Seorang staf perusahaan berdiri di depan pintu dengan wajah panik.
"Pak Arga!"
Arga menoleh
"Ada apa?"
Staf itu terlihat gugup.
"Barusan nona Jenna pingsan dan sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit Arunika Sehat."
Kening Arga mengkerut, Jenna ada di sini? Ada apa? Dan kenapa dia bisa pingsan?
"Baik, terimakasih. Saya akan segera menyusul ke rumah sakit."
Arga bergegas menuju rumah sakit. Bagaimana pun dia tetap mencemaskan Jenna, dia takut terjadi hal buruk pada gadis itu
Kurang lebih lima belas menit dari kantor, Arga akhirnya tiba di rumah sakit. Ia hampir berlari menuju meja resepsionis.
"Pasien atas nama Jenna, ada di mana?" tanya Arga ketika sampai di depan meja resepsionis.
Perawat itu sempat terkejut melihat kemunculan Arga secara mendadak, tak butuh waktu lama ia segera mengecek.
"Di ruang IGD, Pak. Baru saja masuk."
Tanpa menunggu lagi, Arga langsung menuju ke ruangan IGD. Dari balik kaca, ia melihat Jenna terbaring lemah di atas ranjang, wajahnya pucat. Seorang dokter dan perawat sedang memeriksanya.
Langkah Arga melambat. Ekspresi cemas kentara terlihat
"Jenna, ada apa sama kamu..." ucapnya lirih, hampir tak terdengar.
"Pak..."
"Pandangan Arga beralih pada Andra, salah satu karyawan Bagas."
"Kenapa Jenna bisa seperti ini? Apa yang terjadi?"
"Saya juga kurang tahu, Pak. Saat saya ingin mengantarkan berkas ke ruangan pak Bagas, saya melihat kalau bu Jenna hampur pingsan. Untungnya saya berhasil menangkap tubuh bu Jenna. Saat saya memanggil pak Bagas, beliau menyuruh saya untuk membawa bu Jenna ke rumah sakit."
Dua tangan Arga mengepal. Bahkan sedikitpun Bagas tidak punya rasa khawatir dan peduli. Padahal dia sendiri sudah melihat putrinya tidak sadarkan diri.
Seharusnya sebagai seorang ayah dialah orang yang membawa Jenna ke rumah sakit, bukan orang lain.
Tak lama, dokter keluar dari ruangan. Arga langsung menghampiri
"Bagaimana keadaannya, Dok?
Dokter itu menatap Arga sejenak sebelum menjawab,
"Sepertinya pasien mengalami kelelahan dan tekanan yang cukup tinggi. Tubuhnya drop. Untuk sementara sudah kami tangani, tapi dia perlu istirahat total."
Arga menghela napas panjang. Ada rasa lega, tapi tetap khawatir.
"Kelelahan?" ulangnya, sedikit tidak percaya.
Ia tahu Jenna bukan tipe orang yang mudah tumbang hanya karena lelah, kecuali ada sesuatu yang lebih dari itu.
"Kalau begitu saya permisi. Kami akan terus pantau kondisinya, anda jangan khawatir."
Aega menganggukkan kepala. Setelah dokter itu pamit, Andra juga ikut pamit untuk kembali ke kantor.
Arga kemudian masuk ke dalam ruangan. Ia berdiri di samping ranjang, menatap Jenna yang masih belum sadar.
"Kira-kira kapan dia akan sadar, Sus." Tanya Arga dengan pada suster yang baru saja selesai memasang jarung infus di tangan Jenna.
"Secepatnya, Pak. Tidak akan lama, kok."
Arga menghela napas dan tersenyum tipis. Kini suster itu ikut keluar meninggalkan Jenna dan Aega di sana.
Tanpa sadar, tangannya mulai terulur, tapi berhenti di udara sebelum menyentuh Jenna. Ia menarik tangannya kembali, wajahnya kembali mengeras.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Jenna. Kenapa bisa begini." gumamnya pelan.
Beberapa detik ruangan itu kembali hening, namun beberapa saat setelahnya Jenna mengerang kecil. Kelopak matanya bergerak sebelum akhirnya terbuka sedikit.
Pandangan mereka pun bertemu.
Jenna terlihat terkejut saat melihat sosok Arga yang ada di depan matanya
"Arga?" suaranya lemah.
"Kamu pingsan di kantor," kata Arga
"Apa yang kamu lakukan di sana?"
Jenna terdiam. Tatapannya beralih ke arah lain, seakan ragu untuk menjawab.
"Jena..." Panggil Arga lagi
"Aku nggak sengaja dengar obrolan papa dengan Laras."
Arga diam selama beberapa saat, membiarkan Jenna menjelaskan
"Semua aset akan dia pindahkan ke tangan Laras dan anak laki-lakinya. Setelah semuanya selesai dia bakal ceraiin mama aku dan usir mama dari rumah."
"Apa?" Arga terkejut mendengarnya
Dua bola mata Jenna terpejam. Selama ini mamanya sudah sangat menderita, sekarang dia tahu niat buruk papanya yang pastinya akan membuat mamanya semakin menderita.
