"Kau mengaku sebagai pelindung kewarasan putraku, Titah. Namun kau lupa satu hukum alam yang mutlak di duniaku: sang pelindung pada akhirnya akan terjebak di ranjang sang penguasa, memohon ampun dari gairah yang ia ciptakan sendiri."
Sinar matahari pagi yang menembus jendela kaca patri raksasa di dapur mansion itu gagal menghangatkan ruangan. Suhu udara justru terasa mendadak anjlok, tebal dan mencekam.
Titah yang sedang memotong stroberi untuk sarapan Arga seketika menghentikan gerakan pisaunya. Napasnya tertahan sejenak. Di belakangnya berdiri Afgan—pria yang baru semalam ia tantang dengan sumpah perlindungan. Tuan Mafia itu berdiri terlalu dekat, jarak mereka tak lebih dari satu jengkal.
Afgan mengenakan kemeja sutra hitam dengan tiga kancing teratas terbuka, mengekspos tato kalajengking kecil di pangkal lehernya yang memancarkan aura bahaya memikat. Ia menyandarkan satu lengannya di meja konter, tepat di samping talenan Titah, mengurung wanita itu dari sisi kiri.
"Anda punya kebiasaan buruk mengendap-endap seperti pencuri di rumah sendiri, Tuan Afgansyah Reza," ucap Titah datar, berusaha keras mengabaikan aroma mint dan feromon maskulin yang langsung menyeruak masuk ke indranya.
"Dan kau punya kebiasaan buruk memunggungi suamimu saat dia sedang berbicara," bisik Afgan serak. Suara baritonnya bergetar rendah tepat di telinga Titah, sengaja memancing reaksi. Ia mencondongkan tubuh, hingga d**a bidangnya nyaris menyentuh punggung wanita itu.
"Atau... kau sengaja memunggungiku karena takut wajahmu di balik kain itu bersemu merah saat melihatku?"
Jari-jari Titah yang memegang pisau sedikit mengetat. Pria ini sungguh luar biasa arogan sekaligus berbahaya. Namun ia tak akan membiarkan pertahanannya runtuh semudah itu. Perlahan ia meletakkan pisau, lalu memutar tubuhnya di dalam kukungan lengan kekar Afgan hingga kini mereka berdiri berhadapan.
Titah mendongak, menatap lurus ke manik hitam legam yang menyeringai penuh kemenangan.
"Wajah saya takkan bersemu hanya karena rayuan murahan yang biasa Anda gunakan pada wanita di kelab malam, Afgan," balasnya sehalus beludru namun setajam silet. "Saya memunggungi Anda karena sedang menyiapkan makanan untuk Arga. Jika Anda merasa kurang diperhatikan, silakan panggil pelayan untuk memuji ketampanan Anda pagi ini. Saya sedang sibuk."
Seringai di bibir Afgan perlahan memudar, digantikan kilatan ketertarikan yang semakin gila. Ia benci ditolak, namun entah mengapa penolakan wanita bercadar ini justru bekerja seperti candu yang mengalir di pembuluh darahnya. Ia ingin menghancurkan ketenangan itu; ingin melihat mata coklat itu kehilangan kendali.
"Kau benar-benar menguji batas kesabaranku, Istriku," desisnya. Tangan kanannya perlahan terangkat, jari telunjuk dan ibu jarinya menyentuh ujung khimar di d**a Titah, lalu menggulungnya pelan dengan gerakan provokatif.
"Kau bersikap sedingin es, tapi napasmu di balik cadar itu bercerita lain. Kau gugup, Titah. Jantungmu berdetak jauh lebih cepat. Aku bisa merasakannya."
Titah menelan ludah dengan susah payah. Afgan benar—jantungnya berpacu liar. Ia belum pernah sedekat ini dengan pria mana pun, apalagi pria yang memancarkan daya tarik setan seperti Afgan. Namun ia tetap menjaga sorot matanya agar tak goyah.
