Mobil Arga berhenti di depan rumah besar milik keluarganya. Jenna menatap bangunan tiga lantai tersebut dengan perasaan campur aduk. Ini kali pertama ia datang, dan tentunya membuat jantungnya berdegup cukup kencang
"Akhirnya kita sampai juga," ujar Arga sambil mematikan mesin.
Jenna mengangguk pelan. Ia merapikan duduknya, menarik napas dalam sebelum membuka pintu. Arga turun lebih dulu, lalu berjalan mengitari mobil dan berdiri di samping Jenna
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Arga pelan.
"Nggak apa-apa," jawab Jenna singkat. Mereka melangkah masuk. Pintu rumah terbuka bahkan sebelum Arga sempat menekan bel.
Sosok Rianti, Mama Arga yang pertama kali muncul di hadapan keduanya.
"Jenna," sapa Rianti dengan senyum hangat.
"Akhirnya kalian datang juga."
Rianti langsung mendekat dan menggenggam tangan Jenna dengan lembut, membuat ketegangan di d**a Jenna sedikit mereda.
"Kamu kelihatan capek. Duduk dulu, ya."
"Iya, Tante,"
Mereka terus melangkah masuk hingga sampai di ruang tamu, di sana Erlan sudah duduk lebih dulu. Ia menoleh sekilas saat mereka tiba, lalu kembali fokus pada koran di tangannya.
"Pa, lihat Jenna ke sini." Kata Rianti. Namun Erlan tampak tak begitu menggubris kedatangan perempuan itu.
Erlan menurunkan korannya sedikit lalu berdeham kecil.
"Hmm."
"Selamat sore, Om."
"Ya." jawab Erlan singkat. Tidak ada senyum, tidak ada nada hangat. Cukup sebagai formalitas saat orang asing menyapanya.
Rianti menepuk lengan Erlan pelan.
"Jenna ini habis dari butik. Tadi mereka ngukur gaun lho, Pa."
Erlan hanya mengangguk. "Oh."
Tidak ada komentar lanjutan dari Erlan. Benar-benar sesingkat itu. Dua tangan Arga terkepal, ada rasa tidak terima ketika Erlan memperlakukan Jenna seperti itu.
Padahal Pertunangan ini jelas atas kemauannya, tapi malah dia yang seakan-akan tidak suka akan kehadiran Jenna di dalam keluarga.
Jenna duduk di sofa dengan sikap tegak, tangannya bertumpu rapi di pangkuan. Arga duduk di sampingnya, sedikit condong ke arahnya, gestur kecil yang terasa protektif.
"Gimana tadi, kamu suka sama gaunnya?"
"Suka Tante."
"Tadi kamu foto nggak pas pake gaunnya? Tante mau lihat. Pasti kamu kelihatan sangat cantik." Kata Rianti, mencoba mencairkan suasana.
Jenna tersenyum tipis.
"Terima kasih, Tante. Tapi tadi sayangnya aku nggak sempat foto."
"Yaaahh, sayang sekali."
"Kata siapa?" Arg tiba-tiba bersuara. Aku foto kamu tadi, aku udah yakin kalau mama bakal nanyain ini." Arga mengeluarkan ponselndari kantor celana. Membuka menu galeri dan memperlihatkan beberapa foto yang dia potret secara diam-diam saat Jenna mengenakan gaun pengantin tadi.
Sebelah alis Jenna terangkat, bahkan dia tidak sadar kalau tadi Arga sempat melakukan hal itu.
Melihat foto Jenna yang ada di ponsel Arga, Rianti tersenyum tipis.
"Tuh, bener kan, kamu cantik banget."
Keduanya sama-sama tertawa pelan.
Erlan melipat korannya dan berdiri. Menurutnya Rianti terlalu berlebihan memuji Jenna seperti itu.
Rianti malah bersikap seperti seorang calon mertua sungguhan.
"Saya ke belakang sebentar."
Erlan berlalu tanpa menunggu tanggapan. Rianti menarik napas pelan, lalu menoleh ke Jenna.
"Kamu jangan kepikiran," ucapnya lembut. "Papa Arga memang begitu."
Jenna mengangguk. "Saya ngerti, Tante."
Rianti menepuk tangan Jenna pelan. "Yang penting pertunangan kamu dan Arga tetap berjalan sesuai rencana."
Arga menoleh pada Jenna, sejenak menatapnya dengan ekspresi yang seolah meminta maaf tanpa kata.
***
Sementara itu, di rumah Jenna, suasana terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.
Ratna duduk di ruang keluarga, televisi menyala tanpa benar-benar ia tonton. Tangannya sibuk melipat cucian, tapi pikirannya melayang entah ke mana. Sejak pagi, Bagas belum banyak bicara. Ia hanya pamit keluar sebentar, lalu kembali dan mengurung diri di ruang kerja.