"d**a aku sakit, sakit banget. Sampai untuk bernafas pun aku gak bisa. Tiba-tiba semuanya jadi gelap dan aku ada di sini."
Arga meraih tangan Jenna dan digenggamnya cukup erat, seakan genggaman itu adalah salah satu bentuk penguatan bagi Jenna.
"Aku akan pastikan itu semua tidak akan terjadi, Jenna. Semuanya tidak akan pernah menjadi milik wanita j*lang itu." Kata Arga
"Kalau memang mereka harus bercerai aku nggak masalah. Tapi, kalau mereka merebut mulik mama, aku nggak bisa terima, Ga."
Air mata Jenna jatuh juga, Arga mengusapnya dengan pelan
"Kamu percaya sama aku, itu nggak akan pernah terjadi."
"Gimana mungkin kamu bisa mencegahnya?"
"Pernikahan kita harus dipercepat."
"Dipercepat?"
Arga menganggukkan kepalanya
"Apa hubungannya?"
Jenna menatap Arga dengan bingung.
Arga menarik napas pelan sebelum menjawab,
"Kalau kita sudah menikah, statusmu akan berubah. Kamu bukan lagi hanya putri Bagas, tapi juga istriku."
Jenna masih belum mengerti.
"Aku tetap nggak paham."
"Bagas bisa mengabaikan kamu sekarang karena dia merasa kamu sendirian. Tapi kalau kamu sudah menjadi bagian dari keluarga Hwijin Group, dia nggak akan bisa bertindak sesuka hati."
Jenna terdiam.
Arga melanjutkan, "Aku juga punya cara untuk memastikan aset yang menjadi hak mamamu tidak berpindah begitu saja."
"Kamu punya cara?"
"Ada beberapa hal yang harus aku pastikan dulu. Tapi percayalah, aku nggak akan membiarkan mereka mengambil semuanya."
Tatapan Jenna perlahan melembut.
Sejak mendengar percakapan Bagas dan Laras, pikirannya kacau. Tapi setelah mendengar kalimat Arga, entah kenapa dadanya terasa sedikit lebih ringan, dia cukup lebih tenang dari sebelumnya
"Kenapa kamu mau sejauh ini membantuku?" tanyanya pelan.
Arga terdiam sesaat.
Pertanyaan itu membuatnya sulit menjawab.
Awalnya semua ini hanyalah sebuah perjanjian. Pernikahan kontrak yang seharusnya tidak melibatkan perasaan.
Namun sekarang, setiap kali melihat Jenna terluka, ia merasakan kemarahan yang tidak bisa dijelaskan.
"Aku sudah bilang, kan?" ucap Arga akhirnya.
"Apa?"
"Selama kamu ada di sisiku, nggak akan ada yang bisa menyakitimu."
Jantung Jenna berdetak sedikit lebih cepat.
Suasana mendadak menjadi canggung.
Untungnya suara ponsel Arga memecah keheningan.
Arga mengeluarkan ponselnya dan melihat nama yang muncul di layar.
Rahangnya langsung mengeras.
"Siapa?" tanya Jenna.
"Bagas."
Wajah Jenna seketika berubah.
Arga menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya menerima panggilan itu.
"Halo."
"Jenna ada sama kamu?" suara Bagas terdengar dari seberang.
Arga mengernyit.
Nada suara pria itu terdengar datar, seolah sedang menanyakan keberadaan seorang karyawan, bukan putrinya sendiri.
"Dia masih di rumah sakit."
"Oh."
Hanya itu respons yang diberikan Bagas.
Tatapan Arga langsung mendingin.
"Anda tidak berniat datang menjenguk putri Anda?"
Beberapa detik hening.
"Saya masih ada pekerjaan."
Mata Jenna langsung berkaca-kaca mendengar jawaban itu meskipun suara telepon tidak terlalu keras.
Arga mengepalkan tangannya.
"Kalau begitu lanjutkan pekerjaan Anda."
Tut.
Sambungan langsung diputus.
"Arga..." Jenna memanggil pelan.
"Mulai sekarang berhenti berharap pada orang seperti dia."
Jenna menunduk.
Kalimat itu memang menyakitkan, tetapi ia tahu Arga benar.
Bagas sudah memilih. Dan pilihannya bukan dirinya maupun ibunya.
Pada saat yang sama, di ruang kerja Bagas.
Pria itu meletakkan ponselnya di atas meja.
Laras yang sedang duduk di sofa langsung menghampiri.
"Jenna bagaimana?"
"Masih di rumah sakit."
Laras berpura-pura memasang wajah khawatir.
"Astaga. Apa kita perlu menjenguknya?"
Bagas menggeleng.
"Biarkan saja. Arga sudah ada di sana."
Laras tersenyum tipis saat Bagas tidak melihatnya.
Baginya, semakin jauh hubungan Bagas dengan Jenna, semakin baik.
Namun ia tidak tahu bahwa di luar ruangan, seseorang baru saja mendengar seluruh percakapan mereka.
Wanita itu mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Dialah Ratna
Istri sah Bagas.