"Itu hanya respons alami saat dihadapkan pada predator yang menyerang ruang pribadi orang lain," jawabnya telak, lalu menepis tangan Afgan pelan namun tegas.
"Mundur, Afgan. Anda menghalangi jalan saya ke kulkas."
Afgan terkekeh rendah, suara itu bergetar hingga membuat perut Titah terasa aneh. Bukannya mundur, ia justru melangkah maju, memangkas habis jarak di antara mereka hingga kain gamis Titah bersentuhan dengan celana pria itu.
"Kulkas bisa menunggu," bisiknya, tatapannya turun ke bibir yang tertutup rapat cadar. "Aku ingin tahu: apa yang akan dilakukan sang pelindung pemberani ini jika predatornya memutuskan tak sekadar menyerang ruang pribadi, tapi juga menyentuh apa yang menjadi haknya?"
Tanpa jeda, tangan Afgan bergerak cepat melingkar di pinggang rampingnya, lalu menarik tubuh Titah menabrak dadanya yang keras. Titah tersentak hebat, kedua tangannya refleks menahan d**a Afgan berusaha mendorongnya menjauh.
"Afgan! Lepaskan!" desisnya marah, mata melebar panik. "Jangan kurang ajar!"
"Kurang ajar? Di mata hukum dan agama, ini adalah kewajibanmu, Titah," goda Afgan, menikmati rona kemarahan yang membara di mata istrinya. Ia menundukkan wajah, sengaja menggesekkan hidungnya ke pipi Titah yang tertutup niqab tipis.
Napas Titah tercekat. Ia bisa merasakan kehangatan bibir pria itu dari balik kain yang memisahkan mereka. Jarak mereka kini hanya tersisa milimeter. Titah memejam mata, memalingkan wajah sekuat tenaga hingga rahangnya terasa kaku.
"Jika Anda memaksa mencium saya saat ini juga," ancamnya dengan suara bergetar namun bulat tekad, "saya bersumpah akan membawa Arga pergi dari rumah ini, dan Anda takkan pernah menemukan kami berdua lagi."
Gerakan Afgan seketika terhenti. Ancaman itu bukan main-main. Ia menatap mata Titah yang terbuka kembali, mencari jejak kebohongan di sana—namun hanya menemukan keteguhan baja. Sialan. Wanita ini tahu persis kelemahan paling fatalnya: Arga adalah satu-satunya hal yang menjaga kewarasannya, dan Titah menggunakannya sebagai senjata pamungkas.
Dengan rahang mengeras, Afgan melepaskan pelukannya kasar. Ia mundur selangkah, mengusap rambutnya dengan frustrasi yang meluap.
"Kau bermain kotor, Titah," geramnya, napas memburu menahan gairah yang tak tersalurkan.
"Saya hanya bermain dengan aturan yang Anda buat sendiri," balas Titah, lalu merapikan pakaiannya dengan tangan yang sedikit gemetar, berusaha menyembunyikan fakta bahwa lututnya mendadak lemas. "Jangan coba menaklukkan saya dengan nafsu, Afgan. Itu takkan pernah berhasil."
Sebelum Afgan sempat membalas, pintu dapur terbuka tergesa-gesa. Dika masuk dengan wajah tegang, lalu segera menunduk hormat saat menyadari atmosfer di ruangan itu.
"Maaf mengganggu, Tuan, Nyonya," ucapnya cepat. "Ada masalah."
Aura Afgan berubah seketika—gairah dan frustrasi lenyap, digantikan insting membunuh seorang bos mafia. "Katakan."
"Ada paket lolos dari pos pemeriksaan luar. Tanpa nama pengirim, hanya tertuju pada Tuan Muda Arga. Anjing pelacak tak menemukan bahan peledak atau racun kimia, tapi... saya curiga ini dari wanita itu."
Mata Afgan seketika menggelap pekat.
"Bawa ke ruang kerjaku. Jangan sampai Arga melihatnya."
