Interior toko perhiasan dipenuhi cahaya keemasan. Etalase kaca berjejer rapi, memamerkan cincin-cincin dengan berbagai desain yang berkilau lembut. Seorang pramuniaga wanita mendekat dengan senyum profesional.
"Selamat siang. Silakan, ada yang bisa kamu bantu?"
Arga mengangguk sopan.
"Kami mau lihat cincin pertunangan."
"Baik, Pak. Silakan ikut saya."
Mereka diarahkan ke bagian khusus. Pramuniaga itu membuka satu persatu etalase, menata beberapa cincin di atas hanyalah beludru hitam. Kilau berlian langsung memantul di mata Jenn, membuatnya sedikit silau.
"Ini adalah koleksi terbaru kami. Desainnya simple tapi elegan," jelas sang pramuniaga
Jenna menunduk memperhatikan cincin-cincin itu tanpa menyentuhnya. Tangannya justru saling menggenggam seakan benar-benar ragu untuk memilih.
Arga menyadari itu. Perlahan ia mengambil satu cincin dengan desain sederhana. Lingkar emas putih dengan satu berlian kecil di tengahnya.
"Yang ini gimana?"
Jenn menatap cincin itu cukup lama.
"Bagus, sih. Tapi...., kayaknya terlalu mencolok buat aku."
Arga mengangguk tanpa protes. Ia mengembalikan cincin itu, kemudian menunjuk model lain yang lebih tipis, tanpa hiasan yang berlebihan.
"Kalau ini?"
Jenna mendekat. Kali ini ia mengulurkan tangan dan membiarkan pramuniaga itu membantu memasangkan cincin di jari manisnya.
Jenna memandang pantulan jarinya di kaca. Cincin itu sederhana, nyaris tanpa kilau yang berlebihan. Jenna merasa ini pas untuk dia pakai.
"Ini bagus," ucapnya lirih
Arga memperhatikan ekspresi Jenna, bukan cincinnya, melainkan senyum kecil yang muncul di wajah Jenna.
"Kalau kamu suka, kita pilih yang ini."
Pramuniaga itu tersenyum.
"Cincinnya cocok sekali untuk, Mbak. Desain ini memang sering dipilih untuk yang ingin kesan klasik."
Jenna menarik napas dan mengembuskannya perlahan
"Kita ambil ini, ya."
"Iya, kita ambil yang ini."
Sambil pramuniaga mengurus pembayaran dan ukuran, Jenna duduk di kursi kecil dekat etalase. Arga pun ikut duduk di samping Jenna.
Selama beberapa detik mereka berdua sama-sama diam, sampai akhirnya Arga kembali bersuara.
"Kamu udah yakin, kan?"
Jenna menoleh ke samping
"Yakin tentang tentang cincin atau pertunangan?"
Arga tersenyum tipis,
"Dua-duanya."
Jenna tersenyum tipis sebelum akhirnya kembali menjawab
"Sebenarnya aku belum sepenuhnya siap. Tapi karena kamu, aku punya rasa percaya yang bikin aku untuk terus melangkah maju."
Arga hanya menganggukkan kepala mendengar jawaban Jenna.
Beberapa menit kemudian, pramuniaga itu kembali dengan kotak kecil berwarna gelap. Arga menerimanya, membuka sebentar untuk memastikan isinya, lalu menutupnya kembali.
"Terimakasih."
Setelah mengatakan itu Arga dan Jenna pun meninggalkan toko perhiasan itu.
Sesampainya di area parkir, Arga membukakan pintu untuk Jenna. Ia menunggu sampai Jenna duduk dengan nyaman, lalu menutup pintu itu dengan hati-hati. Setelahnya, Arga bergegas mengitari mobil, membuka pintu kemudi, dan ikut masuk ke dalam.
Mesin dinyalakan, suasana kembali hening sejenak.
"Sekarang kita ke butik dulu, ya," ujar Arga sambil memasang sabuk pengaman. "Buat ngukur gaun kamu."
"Iya..." jawab Jenna pelan.
Mobil melaju meninggalkan area parkir. Jenna bersandar pada jok, memandang keluar jendela. Pikirannya masih penuh, meski ia berusaha tidak menunjukkannya.
Tangan Jenna bertumpu di pangkuan, jemarinya saling mengait tanpa sadar.
Arga melirik ke arah Jenna sekilas.
"Kamu capek?"
Jenna menggelengkan kepalanya
"Enggak. Aku cuma belum kebayang aja gimana nanti setelah bertunangan kita."
"Wajar, kamu pasti masih kaget karena semuanya pasti kerasa mendadak."
Jenna menoleh ke samping,
"Tapi mau bagaimana pun kita harus sama-sama siap."
Jenna hanya bergumam pelan, apa yang Arga katakan benar adanya. Dia harus siap untuk melanjutkan permainan ini.
