****
"Apa tante, bercerai?" Ulang Arga seakan tak percaya karena Ratna tiba-tiba mengatakan hal itu di depannya.
Bukannya sebelumnya Jenna mengatakan bahwa Ratna sangat mati-matian untuk mempertahankan rumahtangga? Bahkan Arga juga sempat melihat bagaimana hancurnya Ratna saat dia pergi meninggalkan rumah.
Suaminya yang berselingkuh dan menikah lagi dengan perempuan muda. Bukan cuma itu, Ratna bahkan bersedia untuk mengakui anak dari selingkuhan suaminya itu sebagai anaknya. Lantas kenapa sekarang tiba-tiba Ratna ingin berpisah?
"Tunggu, tunggu. Kenapa tiba-tiba, Tante?"
"Seharusnya ini memang sudah Tante lakukan sejak dulu, Arga. Mempertahankan rumahtangga yang sudah rusak seperti ini hanya membuang-buang energi. Jenna sudah cukup menderita selama ini. Kalau dia terus-terusan melihat tante terluka, dia pasti akan ikut terluka juga. Dulu, tante berusaha mempertahankan rumahtangga ini demi Jenna. Demi melihat Jenna tetap bisa dilindungi oleh ayahnya sendiri. Tapi nyatanya Jenna tidak pernah mendapatkan itu semua."
Kalimat itu terjeda karena rasa sesak yang Ratna rasakan. Dia menghirup udara sebanyak-banyaknya dan mengembuskan secara perlahan.
"Papanya tetap seperti itu. Sekarang Jenna sudah bertunangan dengan kamu, Arga. Sebentar lagi kalian juga akan menikah. Jadi Jenna bisa mendapatkan perlindungan itu dari kamu."
Ratna menatap Arga dengan tatapan penuh harap. Seakan juga mempercayai bahwa Arga tidak mungkin menyakiti Jenna.
Hatinya mengatakan bahwa hanya Arga lah satu-satunya yang bisa mencintai Jenna dengan sempurna.
"Tapi, tunggu. Apa Jenna tahu soal ini?"
"Belum."
Ratna menggelengkan kepalanya. Sebisa mungkin dia harus menyembunyikan ini dari Jenna. Dia akan memberitahu Jenna, nanti.
"Kenapa?"
"Karena Tante harus melakukan satu hal dulu. Dan kamu satu-satunya orang yang bisa membantu Tante."
"Oke.... Tante mau aku melakukan apa?"
"Bantu tante untuk merebut kembali Jeongha Crop. Itu semua milik Jenna, bukan milik papanya apalagi milik perempuan itu dan anaknya."
Ratna menatap Arga penuh harap seakan Arga adalah satu-satunya orang yang dia percaya untuk bisa membantunya.
Ratna yakin dengan bantuan Arga dia bisa menemukan kembali akta pendirian awal Jeongha Corp yang menunjukan bahwa perusahaan itu sesungguhnya didirikan atas namanya, perusahaan yang sudah diwariskan atas nama Ratna sebelum perusahaan itu diambil alih oleh Bagas.
Arga terdiam beberapa saat. Permintaan itu bukan hal kecil. Ini bukan sekadar urusan keluarga, tapi juga urusan hukum dan kekuasaan.
"Tante yakin akta itu masih ada?"
"Ada." Jawaban Ratna yakin
"Tante menyimpannya. Dulu, sebelum semuanya berubah. Tapi setelah papa Jenna mengambil alih perusahaan, banyak dokumen dipindahkan. Tante yakin dia menyembunyikannya di kantor pusat."
Arga mengusap tengkuknya pelan.
"Kalau begitu kita harus hati-hati. Ini bisa jadi perang terbuka, Tante."
Ratna tersenyum tipis.
"Tante sudah hidup di medan perang bertahun-tahun, Arga."
Ucapan itu membuat d**a Arga terasa berat. Ia melihat perempuan di hadapannya bukan lagi ibu yang rapuh seperti cerita Jenna dulu. Ratna yang sekarang berdiri di depannya adalah seseorang yang sudah terlalu lama dipatahkan, dan akhirnya memilih bangkit.
"Oke," kata Arga pada akhirnya. "Aku bantu."
Arga mengangkat pandangannya dan menatap Ratna. Tidak ada keraguan di wajahnya, yang ada hanyalah perhitungan matang.
"Kita mulai dari kantor pusat," katanya pelan.
"Aku bisa masuk tanpa menimbulkan kecurigaan. Papa Jenna masih menganggap aku calon menantu yang sangat berguna."
Ratna mengangguk pelan.
"Dia memang selalu meremehkan orang yang dia pikir sudah berada di pihaknya."