"Tunggu," potong Titah cepat, melangkah maju. "Bawa paket itu ke sini, Dika."
Afgan menoleh tajam. "Jangan ikut campur, Titah. Ini urusanku."
"Paket itu untuk Arga—anak yang sedang saya lindungi. Tentu saja ini urusan saya," bantah Titah tak gentar. "Jika Larasati bermain psikologis, kita harus tahu apa senjatanya, agar kita bisa menyiapkan penawaran bagi Arga."
Afgan terdiam. Logika wanita itu tak terbantahkan. Akhirnya ia mengangguk samar pada Dika.
Dika meletakkan sebuah kotak merah berbalut pita perak di atas meja tengah dapur. Kemasannya tampak mewah dan tak berbahaya sama sekali. Titah mengambil sarung tangan lateks dari laci, memakainya, lalu membuka kotak itu perlahan, sementara Afgan berdiri di sampingnya dengan kewaspadaan penuh.
Di dalamnya tergeletak sebuah boneka beruang berbulu coklat yang tampak lusuh—sangat kontras dengan kotak luarnya yang mewah. Di pangkuan boneka itu terselip alat pemutar musik kecil dan sepucuk surat yang memancarkan aroma parfum mawar yang sangat menyengat.
Wajah Afgan seketika berubah pucat bercampur murka saat menghirup aroma itu. Itu wangi khas Larasati.
Titah mengambil surat itu dan membacanya dalam hati.
"Untuk Arga kesayangan Mama. Maaf Mama pergi sangat lama. Papa Afgan jahat, dia mengusir Mama dan melarang Mama menemuimu. Tapi jangan takut, Sayang. Mama sudah kembali. Mainkan lagu ini sebelum tidur agar kau ingat pelukan hangat Mama. Tunggu Mama menjemputmu. P.S: Jangan beritahu wanita asing di rumah itu, dia hanya ingin merebut Papa darimu."
Darah mendidih di pembuluh darah Titah. Ini bukan sekadar surat—ini adalah racun psikologis tingkat tinggi. Wanita yang dulu berselingkuh dan menelantarkan anaknya kini berani memutarbalikkan fakta, memosisikan diri sebagai korban, sambil menanamkan kebencian pada Arga terhadap ayahnya dan dirinya sendiri.
Titah menekan tombol pemutar musik itu. Terdengar alunan lagu pengantar tidur yang biasa didengar Arga, namun di bagian akhir menyusul rekaman suara Larasati yang lirih namun penuh intrik: "Mama sangat mencintaimu, Arga. Papa Afgan yang memisahkan kita."
"Matikan benda sialan itu!" raung Afgan tiba-tiba.
Ia merebut boneka dan alat musik itu, lalu membantingnya sekuat tenaga ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Napasnya memburu, dadanya naik turun tak beraturan. Matanya menyala, diliputi amarah sekaligus trauma lama yang berusaha ia kubur rapat-rapat.
"Wanita itu..." geramnya, suaranya sarat niat menghancurkan.
"Dika! Kerahkan pasukanmu! Sisir setiap hotel, apartemen, dan tempat persembunyian di kota ini! Temukan Larasati dan seret dia ke hadapanku sekarang juga! Aku akan menghancurkan wajah manis dan kata-kata busuknya itu agar dia tak bisa lagi menipu siapa pun!"
"Baik, Tuan!" Dika baru saja hendak berbalik pergi, saat suara tenang Titah menghentikan langkahnya.
"Berhenti di sana, Dika."
Perintah itu begitu lembut namun berwibawa, membuat Dika terpaku di tempat. Ia menoleh ragu pada bosnya, lalu pada Nyonya mudanya.
"Titah, jangan menguji batas kesabaranku saat aku sedang memuncak begini," desis Afgan, rahangnya mengetat hingga nyaris retak. "Ini duniaku. Wanita itu sudah menyatakan perang secara terang-terangan."
