
Namun dengan gerakan kilat, Afgan memajukan tubuhnya, mengurungnya di tempat. Kedua lengannya yang kokoh bertumpu pada rak buku di sisi kiri dan kanan bahu Titah. Wanita itu kini terjebak di antara tumpukan buku dan d**a bidang suaminya.
Jarak mereka terlalu dekat. Terlalu intim. Titah bisa merasakan panas tubuh pria itu menembus kain gamisnya. Aroma maskulin campuran cologne, tembakau, dan mint merasuk indra penciumannya, membuat napasnya sempat tertahan sejenak.
"Kau tahu hukuman bagi siapa pun yang melanggar wilayah seorang mafia, Titah?" bisik Afgan. Ia menunduk, wajahnya begitu dekat hingga udara yang dihembuskannya menyapu kain cadar di pipi Titah.
Titah menengadah, memaksakan diri menatap mata elang itu tanpa berkedip—meski jantungnya mulai berdetak dengan ritme yang tak biasa.
"Saya bukan bawahan yang bisa Anda hukum sesuka hati, Tuan," desisnya tegas. "Minggir. Anda yang sedang melanggar ruang pribadi saya."
"Aku suamimu," balas Afgan dengan seringai tipis yang tampan sekaligus mematikan. Ia sengaja mencondongkan tubuh lebih dekat, hingga hidung mancungnya nyaris menyentuh kain cadar itu. "Apa kau lupa? Di mata hukum dan agamamu yang begitu kau junjung tinggi, setiap inci tubuhmu adalah milikku."
"Hanya di atas kertas. Dan Andalah yang menetapkan aturan itu semalam sendiri," balas Titah tak kalah tajam, suaranya sedikit tertahan karena ia berusaha keras tak terhanyut oleh pesona pria itu. "Jangan menelan ludahmu sendiri, Tuan Mafia terhormat."
Afgan terkekeh rendah. Suara tawa itu menggetarkan dadanya, dan karena jarak tubuh mereka yang begitu dekat, getaran itu terasa nyata oleh Titah. Pria ini benar-benar gila—sedang bermain-main dengan kewarasan mereka berdua.
Mata hitam Afgan menelusuri siluet wajah yang tertutup itu, lalu fokus terpaku pada sepasang mata coklat yang jernih, berani, dan menyimpan keteguhan yang perlahan membuatnya kecanduan. Sepanjang hidupnya, semua wanita akan menyerah begitu saja di hadapannya. Namun wanita ini, di balik lapisan kain hitamnya, justru menolaknya mentah-mentah—dan hal itu membangkitkan sepenuhnya insting predator yang selama ini terpendam.
Perlahan, tangan kanan Afgan terangkat. Ujung jari telunjuknya yang kasar dan hangat menyentuh pelan ujung kain cadar tepat di pelipis Titah.
Napas Titah tercekat seketika.
"Mata ini..." bisik Afgan parau, ibu jarinya tanpa sadar mengusap pelan kulit di sekitar sudut mata Titah—satu-satunya bagian wajah yang terlihat.
"... Terlalu indah untuk disembunyikan dalam kegelapan. Dan terlalu tajam untuk sekadar menjadi istri yang menurut."
PLAK!
Titah menepis tangan besar itu dengan keras. Tangannya gemetar hebat, namun ia mengerahkan seluruh sisa tenaga untuk mendorong d**a bidang pria itu. Afgan mundur selangkah karena terkejut, memberinya celah ruang untuk menjauh.
"Jangan pernah melewati batas, Afgan," tekan Titah tajam. Kali ini ia tak lagi menyapa dengan sebutan 'Tuan'. Matanya menatap lurus, memancarkan kemarahan yang tak bisa dibendung.
"Saya bukan w************n yang bisa Anda rayu hanya untuk memuaskan ego laki-laki Anda. Jika Anda frustrasi karena luka masa lalu bersama wanita pengkhianat itu, jangan lampiaskan sembarangan pada saya. Saya bukan dia."
