Keesokan paginya, gedung megah Jeongha Corp berdiri seperti biasa, tenang, kokoh, seolah tidak pernah menyimpan rahasia apa pun di dalamnya.
Arga turun dari mobilnya dengan langkah santai. Jas hitam yang dikenakannya membuat penampilannya terlihat rapi dan profesional. Tidak ada yang bisa menebak bahwa di balik sikap tenangnya, ia sedang membawa rencana besar.
Beberapa karyawan yang melihatnya langsung menunduk hormat.
“Selamat pagi, Pak Arga.”
“Pagi,” jawab Arga singkat dengan senyum tipis.
Sejak pertunangannya dengan Jenna diumumkan, Arga memang semakin sering datang ke kantor pusat. Bagi banyak orang, ia sudah dianggap seperti bagian dari keluarga pemilik perusahaan.
Itulah yang membuat langkahnya hari ini terasa jauh lebih mudah. Arga berjalan menuju lift, menekan tombol menuju lantai tiga.
Ding.
Pintu lift terbuka.
Lorong lantai tiga jauh lebih sepi dibanding lantai lainnya. Sebagian besar ruangan di sini digunakan untuk penyimpanan dokumen lama perusahaan.
Persis seperti yang Ratna katakan.
Arga berjalan menyusuri lorong panjang hingga berhenti di depan sebuah pintu bertuliskan ARSIP.
Ia mencoba membuka pintunya.
Tidak terkunci.
Arga masuk ke dalam ruangan itu. Bau khas kertas lama langsung menyambutnya. Rak-rak tinggi dipenuhi map dan kotak arsip yang tersusun rapi.
Matanya menyapu seluruh ruangan.
“Lemari kayu…” gumamnya mengingat penjelasan Ratna.
Beberapa detik kemudian pandangannya berhenti pada sebuah lemari besar di sudut ruangan.
Lemari itu terlihat lebih tua dibanding yang lain.
Arga berjalan mendekat.
Tangannya membuka pintu lemari itu perlahan.
Kosong.
Tidak ada apa pun selain beberapa map usang.
Arga tidak langsung panik. Ia justru menutup kembali lemari itu dan memperhatikan bagian belakangnya.
Tangannya meraba sisi dalam lemari.
Tok.
Ada suara berbeda.
Arga menekan bagian papan itu sedikit lebih keras.
Sebuah panel kecil terbuka.
Di baliknya memang ada brankas kecil seperti yang Ratna katakan.
Arga menghela napas pelan.
“Tante Ratna tidak salah ingat.”
Namun masalahnya sekarang adalah…
Brankas itu terkunci dengan kode.
Arga menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum tipis.
“Bagas… kamu terlalu percaya diri.”
Ia mengeluarkan ponselnya dan memotret brankas itu cepat.
Tepat saat ia hendak menutup panel kembali, dia dikagetkan oleh sesuatu
“Kamu sedang apa di sini?”
Suara itu tiba-tiba terdengar dari belakang.
Arga langsung berbalik.
Seorang perempuan berdiri di ambang pintu.
Perempuan muda dengan penampilan elegan. Tatapannya tajam, bibirnya tersenyum tipis seperti seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang menarik..
Itu Nadira.
Perempuan yang selama ini dikenal sebagai tangan kanan Bagas di perusahaan.
Arga menutup pintu lemari dengan santai, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Aku hanya melihat-lihat,” jawabnya tenang.
Nadira melangkah masuk ke ruangan.
Sepatu haknya berbunyi pelan di lantai.
“Kamu tersesat sampai ruang arsip?” tanyanya dengan nada ringan, tapi jelas penuh selidik.
Arga tersenyum tipis.
“Calon menantu pemilik perusahaan harus tahu sejarah perusahaannya, kan?”
Nadira menatapnya beberapa detik.
Lalu tiba-tiba tertawa kecil.
“Menarik.” Ia melipat kedua tangannya.
“Tapi biasanya orang yang penasaran dengan sejarah perusahaan tidak membuka lemari rahasia.”
Arga tidak menjawab. Tatapan mereka saling bertemu.
Sunyi.