Titah berjalan mengelilingi meja, berdiri tepat di hadapan Afgan yang masih meledak-ledak.
Alih-alih mundur ketakutan seperti orang lain, ia justru mengangkat tangan dan meletakkan telapak tangannya yang hangat di d**a kiri Afgan, tepat di atas jantung yang berdetak liar.
"Dan Anda sedang berjalan tepat ke dalam perangkapnya dengan sangat ceroboh, Afgan," ucap Titah lembut, menatap lurus ke manik mata hitamnya.
"Larasati tak mengirimkan ini untuk Arga semata. Ia mengirimkan ini untuk memancing emosimu. Dia tahu betul sifatmu. Jika kau mengirim pasukan mengobrak-abrik kota, dia akan merekam semuanya, melaporkan pada pihak berwenang yang disuap atau media, lalu menjadikan kekerasanmu sebagai bukti di pengadilan bahwa kau ayah yang berbahaya bagi Arga."
Afgan tertegun. Amarah yang membutakan matanya seketika membeku mendengar analisis tajam itu.
"Larasati tak datang membawa senjata api, Afgan. Dia datang membawa pengacara dan intrik," lanjut Titah, tangannya tanpa sadar terus mengusap pelan d**a Afgan, menyalurkan ketenangan yang luar biasa bagi pria itu. "Jika kau menyerangnya dengan kekerasan, kau yang akan kehilangan hak asuh Arga secara sah. Itulah yang dia dan sekutunya rencanakan."
Keheningan menyelimuti ruangan, hanya terdengar detak jarum jam. Afgan menatap lekat-lekat mata coklat di hadapannya. Demi Tuhan, wanita ini memiliki kecerdasan yang jauh melampaui seluruh penasihat dan bawahannya digabungkan.
"Lalu... apa yang harus kulakukan?" suara Afgan merendah, tanpa sadar meminta arahan dari wanita yang baru beberapa hari dinikahinya. Pemandangan itu nyaris membuat Dika menjatuhkan rahangnya—sang Tuan Mafia yang tak pernah tunduk pada siapa pun, kini meredakan amarahnya hanya karena sentuhan tangan istrinya.
"Kita mainkan permainannya," jawab Titah mantap. Matanya memancarkan kilat cerdas namun berbahaya yang entah mengapa membuat Afgan merasa semakin tertarik. "Bakar surat dan sisa barang itu hingga habis tak bersisa. Jangan sampai Arga melihat sepotong pun. Lalu, pasang wajah paling tenang yang kau punya. Jika Larasati berniat menghancurkan mental keluarga ini, maka kita pamerkan kebahagiaan yang tak tergoyahkan di hadapannya. Biar dia mati konyol melihat posisinya telah tergantikan sepenuhnya."
Seringai tipis perlahan terukir di bibir Afgan. Ia menangkap tangan Titah yang masih berada di dadanya, menggenggamnya erat.
"Kau mengusulkan sandiwara keluarga bahagia, Titah?" godanya, nada suaranya kembali berat dan penuh makna. "Kau tahu ini berarti kita harus terlihat sangat mesra di depan orang banyak, bukan? Apakah prinsip dan batasanmu akan mengizinkan suamimu memeluk, bahkan menciummu, demi meyakinkan musuh kita?"
Titah segera menarik tangannya, membuang muka menyembunyikan kepanikan yang tiba-tiba. "Sandiwara tak butuh kontak fisik berlebihan. Cukup tunjukkan bahwa kau menghargai saya sebagai istri dan ibu bagi Arga."
"Tsk. Argumen yang lemah," Afgan kembali melangkah maju, memojokkan wanita itu sekali lagi. "Dunia tahu aku adalah monster. Jika aku tak terlihat gila karena mencintaimu, tak ada yang akan percaya sandiwara ini. Bersiaplah, Istriku. Mulai hari ini, aku takkan menerima penolakan lagi darimu."
"Tetah? Papa?"
