"Mas..."
Suara itu membuat percakapan Bagas dan Laras terhenti.
Keduanya menoleh bersamaan.
Ratna berdiri di ambang pintu dengan wajah tenang. Tidak ada kemarahan, tidak ada air mata. Justru ketenangan itulah yang membuat Bagas merasa aneh.
Melihat kedatangan Ratna, Laras buru-buru menghampirinya.
Perempuan itu tersenyum ramah sebelum memeluk Ratna seolah hubungan mereka baik-baik saja.
"Mbak, apa kabar? Tumben datang ke sini. Mbak sudah sembuh? Kelihatannya jauh lebih sehat."
Ratna hanya membalas dengan senyum tipis.
Tidak ada kehangatan.
Tidak ada pula kebencian yang biasanya terlihat.
Sikap itu justru membuat Laras merasa tidak nyaman.
"Kandunganmu sudah besar," ujar Ratna sambil melirik perut Laras. "Bagaimana kondisi bayinya?"
Laras refleks mengusap perutnya.
"Kata dokter sehat, Mbak. Perkembangannya juga bagus."
"Syukurlah."
"Mbak pasti nggak sabar ketemu dia, ya?"
Ratna mengangguk pelan.
"Hmm."
"Mbak pasti akan jadi ibu yang baik buat dia."
"Mana bisa?" Bagas tiba-tiba menyela. "Ratna sudah tidak muda lagi. Mengurus dirinya sendiri saja sulit, apalagi bayi."
Tatapan Ratna perlahan beralih kepada suaminya.
"Sepertinya kita perlu mengubah rencana, Laras," lanjut Bagas. "Aku rasa hanya kamu yang bisa mengurus anak itu. Aku tidak ingin kejadian Genta terulang lagi."
Wajah Ratna menegang sesaat ketika mendengar nama putranya disebut.
Namun hanya sesaat.
"Nggak masalah," potong Ratna cepat.
Bagas dan Laras sama-sama terkejut.
"Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan anak," lanjut Ratna pelan. "Karena itu aku tidak ingin siapa pun merasakan hal yang sama."
Suasana mendadak hening.
"Kamu dan Laras tidak perlu berpisah."
Bagas mengernyit.
"Jangan sampai anak kalian merasakan apa yang pernah dirasakan anakku. Berikan dia keluarga yang utuh."
Entah kenapa, mendengar kalimat itu justru membuat d**a Bagas terasa tidak nyaman.
"Kalau dari dulu kamu seperti ini, tentu aku tidak akan pernah marah," katanya. "Menjadi istri yang patuh tanpa banyak membantah."
Ratna tersenyum tipis.
Senyum yang sulit diartikan.
"Aku ke sini hanya ingin melihat perusahaan keluargaku."
Kalimat itu membuat senyum Laras sedikit memudar.
"Dan ternyata perusahaan itu baik-baik saja selama berada di tanganmu."
"Tentu saja," jawab Bagas penuh percaya diri.
Ratna mengangguk.
"Kalau begitu aku tidak akan mengganggu waktu kalian."
"Mbak, jangan pergi dulu," tahan Laras. "Bagaimana kalau kita makan siang bersama?"
Ratna menggeleng pelan.
"Tidak perlu."
Ia melangkah beberapa langkah tapi suara Bagas membuat langkahnya terhenti
"Oh ya."
Ratna menoleh.
"Lebih baik kamu ke rumah sakit."
Kening Ratna langsung berkerut.
"Untuk apa?"
"Anakmu pingsan."
Wajah Ratna berubah seolah baru mendengar kabar itu, padahal sebelumnya dia sudah mendengarnya dari percakapan Laras dan Bagas sebelum dia masuk.
"Maksudnya, Jenna?"
"Siapa lagi?" jawab Bagas datar.
"Mas, lebih baik kita ke rumah sakit juga." Kata Laras sedikit merengek
"Buat apa, sayang."
"Dia anakmu. Setidaknya sesekali bersikaplah seperti seorang ayah."
Ratna tertawa sarkas, benar-benar manusia bermuka dua. Tadi dia hanya bersikap biasa saja, tapi ketika di depan Ratna, Laras malah bersikap seolah sangat peduli.
Beberapa saat kemudian Ratna memutuskan untuk pergi.
Pintu ruangan tertutup.
Bagas duduk kembali di kursinya.
"Gimana, Mas? Kita jadi kan kerumah sakit nyusul mbak Ratna."
"Tidak."
"Jenna?"
"Dia bukan anak kecil."
Laras menunduk untuk menyembunyikan senyum tipis yang hampir muncul di bibirnya.
Namun beberapa detik kemudian, ia mengangkat wajah dengan ekspresi khawatir.
"Aku hanya takut dia salah paham pada kita."
Bagas mendengus.
"Jenna terlalu emosional. Sama seperti ibunya."
Laras berjalan mendekat lalu meletakkan tangannya di bahu pria itu.
"Mas jangan marah. Mungkin Jenna hanya sedang tertekan."
Bagas menghela napas panjang.