Kata-kata itu ibarat peluru yang menembus tepat ke sasaran. Suasana perpustakaan seketika berubah menjadi medan perang yang sunyi mematikan. Rahang Afgan mengeras hingga otot di sampingnya menonjol kaku, aura gelapnya meluap begitu mengerikan hingga udara di ruangan itu terasa berat.
"Darimana kau tahu soal dia?" desisnya rendah, penuh ancaman.
"Saya mengetahui apa yang perlu diketahui sebelum berani melangkah masuk ke sangkar singa," jawab Titah lugas tanpa ragu. Ia merapikan kembali kain gamisnya yang sedikit kusut. "Selesaikan dulu urusan Anda dengan hantu masa lalu Anda, Tuan. Sebelum Anda mencoba bermain api dengan saya."
Tanpa menunggu balasan pria yang kini mematung menahan amarah yang meledak, Titah berbalik dan melangkah keluar dengan kepala tegak. Meninggalkan Afgan yang perlahan menyeringai sinis di tengah keheningan yang mencekam.
"Kau benar-benar menantang maut, Titah," gumamnya pelan, matanya tak beralih menatap pintu tempat sosok istrinya menghilang. "Kita lihat saja nanti... siapa yang akan lebih dulu hangus terbakar oleh api ini."
****
Malam harinya, awan mendung tebal menggantung di langit kota. Kilat menyambar di kejauhan, diiringi gemuruh guntur yang perlahan mendekat.
Titah sedang berada di dapur bersih lantai satu, menyiapkan s**u hangat untuk Arga, ketika tawa wanita yang melengking tajam terdengar dari arah ruang tamu utama. Keningnya berkerut samar. Afgan sangat jarang menerima tamu di rumah ini—apalagi seorang wanita.
Dengan nampan di tangan, Titah berjalan melewati ruang tamu menuju tangga. Namun langkahnya terhenti saat sebuah suara memanggilnya dengan nada meremehkan.
"Ah, Afgan sayang. Apa ini pelayan baru yang kau ceritakan? Seragamnya... sungguh suram sekali."
Titah menoleh. Di sofa ruang tamu, duduk seorang wanita berambut pirang dengan gaun merah ketat yang memamerkan kulit tubuh secara berlebihan. Wanita itu duduk sangat dekat dengan Afgan, tangannya tanpa sungkan melingkar di lengan sekaligus menyentuh paha pria itu. Evelyn. Putri salah satu keluarga mafia Cosa Nostra yang sedang menjalin kerja sama bisnis dengan Afgan.
Afgan duduk bersandar santai, memutar segelas minuman di tangannya. Ia menatap Titah dengan tatapan menantang, sengaja tak membetulkan ucapan Evelyn. Ia ingin menguji istrinya: apakah wanita sedingin es ini mampu merasakan cemburu?
Titah berdiri tenang di tempatnya. Matanya menyapu sosok Evelyn dari atas ke bawah dengan penilaian yang elegan namun tajam, lalu beralih menatap Afgan yang sedang menunggu reaksinya.
Tak ada kemarahan meledak-ledak. Tak ada adegan membuang nampan seperti di sinetron murahan.
Titah melangkah anggun mendekati meja ruang tamu. Ia meletakkan nampan berisi s**u Arga dengan hati-hati, menuangkan teh hangat ke cangkir kosong, lalu menyajikannya tepat di depan Evelyn.
"Silakan diminum, Nona," ucap Titah sehalus sutra. "Pakaian saya memang terlihat suram dan tradisional. Dirancang khusus untuk menutupi sekaligus melindungi sesuatu yang sangat berharga."
Ia menjeda sejenak, menatap lurus ke mata Evelyn yang mulai bingung, lalu melirik sekilas dengan tatapan kasihan yang sangat menusuk.
"Sesuatu yang tampaknya tidak Anda miliki, terlihat dari bagaimana Anda membiarkan tubuh Anda menjadi tontonan umum secara cuma-cuma, serta mengemis perhatian pada suami orang lain."