Suara lirih anak kecil yang mengantuk tiba-tiba membelah ketegangan panas di antara mereka. Arga berdiri di ambang pintu, mengucek matanya sambil memeluk bantal kecil.
Afgan segera menjauh, berdeham canggung menutupi rasa salah tingkahnya. Titah menghela napas lega seolah baru lolos dari bahaya maut, lalu segera berjalan menghampiri bocah itu dan berjongkok menyamai tingginya.
"Selamat pagi, Jagoan. Kenapa bangun begitu cepat? Ini kan hari libur," sapanya lembut, seketika berubah menjadi sosok yang penuh kasih sayang.
"Arga mimpi buruk," cicit Arga, matanya berkaca-kaca. "Di mimpi ada monster mau bawa Arga pergi dari Papa dan Tetah."
Hati Titah mencelos. Firasat anak kecil memang tak pernah berdusta. Bayangan masa lalu mulai merayap masuk ke alam bawah sadar Arga. Tanpa ragu, Titah langsung merengkuh tubuh mungil itu erat ke dalam pelukannya.
"Itu cuma mimpi buruk, Sayang. Tetah dan Papa ada di sini. Tak ada satu pun monster yang berani membawa Arga pergi. Tetah janji," bisiknya sungguh-sungguh, lalu mengecup puncak kepala putra itu.
Afgan yang menyaksikan pemandangan itu merasakan dadanya seolah diremas perasaan yang sulit dijelaskan. Ia melangkah mendekat, lalu dengan canggung ikut berjongkok di samping Titah. Tangan besar dan kasar sang bos mafia terulur ragu, perlahan mengusap punggung putranya.
Arga tersentak pelan merasakan sentuhan ayahnya—namun kali ini ia tak menepis. Ia membiarkan tangan itu tetap di sana.
Titah menoleh, menatap Afgan dari balik bahu bocah itu. Untuk pertama kalinya, tak ada tantangan atau kemarahan di mata coklatnya. Yang terlihat hanyalah persetujuan bisu. Sebuah aliansi tak kasat mata terbentuk: antara wanita yang berhati teguh dan mafia yang kejam, kini bersatu melawan musuh yang sama.
Sore harinya, Titah memutuskan merapikan ruang bermain Arga, membuang segala benda yang berpotensi membangkitkan kenangan kelam tentang Larasati.
Saat ia berdiri di atas kursi kecil berusaha meraih kotak di rak paling atas, kursi itu tiba-tiba goyah. Titah kehilangan keseimbangan, tubuhnya terhuyung ke belakang. Ia memejam mata, bersiap menahan benturan keras lantai kayu.
Namun benturan itu tak pernah datang.
Sepasang lengan kekar sekuat baja menangkap tubuhnya di udara, mendekapnya erat ke d**a bidang yang keras. Titah terlonjak kaget, membuka mata dan langsung menatap d**a berkemeja hitam. Ia mendongak—wajah tampan Afgan hanya berjarak beberapa inci darinya.
Pria itu menangkapnya dengan sempurna, gaya mendekap pengantin.
"Selalu ceroboh, Titah. Bagaimana kau berniat melindungi Arga jika menjaga keseimbangan dirimu sendiri saja kau tak mampu?" suaranya merendah, memancarkan pesona berbahaya yang membuat darah Titah berdesir hebat.
Titah meronta pelan, wajahnya terasa memanas.
"Turunkan saya, Afgan. Saya bisa berdiri sendiri."
Alih-alih menuruti, Afgan justru mempererat dekapannya dan berjalan perlahan menuju sofa panjang di sudut ruangan.
"Kau terlalu ringan. Apa kau tak pernah makan dengan benar?" gumamnya, sama sekali mengabaikan protes istrinya.
Ia lalu mendudukkan Titah tepat di atas pangkuannya. Posisi yang begitu intim membuat mata Titah membelalak ngeri—ia duduk melintang di paha pria itu, sementara lengan Afgan melingkar erat di pinggang dan punggungnya, mengunci segala gerakannya.