Beberapa detik terasa seperti menit.
Lalu Nadira kembali tersenyum.
“Tenang saja,” katanya santai.
“Aku tidak akan melapor.”
Arga sedikit mengangkat alis.
“Kenapa?”
Nadira mendekat beberapa langkah.
“Karena aku juga tidak terlalu menyukai orang yang duduk di kursi tertinggi di perusahaan ini.”
Kalimat itu membuat Arga menatapnya lebih serius.
“Kamu tahu sesuatu?” tanya Arga.
Nadira memiringkan kepala.
“Aku tahu banyak hal.”
Ia lalu berbalik menuju pintu, tapi berhenti tepat sebelum keluar.
“Kalau kamu benar-benar ingin membuka brankas itu,” katanya tanpa menoleh.
“Codenya bukan tanggal lahir.”
Arga mengernyit.
“Lalu?”
Nadira menoleh sedikit. Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Bagas selalu menggunakan angka yang sama.”
Ia menatap Arga dalam-dalam.
“Tanggal dia mengambil alih perusahaan.”
Setelah mengatakan itu, Nadira benar-benar pergi meninggalkan ruangan.
Arga berdiri diam beberapa saat. Pikirannya berputar cepat. Tanggal Bagas mengambil alih perusahaan…
Kalau itu benar, berarti....
Arga kembali menatap lemari kayu itu.
Tangannya perlahan membuka kembali panel rahasia.
Brankas kecil itu kembali terlihat di depannya.
Arga menatap keypad angka di sana.
Lalu dengan sangat pelan…
Ia mulai menekan kombinasi angka.
Beep.
Beep.
Beep.
Klik.
Suara kunci terbuka terdengar jelas di ruangan sunyi itu.
Arga menarik napas perlahan. Tangannya membuka pintu brankas. Di dalamnya hanya ada satu map cokelat tua.
Dengan tulisan yang sudah sedikit pudar.
AKTA PENDIRIAN – JEONGHA CORP
Nama yang tertulis di bawahnya membuat mata Arga menyipit. Di sana tertera jelas bahwa Ratna lah pemilik asli perusahaan
Arga tersenyum tipis.
“Akhirnya.”
Namun tepat saat ia hendak mengambil map itu,
Suara pintu terbuka keras dari belakang.
“Arga.”
Suara berat itu membuat tubuh Arga langsung menegang.
Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang berdiri di belakangnya.
Bagas.
Pria itu berdiri di ambang pintu dengan tatapan dingin. Matanya turun ke arah brankas yang terbuka.
Lalu perlahan kembali menatap Arga.
“Saya jadi penasaran,” kata Bagas pelan.
“Kenapa calon menantu saya… membongkar brankas pribadi saya?”
Arga tidak langsung menjawab.
Tangannya masih berada di dalam brankas, tepat di atas map cokelat yang berisi akta pendirian Jeongha Corp. Namun wajahnya tetap tenang, seolah situasi ini bukan sesuatu yang mengejutkan.
Perlahan ia menarik tangannya keluar dari brankas, lalu menutupnya kembali tanpa mengambil apa pun.
Klik.
Baru setelah itu Arga berbalik.
Bagas masih berdiri di ambang pintu dengan wajah dingin. Tatapannya tajam seperti sedang menilai setiap gerakan Arga.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” ulang Bagas.
Arga memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dengan santai.
“Melihat-lihat,” jawabnya ringan.
Bagas menyipitkan mata.
“Di ruang arsip?”
“Kenapa tidak?” sahut Arga tanpa kehilangan senyumnya. “Sebentar lagi aku akan menjadi bagian dari keluarga ini. Rasanya tidak salah kalau aku mencoba mengenal perusahaan keluarga calon istriku.”
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Bagas berjalan masuk ke dalam ruangan. Setiap langkahnya terdengar berat.
“Menarik,” katanya pelan.
“Tapi biasanya orang yang ingin mengenal perusahaan tidak membuka brankas pribadi pemiliknya.”
Arga menatap pria itu tanpa gentar.
“Kalau brankas itu ada di ruang arsip perusahaan, berarti itu bagian dari sejarah perusahaan juga, kan?”
