Hari ini Jenna akhirnya kembali ke kampus setelah cukup lama mengambil jeda. Kini ia bertekad menata ulang fokusnya, mengejar ketertinggalan, dan menyelesaikan pendidikannya secepat mungkin dengan hasil terbaik.
Suasana kampus masih seperti biasanya. Tidak ada yang berubah selama sepeninggalannya.
"Jenna…"
Sebuah panggilan menghentikan langkahnya di koridor kampus. Ia menoleh. Dari kejauhan, seorang gadis tampak berlari kecil ke arahnya, wajahnya terlihat sumringah seolah tak sabar ingin menyapa.
Jenna langsung mengenali sosok yang memanggil namanya itu.
"Anasera?"
"Akhirnya lo masuk juga."
"Hmm..."
"Gimana setelah jadi tunangan orang? Pasti seru ya?"
"Apaan sih, Ser. Biasa aja." Kata Jenna diiringi kakehan pelan.Dia berjalan lebih dulu meninggalkan Anasera, tak lama Anasera mengikuti dari belakang
"Tapi kalian cocok sih. Arga juga keliatannya baik banget."
Kini keduanya berjalan santai menuju ruang jelas. Obrolan kecil tentang Arga terus berlangsung. Terkadang Jenna tertawa mendengar ocehan Jenna.
Anasera selalu begitu, dia selalu baik meski Jenna memperlakukan dingin. Bahkan terkadang ucapan Jenna sering melukainya.
"Kamu nggak mau nyusul?" tanya Jenna tiba-tiba
"Nyusul? Nyusul apaan?"
"Yaaa tunangan?"
"Tunangan?" ulang Anasera. Gadis itu sempat tertawa pelan.
Yang benar saja. Jangankan untuk memimpikan bisa bertunangan. Pasangan saja dia tidak punya. Kalau pun ada pasangan, dia juga tidak pernah memimpikan bisa bertunangan. Semuanya pasti butuh biaya yang sangat banyak.
Bagi dia, hal seperti itu hanya membuang-buang uang saja.
"Iya..."
"Mau tunangan sama siapa? Nggak usah ngaco deh, Jen."
"Emngnya lo nggak punya pacar?"
"Emang selama ini lo pernah denger atau pernah lihat gitu gue punya pacar?"
"Yaa enggak sih."
"Nah itu. Lagian ya, Jen. Kalau pun gue punya pacar palingan kita juga gak bakal tunangan. Mimpi aja kita gak berani, apalagi tunangan beneran. Kalau gue punya pasangan, yaudah tinggal nikah aja. Nggak perlu pesta yang penting sah."
Jenna tampak berfikir sejenak. Kasihan sekali Anasera. Dia yakin perempuan mana pun pasti ingin memiliki pernikahan yang indah.
Jenna menggigit bibirnya, sedikit bingung dengan pandangan hidup Anasera.
"Tapi kan nggak semua orang yang nikah tuh cuma buat pesta. Pesta kan bisa sederhana, yang penting sah. Kalau lo udah punya pasangan yang baik, kenapa nggak coba? Kan nggak ada yang tahu masa depan."
Anasera terdiam, menatap lurus ke depan. Raut wajahnya kembali tampak dingin, seolah melindungi diri dari harapan-harapan yang seringkali berujung kekecewaan.
"Lo tahu, Jen," katanya akhirnya, suaranya datar,
"Kadang gue mikir, ada hal-hal yang lebih penting daripada sekadar pesta dan pernikahan. Gue fokus sama karier gue, dan... ya, hal-hal yang lebih realistis."
Jenna merasa seperti ada batu besar yang mengganjal di dadanya. Dia ingin sekali menghibur Anasera, mengingatkan bahwa hidup ini bukan hanya soal bertahan hidup, tapi juga soal memiliki kebahagiaan kecil yang tak ternilai. Namun, dia tahu bahwa Anasera tidak mudah dibujuk. Perempuan itu selalu keras kepala, selalu menutup dirinya dari dunia yang penuh dengan harapan dan impian.
"Tapi lo nggak kesepian, Ser?" tanya Jenna pelan, kali ini dengan nada lebih lembut
"Lo nggak mau punya seseorang yang bisa ngertiin lo, yang bisa nemenin lo saat-saat susah?"
Anasera menghela napas panjang.
"Jenna," jawabnya, ia menoleh sedikit untuk menatap sahabatnya.
"Gue nggak pernah merasa kesepian. Mungkin lo pikir gue butuh seseorang, tapi yang gue butuhin cuma waktu buat diri gue sendiri. Gue nggak butuh orang lain buat merasa lengkap."
Jenna terdiam, kata-katanya terhenti di tenggorokan. Dia tahu bahwa meskipun Anasera terlihat begitu teguh dengan pendiriannya, ada sesuatu yang terluka di dalam dirinya, sesuatu yang dia coba sembunyikan dengan menyibukkan diri dalam pekerjaan dan rutinitas yang tidak ada habisnya.