"Kalau nanti situasinya udah lebih baik dan aman buat kita, kita bakal cari jalan keluarnya untuk hidup kita masing-masing."
"Apa kita masih boleh punya harapan buat hidup kita?" tanya Jenna dengan suara lirih
"Kenapa enggak, Jen. Kamu punya harapan dan aku juga punya harapan untuk hidup aku." Kata Arga menegaskan
"Akan ada waktunya buat kamu dan aku bebas dari serangan ini. Kamu pasti punya tujuan, kamu pasti punya seseorang yang kamu simpan di hati kamu, kan?"
Jenna terdiam selama beberapa saat.
"Karena aku juga punya seseorang itu. Tapi untuk sekarang aku belum bisa bawa dia ke dalam hidup aku yang serumit ini."
"Hmm, kamu bener, Ar."
Suasana mobil kembali hening selama beberapa saat
"Oh iya. Untuk gaun, kamu punya bayangan sendiri nggak?"
"Belum," jawab Jenna jujur. "Aku nggak mau yang terlalu ramai."
"Berarti yang simpel, ya."
Jenna mengangguk.
"Yang penting aku bisa bergerak bebas."
Arga tertawa kecil. "Catatan penting."
Mobil Arga akhirnya berhenti di depan sebuah butik dengan desain minimalis. Kaca besar memperlihatkan beberapa gaun yang tertata rapi di dalam. Arga mematikan mesin, lalu menoleh pada Jenna.
"Yuk."
***
"Mas, sebentar lagi Jenna bakal bertunangan. Memangnya aku nggak boleh ikut ke sana?" tanya Laras dengan suara dibuat lembut, tapi nadanya menyimpan harap.
Bagas menoleh sebentar, lalu menggeleng pelan.
"Jangan, sayang. Di sana bakal ramai. Kamu pasti pusing. Nggak baik buat kandungan kamu."
Bibir Laras maju membentuk cemberut. Ia menyandarkan punggung ke sofa, mengusap perutnya pelan, gestur yang selalu berhasil melunakkan hati Bagas.
"Mas kan tau aku pengin lihat langsung," katanya lirih, nyaris seperti keluhan.
Bagas terdiam sejenak, lalu menghela napas. “
"Jangan begitu. Nanti, sebagai gantinya, aku kasih kamu hadiah."
Laras langsung mengangkat wajahnya.
"Hadiah apa?"
"Sebuah mobil. Tapi tunggu sampai pertunangan itu selesai dulu."
Mata Laras berbinar. Sebuah mobil? Dia tidak salah dengar, kan?
"Kamu serius?"
Bagas tersenyum tipis.
"Kapan aku bohong sama kamu?"
Laras mendekat, suaranya diturunkan lagi. “
"Atas nama aku, kan?"
"Iya, sayang. Sama seperti apartemen ini. Semuanya bakal aku buat atas nama kamu."
Senyum Laras mengembang sempurna. Bukan senyum malu atau terharu, melainkan senyum puas. Setiap kata Bagas terdengar seperti konfirmasi bahwa posisinya semakin aman, bahkan lebih dari yang ia bayangkan.
"Yaudah deh," ujarnya manja.
"Kalau gitu aku nggak apa-apa nggak datang."
Bagas mengusap rambut Laras singkat.
"Pinter. Yaudah, aku mau ke kamar dulu, mau istirahat. Aku capek."
"Iya, Mas..."
Begitu Bagas masuk ke kamar, Laras kembali duduk di sofa. Senyumnya belum juga hilang. Ia meraih ponsel, membuka galeri, lalu berhenti di foto apartemen mewah yang kini ia tinggali, semuanya atas namanya.
Mobil. Apartemen. Setelah ini aset kekayaan Bagas akan diberikan atas namanya dan juga calon anaknya.
Laras mengelus perutnya pelan, lalu tertawa kecil tanpa suara. Kehamilan ini bukan sekadar keadaan, melainkan kartu paling kuat yang ia miliki. Dan ia tahu betul bagaimana cara memainkannya.
Tak lama kemudian, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sudah ia simpan lama.
"Jadi kamu nggak datang?"
Laras membaca pesan itu sambil menyipitkan mata. Jarinya bergerak cepat membalas.
"Nggak. Mas Bagas nggak izinin. Katanya bahaya buat kandungan."
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan satu kalimat lagi.
"Tapi aku dapat hadiah."
Laras meletakkan ponsel kembali ke meja. Ia berdiri, berjalan ke arah jendela besar apartemen, memandangi kota dari ketinggian. Di luar sana, seseorang akan merayakan pertunangan. Di sisi lain, ia justru sedang mengumpulkan keuntungan.
"Pelan-pelan aja," gumam Laras pada dirinya sendiri.
"Yang penting, aku menang di akhir."
Senyum Laras semakin lebar. Lihat saja, dengan wajah polosnya, dia pasti bisa mengalahkan semuanya.