Bagas berhenti tepat beberapa langkah di depan Arga.
Tatapan mereka saling bertemu.
Udara terasa tegang.
Namun tiba-tiba Bagas tersenyum tipis.
Senyum yang sama sekali tidak hangat.
“Kamu anak muda yang berani,” katanya.
“Tidak banyak orang yang berani masuk ke tempat ini tanpa izin.”
Arga mengangkat bahu..
“Saya pikir calon menantu punya sedikit hak istimewa.”
Bagas tertawa kecil, tapi matanya tetap dingin.
“Bisa jadi.”
Ia melangkah melewati Arga dan membuka kembali panel lemari itu.
Brankas kecil kembali terlihat.
Bagas menatapnya beberapa saat, lalu menutupnya kembali dengan tenang.
Ia berbalik menghadap Arga lagi.
“Arga,” katanya pelan.
“Kamu pria yang cerdas. Saya tahu itu sejak pertama kali bertemu.”
Arga tidak menjawab.
“Tapi satu hal yang harus kamu ingat,” lanjut Bagas.
“Di perusahaan ini ada banyak hal yang sebaiknya tidak kamu sentuh.”
Nada suaranya halus.
Namun jelas terdengar seperti peringatan.
Arga menatapnya tenang.
“Kalau hal itu menyangkut masa depan Jenna, saya rasa saya punya alasan untuk peduli.”
Nama itu membuat ekspresi Bagas berubah sedikit.
Hanya sedikit.
“Kamu sangat mencintai Jenna, ya?” tanya Bagas.
Arga tidak ragu menjawab.
“Iya.”
Bagas menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum lagi.
“Bagus.”
Ia menepuk bahu Arga pelan.
“Karena sebentar lagi kamu akan benar-benar menjadi bagian dari keluarga ini.”
Lalu Bagas berjalan keluar dari ruangan itu seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun sebelum benar-benar pergi, ia berhenti di depan pintu.
“Oh ya,” katanya tanpa menoleh.
“Ruang arsip ini akan dipindahkan minggu depan.”
Kalimat itu membuat Arga mengernyit.
“Semua dokumen lama akan dipindahkan ke gudang pusat,” lanjut Bagas santai.
“Termasuk yang ada di brankas itu.”
Bagas akhirnya menoleh.
Tatapan mereka kembali bertemu.
“Jadi kalau kamu ingin mempelajari sejarah perusahaan…”
Senyum tipis muncul di bibirnya.
“Lebih baik kamu cepat.”
Setelah mengatakan itu, Bagas benar-benar pergi.
Suara langkahnya perlahan menghilang di lorong.
Arga berdiri diam beberapa saat.
Pikirannya berputar cepat.
Bagas jelas tahu sesuatu.
Atau setidaknya… mencurigai sesuatu.
Arga menghela napas panjang.
Ia kembali membuka panel lemari.
Brankas kecil itu muncul lagi di hadapannya.
Dengan cepat ia memasukkan kode yang tadi.
Klik.
Pintu brankas terbuka.
Map cokelat tua itu kembali terlihat.
Kali ini Arga tidak ragu.
Ia mengambilnya.
Namun saat membuka map itu, alisnya langsung berkerut
Di dalamnya memang ada akta pendirian Jeongha Corp.
Tapi…
Halaman terakhirnya hilang.
Arga membalik-balik dokumen itu dengan cepat.
Halaman yang berisi tanda tangan kepemilikan utama tidak ada.
Arga menghela napas pelan.
“Licik sekali.”
Kalau halaman itu tidak ada, dokumen ini tidak cukup kuat untuk dijadikan bukti hukum.
Tiba-tiba ponsel Arga bergetar di sakunya.
Sebuah pesan masuk.
Dari nomor tak dikenal.
Arga membuka pesan itu.
Hanya ada satu kalimat pendek.
“Halaman terakhir ada di tangan orang yang sama yang memberitahumu kode brankas.”
Arga langsung terdiam.
Nadira.
Belum sempat ia berpikir lebih jauh,
Pintu ruang arsip kembali terbuka.
Namun kali ini bukan Nadira.