Hari ini adalah hari pertunangan Jenna dan Arga. Semua media sibuk memberitakan pernikahan putra-putri dua kerajaan bisnis itu.
Mulai dari televisi, media sosial, hingga media cetak. Semuanya betul-betul dipenuhi oleh berita terkait pertunangan dua orng itu
Terlihat Jenna tampil anggun dengan gaun putih berdesain elegan yang memeluk tubuhnya sempurna. Kain satin berkilau lembut mengikuti setiap langkahnya saat ia berjalan menyusuri karpet hijau yang dihiasi taburan kelopak mawar segar. Rambutnya disanggul rapi, dihiasi veil tipis yang jatuh anggun di punggungnya, sementara senyum lembut tak lepas dari wajahnya.
Di sisi kanan dan kirinya, Ratna dan Bagas menggenggam tangannya dengan penuh kebanggaan. Ratna tampil anggun dengan kebaya modern berwarna pastel, matanya berkaca-kaca menahan haru, sementara Bagas berjalan tegap, wajahnya memancarkan senyum bahagia yang sulit disembunyikan. Dari luar, mereka tampak seperti keluarga yang sempurna. Hangat, utuh, dan dipenuhi cinta, benar-benar terlihat tidak ada kekurangan apa pun.
Di hadapan mereka, Arga sudah menunggu.
Pria itu berdiri dengan setelan jas hitam eksklusif yang dibuat khusus untuk hari ini. Tatapannya tak lepas dari Jenna sejak pertama kali gadis itu melangkah masuk ke aula utama. Senyum Arga mengembang, penuh kagum, seolah dunia di sekitarnya mendadak menghilang.
Aula pertunangan itu dipenuhi cahaya lampu kristal yang berkilauan, dekorasi bunga putih dan hijau pastel menjulang megah, menciptakan suasana bak negeri dongeng. Alunan musik orkestra mengalir lembut, menambah kesan romantis yang begitu kental.
Keluarga Arga berdiri tak jauh dari sana, sama-sama memancarkan kebahagiaan yang tulus. Rianti----mama Arga---tampak mengusap sudut matanya, sementara Erlan sang papa hanya mengangguk kecil, seolah mengakui bahwa inilah momen yang selama ini mereka nantikan.
Saat Jenna dan Arga akhirnya berdiri berhadapan, kilatan kamera seakan tak berhenti. Flash menyala silih berganti, mengabadikan senyum, tatapan, dan gestur kecil yang penuh makna. Ketika Arga menggenggam tangan Jenna dan menyematkan cincin di jari manisnya, riuh tepuk tangan memenuhi ruangan.
Beberapa tamu bahkan tak bisa menyembunyikan rasa iri mereka.
Pertunangan itu bukan sekadar perayaan dua keluarga besar, melainkan gambaran kisah cinta yang tampak nyaris sempurna. Mewah, romantis, tanpa celah. Sebuah momen yang membuat siapa pun yang menyaksikannya diam-diam berharap, bisa merasakan apa yang mereka rasakan.
Setelah cincin terpasang, Arga menundukkan kepala sedikit, lalu mengecup punggung tangan Jenna dengan penuh penghormatan. Senyum Jenna mengembang, matanya berbinar saat Arga meraih jemarinya dan mengajaknya berbalik menghadap para tamu.
Tepuk tangan kembali menggema, lebih riuh dari sebelumnya.
Keduanya berdiri berdampingan, serasi dalam balutan warna-warna netral yang elegan. Jenna menggenggam buket bunga kecil di tangannya, sementara Arga sesekali mencondongkan tubuh, membisikkan sesuatu yang membuat Jenna tersenyum kecil dan tertawa pelan. Gestur-gestur sederhana itu justru semakin membuat orang-orang di sekeliling mereka tersenyum iri.
Di atas panggung, perwakilan keluarga menyampaikan sambutan singkat. Kata-kata tentang doa, harapan, dan masa depan.
Ratna kembali menitikkan air mata ketika menyebut nama putrinya, suaranya sempat bergetar sebelum akhirnya tersenyum bangga.
Arga lalu melangkah maju, mengambil mikrofon dengan tenang.
"Terima kasih sudah berjalan sejauh ini bersamaku," kata Arga. Entah kenapa kalimat itu terdengar sangat tulus di telinga Jenna.
"Aku berjanji akan selalu menjaga kamu, apa pun yang terjadi, dan dalam keadaan apa pun."