"Aku sudah terlalu banyak mengalah untuk mereka."
Kalimat itu hampir membuat Laras tertawa.
Mengalah?
Padahal selama bertahun-tahun justru Ratna dan Jenna yang terus mengalah.
Beruntung Bagas tidak bisa membaca isi pikirannya.
"Sudahlah." Bagas menggenggam tangan Laras.
"Sekarang yang penting kamu dan bayi kita baik-baik saja."
Laras tersenyum manis.
"Kalau begitu, Mas juga jangan terlalu capek."
Bagas menganggukkan kepalanya.
Sementara itu, jauh di dalam hati Laras, perasaannya jauh lebih baik daripada yang ia tunjukkan.
Ratna terlihat menyerah.
Dan selama Ratna menyerah, tidak akan ada siapa pun yang bisa menghalangi dirinya menjadi nyonya rumah yang sebenarnya.
***
Pintu ruang rawat terbuka perlahan.
Jenna yang sedang berbicara dengan Arga langsung menoleh.
"Mama..."
Ratna berdiri di ambang pintu dengan napas sedikit memburu. Sepertinya ia datang dengan tergesa-gesa.
Begitu melihat putrinya sudah sadar, wajah tegangnya perlahan melunak.
Tanpa mengatakan apa pun, Ratna segera menghampiri ranjang.
Tangannya langsung menyentuh pipi Jenna.
"Kamu bikin Mama takut."
Suara itu terdengar tenang, tetapi mata Ratna sudah memerah.
Jenna menunduk.
"Maaf, Ma."
Ratna menggeleng pelan.
"Bukan itu yang Mama ingin dengar."
Perempuan itu mengusap rambut putrinya dengan lembut.
"Kalau kamu sakit seperti ini, bagaimana Mama bisa tenang?"
Mendengar itu, d**a Jenna kembali terasa sesak.
Sejak kecil, hanya Ratna yang selalu ada untuknya.
"Aku nggak apa-apa, Ma."
"Kamu sampai masuk rumah sakit."
Ratna berusaha tersenyum.
"Tolong jangan buat Mama hampir kehilangan anak lagi."
Kalimat itu membuat ruangan mendadak hening.
Jenna langsung menggenggam tangan ibunya.
"Aku janji."
Ratna mengangguk pelan.
Namun matanya tetap berkaca-kaca.
Barulah beberapa detik kemudian ia menyadari keberadaan Arga yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Terima kasih sudah menemani Jenna."
Arga menganggukkan kepala sopan.
"Sudah seharusnya saya melakukan itu, Tante."
Ratna menatap pria itu selama beberapa saat.
Ia tidak buta.
Sejak masuk ke ruangan, ia bisa melihat bagaimana Arga memperhatikan Jenna.
Tatapan itu tidak bisa dipalsukan. Ratna merasa lega karena ada lelaki seperti Arga di sisi Jenna.
Setidaknya putrinya tidak sendirian.
"Kamu belum pulang?" tanya Ratna.
"Saya ingin memastikan Jenna benar-benar baik-baik saja."
Jenna yang mendengar jawaban itu langsung menundukkan wajah.
Entah kenapa, kalimat itu saja membuatnya bahagia
Ratna menangkap reaksi kecil putrinya dan hampir tersenyum.
Namun ia memilih diam.
"Mama udah makan?" tanya Jenna, berusaha mengalihkan pembicaraan.
Ratna menggeleng.
"Belum sempat."
Kening Jenna langsung berkerut.
"Mama..."
"Tadi Mama langsung berangkat ke sini."
Sebelum Jenna sempat mengomel, Arga lebih dulu membuka suara.
"Kalau begitu saya akan meminta seseorang mengantarkan makanan."
"Tidak perlu repot-repot."
"Tidak merepotkan."
Jawaban Arga terdengar tenang, tetapi sulit dibantah.
Ratna menatap pria itu sesaat lalu tersenyum tipis.
"Kalau begitu, Tante terima."
Arga menganggukkan kepala lalu keluar sebentar untuk menelepon.
Begitu pintu tertutup, Ratna kembali menatap Jenna.
Tatapan lembutnya perlahan berubah serius.
"Ada yang ingin Mama tanyakan."
Jenna langsung menegang.
"Apa?"
Ratna menggenggam tangan putrinya.
"Kenapa kamu bisa pingsan?"
Pertanyaan itu membuat Jenna terdiam.
Wajah Bagas dan Laras kembali terlintas di benaknya.
Dadanya yang semula mulai tenang kembali terasa nyeri.
Ratna yang melihat perubahan ekspresi putrinya langsung merasa tidak enak.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?"
Jenna menggigit bibir bawahnya.
Untuk sesaat, ia ragu.
Namun setelah mengingat semua yang didengarnya di kantor, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga.
"Mama..."
Suara Jenna bergetar.
"Aku dengar semuanya."
"Dengar apa?"
Jenna menatap ibunya dengan mata yang dipenuhi kesedihan.
"Aku dengar Papa dan Laras bicara tentang Mama."