Keduanya terus berjalan tanpa banyak bicara, hanya suara langkah kaki yang terdengar mengisi kesunyian di lorong kampus yang panjang. Jenna merasakan beban di hatinya semakin berat. Dia ingin sekali melihat Anasera bahagia, menemukan seseorang yang bisa membuatnya merasa lebih dari sekadar perjuangan hidup yang keras.
Namun, dia tahu bahwa setiap orang punya cara masing-masing dalam mencari kebahagiaan. Dan mungkin, untuk Anasera, kebahagiaan itu bukanlah hal yang bisa ditemukan melalui hubungan romantis. Mungkin kebahagiaan itu ada di dalam dirinya sendiri, sebuah perjalanan yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang memilih jalannya.
"Jen..." Anasera menyela keheningan itu, suara lembut namun tegas.
"Gue tahu lo peduli. Tapi jangan khawatir tentang gue. Gue tahu apa yang gue lakukan."
Jenna mengangguk, meskipun ada keraguan yang masih mengendap di hatinya. Dia ingin percaya bahwa Anasera bisa menemukan kebahagiaannya sendiri, meskipun mungkin tak dengan cara yang dia bayangkan.
Mereka sampai di ruang kelas, dan Anasera berhenti sejenak di pintu.
"Makasih ya, Jen. Lo sahabat terbaik gue."
Jenna tersenyum tipis, merasakan kehangatan dalam hatinya meskipun tidak ada kata-kata lebih lanjut yang diucapkan.
"Kapan aja, Ser. Gue ada buat lo."
Anasera mengangguk, lalu melangkah masuk ke kelas, meninggalkan Jenna yang masih berdiri di ambang pintu, menatap kosong ke depan. Dia tahu bahwa hidup ini penuh dengan pilihan dan kadang, pilihan itu tidak selalu sesuai dengan harapan kita. Tapi, meskipun begitu, dia merasa lega karena masih memiliki sahabat seperti Anasera.
Mereka mungkin berbeda dalam banyak hal, tapi mereka saling memahami satu sama lain lebih dari siapapun. Dan itu, menurut Jenna, sudah cukup.
***
Hari ini Ratna sengaja datang untuk menemui Arga di kantornya. Ada hal penting yang harus dia bicarakan dengan Arga.
Selama beberapa hari ini Ratna sudah memikirkan hal itu dengan sangat matang. Mungkin ini memang sudah saatnya Ratna mengambil keputusan besar dalam hidupnya.
Beberapa hari setelah pertunangan Jenna ia melewati hari yang berat. Semakin hari rasanya semakin menyiksa. Ratna merasa bahwa hubungan rumahtangga dengan Bagas sudah tidak sehat.
Ya, Ratna akui selama ini dia terlalu denial karena berharap Bagas bisa berubah dan kembali seperti dulu.
Namun sepertinya apa yang Ratna pikirkan tidak akan mungkin pernah terjadi. Sampai kapan pun itu
Bertahun-tahun Ratna rela menanggung rasa sakit itu, tapi kali ini dia sudah lelah. Ada atau tidaknya Bagas dalam hidupnya semuanya akan tetap sama.
Namun sebelum berpisah Ratna harus melakukan sesuatu. Mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya dan Jenna.
Jeongha Crop.
Perusahaan itu harus kembali ke tangannya. Satu-satunya orang yang bisa membantunya hanyalah Arga.
Ratna memasuki lift dan menekan angka 21 untuk bisa sampai di lantai tempat ruangan Arga berada.
Setelah menunggu selama beberapa saat, lift kembali terbuka.
Ratna buru-buru ke luar dan semog berpapasan dengan beberapa karyawan yang akan turun ke lantai bawah.
Ratna sudah melihat ruangan Arga, dia memegang knop pintu dan mendorongnya pelan
Arga terlihat duduk di kursi kebanggaannya. Menyadari kedatangan Ratna, Arga langsung berdiri dan memberi salam.
"Selamat siang, Tante."
"Siang, Arga."
"Ayi tante, silakan duduk. Kita ngobrol di sana." Kata Arga sambil menunjuk sofa yang ada di pokok kanan.
Ratna menganggukkan kepala dan mengikuti instruksi dari Arga.
"Kayaknya ada hak yang serius yang mau tante omongin sampai Tante bela-belain buat datang ke sini."
Ratna menganggukkan kepalanya.
"Ini sangat penting Arga. Kalau bisa, Jenna jangan tau dulu."
"Okey ..." Wajah Arga langsung berubah serius ketika merasakan ketegangan dari wajah Ratna
"Tante mau bicara apa?
"Tante mau bercerai dengan papanya Jenna."
Kalimat itu betul-betul berhasil mengangkat Arga.
Apa? Bercerai?