Jenna melangkah keluar dari ruang ganti dan berjalan pelan mendekati Arga yang duduk di sofa, ia fokus pada ponsel di tangannya. Beberapa detik berlalu Arga menyadari kehadirannya. Ia mengangkat kepala dan seketika gerakannya terhenti.
Tatapan Arga tertahan pada Jenna.
Gaun putih yang dikenakan Jenna jatuh dengan anggun di tubuhnya. Desainnya sederhana, elegan, tanpa kesan berlebihan. Tidak berusaha mencuri perhatian, namun justru di sanalah letak pesonanya.
Arga terpaku selama beberapa detik. Ia sendiri tak yakin apa yang membuatnya terdiam, apakah karena Jenna memang secantik itu, atau karena ada hal lain yang belum sanggup ia beri nama.
"Gimana menurut kamu, Ga?" suara Jenna terdengar lembut, sedikit ragu, seolah mencari kepastian.
Arga tersentak. Ia berdehem kecil sebelum akhirnya menjawab,
"Ba---bagus." Jawaban singkat itu diiringi senyum tipis.
Jenna berdiri di hadapannya, menunggu lebih dari sekadar satu kata. Ia menurunkan pandangan sejenak, lalu kembali menatap Arga.
"Cuma bagus?" tanyanya pelan, bukan menggoda, lebih ke ingin memastikan.
Arga tersenyum kecil, lalu berdiri dari sofa. Ia melipat ponselnya dan menyimpannya ke saku, kini sepenuhnya memberi perhatian pada Jenna.
"Bagus banget," lanjutnya, kali ini tanpa ragu. "Dan cocok."
Jenna menghembuskan napas lega, meski wajahnya tetap menyimpan kehati-hatian. Ia memegang sedikit bagian kain di pinggangnya, seperti masih berusaha membiasakan diri dengan gaun itu.
Pramuniaga butik mendekat, senyum profesional terpasang di wajahnya.
"Gaunnya pas sekali di badannya, Mbak. Tinggal sedikit penyesuaian di bagian belakang kalau Mbak mau."
Jenna menoleh ke Arga.
"Kamu gimana?"
"Kita ikut saran mereka aja," jawab Arga.
Jenna mengangguk. Ia kembali berdiri di depan cermin besar. Pantulan dirinya terasa asing sekaligus nyata. Ini bukan sekadar gaun, melainkan penanda bahwa semuanya benar-benar berjalan maju.
Arga berdiri sedikit di belakangnya. Ia tidak menyentuh, hanya menatap lewat pantulan cermin.
"Kalau kamu berubah pikiran soal gaunnya, kamu bilang aja" ucapnya tenang.
"Enggak kok." Jenna menoleh lewat cermin. Kemudian tersenyum tipis.
"Aku mau yang ini."
Arga mengangguk tanpa ragu.
"Oke."
Pramuniaga itu mencatat ukuran dan detail yang dibutuhkan. Jenna kembali masuk ke ruang ganti untuk melepas gaun tersebut. Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan pakaian semula, wajahnya terlihat sedikit lebih santai. Arga segera bangkit.
Saat mereka berjalan menuju kasir, Jenna melirik Arga.
"Habis ini ke mana?"
Arga berpikir sejenak.
"Makan dulu. Kamu pasti lapar."
Jenna tidak menolak.
"Boleh."
Mereka keluar dari butik berdampingan. Tidak ada genggaman tangan, tapi langkah mereka seirama.
Kini mereka sudah masuk ke dalam mobil, Arga kembali mengambil alih kemudi. Begitu mesin dinyalakan, mobil melaju meninggalkan area butik. Jenna duduk tenang di kursi penumpang, menyandarkan punggungnya, sementara pandangannya tertuju pada jalanan yang perlahan dipenuhi kendaraan.
Arga memilih rute yang tidak terlalu ramai. Lalu lintas cukup padat, tapi masih bergerak. Lampu merah pertama membuat mobil berhenti. Arga menurunkan sedikit kaca jendela, membiarkan udara siang masuk.
"Kamu laper banget ya?" tanyanya sambil menatap ke depan.
"Lumayan," jawab Jenna singkat.
"Tempatnya nggak jauh. Sekitar lima belas menit dari sini."
Jenna mengangguk. Ia memandang keluar jendela, memperhatikan deretan toko, pejalan kaki, dan kendaraan yang saling mendahului. Kota terus berjalan seperti biasa, seolah tak peduli bahwa hidupnya sedang memasuki fase baru.
Lampu hijau menyala. Mobil kembali melaju.
Beberapa menit berlalu tanpa percakapan. Heningnya tidak terasa canggung. Arga fokus menyetir, sesekali mengubah jalur. Jenna merapikan tas di pangkuannya, lalu kembali menatap keluar.
"Gaunnya tadi, kamu keliatan beda," ucap Arga tiba-tiba.
"Beda gimana?"
"Cantik." jawabnya setelah berpikir sejenak.
Jenna hanya tersenyum tipis.
Tak lama mobil Arga berhenti lagi di lampu merah kedua. Seorang penjual tisu mendekat, tapi Arga menggeleng halus. Jenna memperhatikan dari balik kaca, lalu menarik napas kecil.