Jenna membalasnya dengan senyum lembut, mengangguk pelan. Para tamu kembali bertepuk tangan, sebagian bahkan terdengar berdecak kagum.
Acara berlanjut dengan jamuan makan malam. Meja-meja panjang tertata rapi, dihiasi lilin-lilin kecil dan rangkaian bunga segar. Tawa, obrolan hangat, dan denting sendok-garpu berpadu dengan musik yang terus mengalun, menciptakan suasana yang akrab meski dibalut kemewahan.
Hari itu, Jenna dan Arga tak pernah terpisah. Keduanya berpindah dari satu tamu ke tamu lain, menerima ucapan selamat, pelukan, dan doa-doa baik. Setiap senyum yang terukir di wajah mereka seolah menegaskan satu hal, bahwa malam itu adalah perayaan cinta yang utuh, yang tampak begitu layak dirayakan oleh siapa pun yang hadir.
***
"Makasih karena hari ini kamu berhasil bikin dia nggak datang di hari pertunangan putri kita."
Mendengar ucapan Ratna Bagas menoleh sejenak, kemudian mengembuskan napas tanpa mengucapkan sepatah kata.
"Gimana sama kandungan dia? Bayi yang ada dalam perutnya sehat?"
"Tentu."
"Beberapa bulan lagi bayi itu akan lahir. Kamu nggak akan mengubah keputusan kamu kan, Mas?"
Entah kenapa akhir-akhir ini Ratna merasa bahwa Bagas lebih sering menghabiskan waktu bersama istri mudanya itu. Ratna tidak ingin kalau mereka berdua semakin dekat dan ujungnya tidak ingin berpisah.
Kalau itu sampai terjadi, Jenna benar-benar akan kehilangan sosok ayahnya.
Ratna tidak bisa membayangkan jika itu betulan terjadi.
"Memangnya kalau aku mengubah keputusan, kamu punya alasan agar aku tetap dengan keputusan awal?"
"Kenapa enggak, Mas. Aku udah turutin semua kemauan kamu. Kamu harus tetap sesuai dengan keputusan awal kita. Anak itu akan kamu bawa ke sini sebagai anak kita."
"Sudahlah, Ratna. Semua keputusan tetap ada pada Laras. Kalau dia tidak bisa memberikan bayi itu, maka mau tidak mau aku harus meresmikan pernikahan aku dengan dia. Kalau kamu tidak sanggup, kita bisa berpisah secara baik-baik."
"Kamu nggak mikirin Jenna?"
"Lagipula nanti dia akan menikah dengan Arga. Jadi dia tidak akan butuh aku lagi."
Dada Ratna terasa sesak mendengarnya pernyataan yang keluar dari mulut Bagas.
Apa sudah tidak ada sedikit pun rasa cinta di hati Bagas untuknya? Apakah kematian Genta anak pertama mereka betul-betul sudah membutakan mata Bagas dan mengubahnya menjadi rasa benci?
"Jenna juga anak kamu, Mas. Kenapa nggak ada sedikit pun rasa peduli di hati kamu buat dia? Sejak dia kecil kamu selalu menomorduakan dia. Menganggap dia hanya sebagai bonus. Padahal dia darah daging kamu sendiri."
Bagas naik ke atas permukaan kasur seakan enggan menanggapi Ratna.
"Kalau kamu masih berisik, aku akan pergi dan tinggal selamanya bersama Laras."
Rahang Ratna mengeras, dia mengigit bibir kuat-kuat menahan gejolak yang ada di dalam d**a. Ternyata jawaban Bagas cukup membuat Ratna yakin kalau apa yang Jenna takutkan dulu menjadi kenyataan.
Bahwa dia hanya dimanfaatkan. Saat tidak dibutuhkan, dia akan disingkirkan begitu saja
Selama beberapa detik Ratna hanya bisa memandangi tubuh Bagas yang berbaring di atas ranjang. Apa dia harus menyerah dan mengakhiri pernikahan ini?
Meski sudah puluhan tahun berusaha mempertahankan pernikahan ini, kalau Bagas tak berniat untuk mempertahankan juga, semuanya tetap percuma.
'Apa lebih baik aku dan mas Bagas berpisah?' gumam Ratna dalam hati.
Tapi....
bagaimana dengan Jenna? bagaimana kalau setelah perceraian itu Bagas tak pernah lagi Sudi untuk menghubungi Jenna?