Keheningan menyelimuti ruangan, begitu pekat hingga terasa menyakitkan.
Wajah Evelyn memerah padam seperti kepiting rebus. Mulutnya ternganga tak percaya, terpojok oleh hinaan berkelas yang tak bisa ia bantah sedikit pun.
"K-Kau! Berani sekali kau bicara padaku seperti itu! Afgan, kau diam saja melihat pelayanmu menghinaku?!" teriak Evelyn bangkit berdiri gemetar.
Afgan yang sejak tadi menahan napas, tiba-tiba meledak dalam tawa rendah yang menggema ke seluruh penjuru ruangan—tawa yang sangat jarang, nyaris tak pernah terdengar oleh siapa pun. Ia menatap istrinya dengan kekaguman yang tak bisa disembunyikan, bercampur gairah yang semakin memuncak tajam.
"Dia bukan pelayanku, Evelyn," ucap Afgan dingin seketika, tawanya lenyap digantikan aura yang mengancam nyawa. Ia menyingkirkan tangan wanita itu dengan kasar.
"Dia istri sahku. Nyonya di mansion ini. Dan jika dia menyebutmu murahan, maka kau memang murahan. Kesepakatan bisnis kita batal seketika ini juga. Keluar dari rumahku, sekarang!"
Wajah Evelyn seketika memucat pasi. Menyinggung emosi Afgan sama saja dengan menggali kuburan sendiri. Tanpa banyak bicara lagi, ia meraih tas mahalnya dan berlari keluar rumah dengan langkah gemetar.
Kini hanya tersisa mereka berdua.
Titah mengambil kembali nampannya tanpa ekspresi berubah, seolah ia baru saja mengusir lalat pengganggu, bukan putri salah satu keluarga mafia terkuat. Saat ia berbalik hendak menaiki tangga, tiba-tiba sepasang lengan kekar merangkul pinggangnya dari belakang, menarik punggungnya hingga menabrak d**a bidang Afgan yang keras.
"Ah!" Titah terkesiap kaget, nampannya nyaris terlepas dari tangan.
Afgan menguncinya erat, wajahnya tenggelam di ceruk leher Titah yang tertutup kain, menghirup aroma melati dan vanila yang sejak siang tadi terus meracuni pikirannya.
"Kau cemburu, Titah?" bisiknya parau tepat di telinga wanita itu. Suaranya berat, penuh d******i yang menekan sekaligus memabukkan.
Tubuh Titah menegang kaku. Ia mencoba meronta melepaskan cengkeraman itu, namun Afgan bagai batu karang yang tak tergoyahkan.
"Lepaskan saya, Afgan. Saya tidak cemburu," jawabnya, meski suaranya sedikit bergetar menahan debaran jantung yang meledak-ledak. "Saya hanya menyingkirkan lalat yang mengotori pemandangan di rumah saya sendiri."
Afgan memutar tubuhnya secara perlahan hingga mereka berhadapan, lalu menyudutkannya ke dinding dekat tangga. Tatapannya begitu gelap, penuh obsesi yang tak lagi bisa ia kendalikan.
"Lalat, ya?" desisnya lembut, ibu jarinya menekan pelan rahang Titah dari balik cadar. Matanya menatap tajam ke dalam manik coklat yang menantang itu. "Lalu bagaimana denganku, Titah? Apakah aku juga mengotori pandanganmu? Apakah kau juga ingin menyingkirkanku dari hidupmu?"
Titah mendongak, tangannya menekan d**a Afgan untuk memberi jarak, namun matanya tak beralih sedetik pun.
"Anda bukan lalat, Tuan Afgan," jawabnya dingin, membelah ketegangan di antara mereka bagai bilah pedang tak kasat mata. "Anda adalah laba-laba, yang sibuk merajut jaring untuk menjebak mangsanya—tanpa sadar bahwa Anda sendirilah yang sudah terjerat mati di dalamnya."