"Kasian ya mereka."
"Siapa?"
"Orang-orang itu." Jenna menunjuk ke arah luar. Ada penjual air mineral, ada badut, ada pengamen dan ada anak kecil yang dibawa ibunya untuk berpanas-panasan untuk mendapatkan uang
"Mereka nggak punya pilihan selain hidup begitu. Makanya sesekali kita harus bersyukur karena setidaknya kehidupan kita tidak sesulit mereka." Kita Arga
Kini pandangan Arga beralih pada manusia silver. Tubuhnya dipenuhi cat yang pastinya membuat kulit mereka tidak sehat.
"Coba lihat mereka, saat mereka sakit, mereka punya banyak kesulitan untuk berobat. Jangankan untuk berobat, sekadar istirahat yang nyaman mereka nggak punya" Kata Arga dengan suara pelan.
"Sementara kita masih bisa tinggal di rumah yang nyaman, ada AC dan kita bisa pakai mobil ke mana pun kita mau. Meski kita harus menghadapi orang-orang licik yang mementingkan kekuasaan."
Jenna kembali diam, karena apa yang Arga katakan juga ada benarnya. Setidaknya dia masih beruntung. Saat mamanya jatuh sakit, mamanya itu masih bisa mendapatkan pengobatan terbaik di rumah sakit.
Lampu hijau menyala. Arga menginjak pedal gas dengan halus.
Lima belas menit terasa cepat. Jalanan mulai lebih lengang saat mereka memasuki kawasan yang lebih tenang. Pepohonan di sisi jalan memberi sedikit bayangan, menurunkan panas yang sejak tadi menyelimuti.
Arga memarkir mobil di depan sebuah rumah makan yang tidak terlalu besar, tapi terlihat nyaman.
"Kita sampai."
Jenna mengangkat wajahnya, menatap tempat itu sekilas.
"Oke."
Arga mematikan mesin mereka sama-sama turun dari mobil. Arga lebih dulu melangkah, lalu berhenti sejenak untuk memastikan Jenna mengikutinya.
Rumah makan itu tidak terlalu besar, tapi tertata rapi dan tenang. Dari luar, terlihat beberapa meja terisi pelanggan, suasananya memang tidak terlalu ramai tapi setidaknya tetap ada pembeli.
Begitu mereka sampai di dalam rumah makan itu, aroma masakan langsung menyambut. Seorang pelayan menghampiri dan mempersilakan mereka duduk di meja dekat jendela. Arga menarik kursi untuk Jenna sebelum duduk di seberangnya.
"Kamu mau makan apa?" tanya Arga sambil membuka buku menu. Jenna ikut membuka menu, matanya menyusuri daftar tanpa benar-benar fokus.
"Apa aja. Yang nggak terlalu berat."
Arga menganggukkan kepala mendengar jawaban Jenna.
"Berarti nggak pedas?"
"Iya," jawab Jenna singkat, lalu tersenyum kecil.
Arga memesan dua menu dan minuman. Setelah pelayan pergi, hening kembali menyelimuti mereka. Namun kali ini heningnya terasa lebih ringan.
Jenna menatap keluar jendela. Di luar, kendaraan lalu-lalang pelan. Ia menyandarkan siku di meja, lalu menoleh ke Arga.
"Kamu sering makan di sini?"
"Kadang, sih." jawab Arga. "Kalau pengin tempat yang nggak penuh keributan."
"Pantes," gumam Jenna. "Tempatnya tenang."
Arga tertawa pelan
"Kayaknya kamu bakal suka tempat ini juga."
"Haha kayaknya iya deh."
Beberapa menit kemudian, minuman datang lebih dulu. Jenna menyesapnya pelan.
"Habis ini masih ada agenda lain?" tanyanya.
"Paling ketemu Mama sebentar," jawab Arga jujur.
"Kalau kamu capek, bisa aku tunda."
Jenna menggeleng cepat.
"Nggak apa-apa. Lagipula itu hal baik, kan? Jadi aku bisa mulai deket sama mama kamu."
Arga memperhatikannya beberapa detik.
"Kamu yakin?"
"Iya."
Makanan akhirnya dihidangkan. Jenna mulai makan perlahan. Rasanya cukup pas, membuat perutnya yang sejak pagi kosong terasa hangat. Arga makan dengan tenang, sesekali melirik Jenna memastikan ia baik-baik saja.
"Enak, kan?"
"Banget."
Mereka melanjutkan makan tanpa banyak bicara. Tidak ada topik berat, tidak ada pembahasan tentang pertunangan. Hanya dua orang yang berbagi waktu makan siang sederhana.
Saat piring mulai kosong, Jenna menghela napas pelan.
"Makasih ya," katanya tiba-tiba.
Arga mengangkat wajahnya.
"Buat?"
"Hari ini, kamu udah beberapa kali bikin aku sadar akan satu hal sederhana."
Arga tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya
"Sama-sama."
Di luar, siang terus berjalan. Dan untuk sesaat, Jenna merasa ia masih punya ruang bernapas sebelum melangkah ke hari-hari berikutnya.