"Itu keuntungan kita," sahut Arga.
"Tante ingat terakhir kali melihat dokumennya di mana?" Ratna memejam sebentar, mencoba mengingat.
"Ruang arsip lama. Lantai tiga. Dulu ada brankas kecil di balik lemari kayu. Hanya tante dan Bagas yang tahu."
Arga menyerap informasi itu dengan cepat.
"Kalau ruangnya masih dipakai, aksesnya pasti sudah berubah. Tapi biasanya perusahaan sebesar itu tidak pernah benar-benar membuang arsip lama. Mereka hanya memindahkan."
Ratna menatapnya cemas.
"Kalau sudah dipindahkan?"
"Aku punya kenalan di bagian legal," jawab Arga tenang.
"Aku akan cari tahu alur pemindahan dokumen dulu. Begitu tahu di mana arsipnya, kita ambil secara resmi."
"Resmi?" Ratna mengernyit.
"Iya," Arga mencondongkan tubuh.
"Kita tidak mencuri. Kita minta salinan berdasarkan hak hukum pemilik awal. Tapi sebelum itu, aku harus pastikan akta itu benar-benar atas nama Tante. Begitu dapat salinannya, kita langsung ajukan gugatan."
Ratna menelan ludah. Jantungnya berdetak keras. Semua terdengar begitu dekat dan begitu berbahaya.
"Kalau kita ketauan, Bagas pasti tidak akan tinggal diam," bisiknya.
"Aku tahu," jawab Arga.
"Makanya kita tidak bergerak gegabah. Selama dia merasa semuanya aman, dia tidak akan curiga. Aku tetap datang ke kantor seperti biasa. Tetap bersikap sopan. Tetap jadi calon menantu yang patuh."
Tatapan Arga mengeras.
"Dan diam-diam aku bongkar semuanya dari dalam."
Ratna menatapnya lama, lalu untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, bahunya sedikit turun. Seolah beban bertahun-tahun telah diangkat, walau hanya sebagian.
"Tante tidak salah percaya ke kamu," katanya lirih.
Arga menggeleng pelan.
"Bukan soal percaya, Tante." Ia berdiri, suaranya rendah tapi tegas.
"Ini memang sudah seharusnya kembali ke Jenna."
Nama itu membuat Ratna menggenggam tangannya erat. Ada haru yang menyesak di d**a.
"Besok aku mulai," lanjut Arga.
"Tante jangan lakukan apa-apa dulu. Bersikap seperti biasa. Jangan sampai papa Jenna mencium perubahan sekecil apa pun."
Ratna mengangguk cepat.
"Tante mengerti."
"Dan satu lagi,"
"Kalau ini meledak aku yang berdiri paling depan. Tante tidak perlu muncul sampai waktunya tepat."
Ratna tertegun. Matanya memanas.
Di saat semua orang memilih menjauh dari konflik Bagas, laki-laki itu justru melangkah masuk tanpa ragu.
Ratna akhirnya menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Bukan karena takut.
Tapi setelah bertahun-tahun, ia merasa punya harapan.
"Yasudah, kalau begitu tante permisi dulu. Sekali lagi, terimakasih Arga. kamu udah bersedia bantu tante."
"Sama-sama, tante."
Arg tersenyum. Setalah itu Ratna berdiri dan berjalan menuju pintu.
Setelah Ratna pergi, Arga mengembuskan napas. Dia benar-benar harus bisa membantu Ratna untuk merebut itu semua.
Dengan begitu, bukan hanya kehidupan Ratna yang akan membaik. Kehidupan Jenna juga pasyi akan membaik karena melihat ibunya lebih bahagia dari sebelumnya.
"Jenna, kamu jangan khawatir. Aku bakal bantu mama kamu semampu aku." Ucap Arga pelan.
***
Jenna sampai di rumah, namun saat tiba di rumahnya, dia sama sekali tidak melihat keberadaan sang mama
Kemana perginya?
Kepergian mamanya waktu itu masih menyimpan ketakutan di hatinya. Dia takut hal itu terulang lagi.
"Ma .... Mama ...."
Jenna mencari mamanya ke setiap sudut rumah. Tapi hasilnya tetap sama, mamanya tidak ada di mana-mana
Hingga akhirnya Jenna menemukan snag bibi di dapur
"Bi, lihat Mama?"
"Lho non Jenna udah pulang?"
"Udah, Mama mana Bi?"
"Tadi kayaknya keluar Non."
"Dari kapan?"
"Udah tiga atau empat jam sih, Non."
Jenna menelan ludah, itu sudah lumayan lama mamanya keluar rumah, dia buru-buru menghubungi mamanya.