"Afgan! Apa yang Anda lakukan? Lepaskan!" Titah memberontak, memukul d**a Afgan. Namun tenaganya tak berarti apa-apa bagi pria itu.
"Diamlah, atau aku akan mengikat kedua tanganmu," ancam Afgan disertai seringai miring yang sangat menyebalkan namun memikat. Ia menyandarkan punggung ke sandaran sofa, menatap mata istrinya yang kini bercampur panik dan marah.
"Kita perlu bicara strategi. Dan kurasa, ini posisi paling aman agar tak ada mata-mata yang mendengar."
"Ini bukan posisi berdiskusi, ini pelecehan!" desis Titah tajam, meski jantungnya berpacu tak wajar. Jarak wajah mereka begitu dekat hingga ia bisa menghitung bulu mata lentik suaminya.
"Pelecehan? Sekali lagi kuingatkan, Sayang... kau adalah istriku," bisik Afgan. Kata panggilan itu meluncur begitu alami, hingga membuat Titah serasa mabuk sejenak.
Jari Afgan terangkat, menyusuri lekuk rahang Titah yang tertutup cadar. Ibu jarinya berhenti di atas bibir wanita itu, menekan kain niqab perlahan.
"Kau keras kepala, dingin, dan tertutup rapat," gumamnya, sorot matanya menggelap penuh obsesi. "Tapi setiap kali kusentuh, kurasakan tubuhmu menegang. Kau meresponsku, Titah. Respons yang membuatku semakin gila. Mengapa tak kauakui saja—di balik kain pelindung ini, kau juga menginginkanku?"
Titah menahan napas. Tembok pertahanannya perlahan retak. Namun sebelum ia sempat menjawab, ponsel di saku jas Afgan berdering nyaring.
Itu nada dering khusus—panggilan darurat jalur bawah tanah.
Afgan mengumpat pelan. Ia terpaksa melonggarkan pelukan, memberi kesempatan Titah melompat turun dengan wajah yang pasti sudah semerah tomat.
Afgan mengangkat telepon dan menyalakan pengeras suara, sengaja membiarkan Titah mendengar semuanya.
Dari seberang terdengar tawa wanita yang melengking manja, namun sarat racun.
"Halo, Suamiku sayang... ah, maaf, mantan suamiku," sapa Larasati dengan nada penuh kelicikan. "Kudengar kau membakar hadiah selamat datangku untuk Arga? Betapa kejamnya dirimu, Afgansyah Reza."
Mata Afgan berkilat membunuh, tangannya mengepal erat hingga buku jarinya memutih. Ia menatap Titah yang kini berdiri tegak, kembali sedingin es, menyimak setiap kata musuh mereka.
"Kau boleh membelikan Arga ribuan mainan mahal, menyewa wanita bercadar kampungan itu jadi ibu palsunya," lanjut Larasati, tawanya berubah menjadi ancaman mendesis. "Tapi kau tahu persis darahku mengalir di tubuh putramu. Kau takkan pernah bisa menghapusku. Aku akan bawa ini ke publik, merebut Arga kembali, dan menghancurkan pernikahan konyolmu—sampai kau sendiri yang mengusir wanita miskin itu keluar rumah."
Klik. Sambungan terputus.
Keheningan yang mencekik langsung menyelimuti ruangan. Perang telah resmi dideklarasikan. Larasati takkan berhenti sebelum menghancurkan segalanya.
"Kau dengar itu, Titah?" bisik Afgan memecah sunyi. Suaranya tenang, namun itu adalah ketenangan sebelum badai paling mematikan. Ia berjalan perlahan mendekat, aura kegelapannya memuncak.
"Iblis dari masa laluku sudah menabuh genderang. Sekarang katakan padaku: apakah sang pelindung akan lari ketakutan? Atau kau akan berdiri di sampingku, untuk membumihanguskan wanita itu bersamaku?"