Ratna sudah hafal pola itu.
Pintu ruang kerja akhirnya terbuka. Bagas keluar dengan kemeja rapi, membawa ponsel di tangannya. Wajahnya tampak tegang, seperti seseorang yang sedang berusaha menjaga semuanya tetap terkendali.
"Kamu mau ke mana lagi?" tanya Ratna tanpa menoleh.
"Keluar sebentar," jawab Bagas singkat.
"Kamu baru pulang lho, masa mau keluar lagi?"
Bagas tak menjawab dia terus melangkah menuju pintu keluar
"Sampai kapan kamu terus mementingkan Laras?"
Langkah Bagas langsung terhenti. Ada rasa tidak suka saat Ratna memprotes secara terang-terangan seperti itu.
"Jelas Laras itu penting. Apalagi dia itu mengandung anakku. Jadi dia akan terus menjadi prioritasku."
"Tapi kamu udah beberapa hari ini sering menghabiskan waktu bersama dia. Memangnya itu masih kurang? Coba deh untuk sekarang fokus sama Jenna dulu."
"Anak itu bisa, jadi aku nggak perlu mengurusnya. Lagipula ada Arga, semuanya akan baik-baik aja. Sudahlah, aku harus menemui Laras. Aku harus cari buah rambutan buat dia. Karena dia sedang mengidam."
Ratna mengembuskan napas berat. Perempuan itu makin hari semakin mengingat suaminya. Menjadikan ngidam sebagai alasan agar Bagas tak bisa menolak keinginannya.
Apa jangan-jangan benar dugaan Jenna kalau sebenarnya Laras itu adalah perempuan licik?
Ratna melirik ke arah pintu dan melihat punggung Bagas yang semakin jauh dari pandangannya.
Percuma, kalau sudah soal Laras, Bagas tidak akan bisa dicegah. Sekalipun Bagas diminta untuk memperhatikan Jenna, Bagas tetap memilih untuk menemui Laras.
Selang beberapa menit kepergian Bagas, suara mesin mobil terdengar dari luar. Ratna yang masih duduk di ruang keluarga refleks menoleh. Beberapa detik kemudian, pintu depan terbuka dan Jenna masuk bersama Arga.
Ratna segera berdiri.
"Jenna," panggilnya, berusaha tersenyum.
Jenna menoleh.
"Ma."
Nada suaranya terdengar lelah, tapi ia tetap berjalan mendekat dan memeluk Ratna singkat. Arga berdiri agak ke belakang, memberi ruang.
"Gimana tadi?" tanya Ratna penasaran
"Baik," jawab Jenna jujur. "Mama Arga baik. Kita sempat ngobrol walaupun cuma sebentar."
Ratna mengangguk. “Papa Arga?”
Jenna diam sesaat, lalu menjawab singkat,
"Biasa aja."
Ratna paham. Ia tidak bertanya lebih jauh.
Arga akhirnya angkat bicara.
"Maaf, Tante. Saya nggak lama. Saya cuma nganter Jenna pulang."
"Terima kasih, Arga," ujar Ratna tulus.
"Hati-hati di jalan."
Arga mengangguk, lalu menoleh ke Jenna.
"Aku pulang dulu. Kalau capek, istirahat."
"Iya," balas Jenna.
Setelah Arga pergi, suasana rumah kembali sunyi. Jenna duduk di sofa, meletakkan tasnya, lalu menyandarkan punggung. Ratna duduk di sampingnya.
"Papa kamu baru aja keluar," ujar Ratna akhirnya.
Jenna menatap ke depan.
"Ke Laras lagi?"
Ratna tidak menjawab, tapi ekspresinya cukup jelas.
Jenna tersenyum kecil, pahit.
"Nggak apa-apa, Ma. Lagipula papa udah biasa ninggalin kita berdua demi si Laras-Laras itu."
Kalimat itu justru membuat Ratna semakin sesak.
"Kamu nggak seharusnya terbiasa sama hal kayak gini."
Jenna menoleh, tatapannya lembut. "Aku nggak berharap apa-apa lagi dari Papa. Jadi rasanya udah nggak sakit."
Ratna menggenggam tangan Jenna.
"Mama minta maaf."
"Bukan salah Mama," balas Jenna pelan.
Jenna menutup mata sejenak, lalu membuka lagi.
"Ma, aku mau ke kamar dulu."
Ratna mengangguk.
"Istirahatlah."
Jenna berjalan menuju kamarnya dengan langkah tenang. Di balik pintu yang tertutup, Ratna tetap duduk di ruang keluarga, menatap kosong ke arah pintu depan, tempat Bagas tadi pergi, dan entah kapan dia akan kembali.